
Ketika Lee sampai di basemen perusahaan, ternyata Renata sudah ada di ruangannya. Wanita itu sudah membereskan meja dan siap bekerja. Namun, tiba-tiba Lee mendapatkan sebuah telepon urgent dari direktur perusahaan.
Bahwa perusahaan yang bekerja sama dengannya, memutus kontrak kerja yang sudah direncanakan bulan depan. Hal tersebut membuat Lee mau tidak mau harus terbang keluar kota.
"Zack, suruh dia siapkan semuanya. Hari ini juga aku akan berangkat ke luar kota!" kata Lee dengan langkah yang tergesa. Di saat mood-nya tidak baik, dia pun harus tetap profesional.
Karena dengan bekerja, dia bisa sedikit melupakan masalah yang menimpanya.
"Tuan, apa anda akan membawa Nona Renata?" Bukannya lekas mematuhi perintah Lee, Zack justru bertanya pada atasan sekaligus kakak sepupunya itu.
Membuat Lee tiba-tiba menghentikan langkah, dia memutar bola matanya, seolah jengah dengan pertanyaan yang dilontarkan Zack. Karena sampai sekarang pria itu masih saja tidak mengerti.
"Tentu saja, lalu siapa lagi yang mau aku bawa? Kamu? Ingatlah, di perusahaan juga butuh seseorang! Aku hanya percaya padamu untuk saat ini!" kata Lee dengan tegas.
Lantas tanpa menunggu jawaban Zack. Pria itu segera melangkah menuju lift petinggi perusahaan. Dan dengan terpaksa, Zack pun pasrah. Dia sebenarnya merasa bahwa Lee tidak suka dengan Renata, karena sikap wanita itu berbeda sekali ketika dengannya.
Dia takut jika Lee akan selalu berkata ketus pada wanita itu, meskipun Renata tidak membuat masalah.
"Selamat pagi, Tuan, Asisten Zack," sapa Renata sambil tersenyum ramah ketika melihat kedua pria itu masuk ke dalam ruangan. Lee hanya melirik sekilas, lalu melanjutkan langkah ke arah meja kebesarannya.
Sementara Zack langsung mendekati Renata, untuk memberitahu wanita itu, bahwa dia harus ikut Lee untuk melakukan perjalanan bisnis.
"Pagi, Nona Renata. Oh iya, revisi yang kemarin sudah kamu kerjakan?" tanya Zack terlebih dahulu, karena sekarang dia membutuhkan itu.
"Sudah, Asisten Zack," jawab Renata sambil mencari berkas yang diminta. Dia pun menyerahkannya pada Zack dengan cepat.
"Bagus. Nanti siang kamu bersiap-siap ya, karena hari ini kamu akan ikut dengan Tuan Lee ke luar kota. Ada perjalanan bisnis mendadak," ujar Zack, yang membuat mata Renata membulat sempurna.
Dia menunjuk dirinya sendiri. "Saya?"
"Iya, karena saya tidak akan mungkin meninggalkan perusahaan. Takut ada sesuatu yang terjadi di sini, dan tidak ada yang menghandle. Jadi, Tuan mengajakmu."
"Tapi—"
"Tidak ada tapi-tapian! Kalau kamu tidak bersedia, lebih baik kamu keluar dari perusahaan ini, saya butuh pekerja yang kompeten dan bertanggung jawab!" sambar Lee, membuat Renata ketar-ketir.
Jadi, untuk beberapa hari dia harus berduaan terus dengan Lee. Astaga, dengan membayangkannya saja rasanya dia tidak sanggup. Akan tetapi tunggu! Bukankah ini bagus? Kalau dia bisa membuat Lee nyaman dengannya, sudah barang tentu dia bisa semakin dekat dengan anak-anaknya.
Sepertinya dia harus mengubah strategi, ya, dia harus bersikap baik dan patuh pada Lee, agar pria itu percaya padanya bahwa dia adalah orang baik, dan tidak akan macam-macam pada kedua anaknya.
"Baik, Tuan. Saya akan patuhi semua kebijakan perusahaan. Maaf telah membantah," ujar Renata, akhirnya berusaha untuk mengalah.
"Kalau begitu bawa semua berkas itu padaku!" kata Lee dengan tegas. Tak ingin Renata terus menerus bergantung pada sang asisten.
Dengan tersenyum kikuk, Renata pun meminta kembali berkas yang ada di tangan Zack. Lalu melangkah ke arah Lee. Dia merasa bahwa Lee memang pria yang berbahaya, sekali marah mulutnya terasa sangat pedas, melewati cabe rawit seratus kilogram.
"Tuan, lalu bagaimana dengan pakaian saya?" tanya Renata ketika mereka ada dalam perjalanan.
"Nanti ku belikan kalau sudah sampai! Jangan merengek terus, lebih baik kamu pelajari proyek yang sedang kita kerjakan. Sore ini juga, kita akan bertemu klien!"
Mendengar itu, Renata langsung kicep. Karena Lee memang tipe pria yang suka seenaknya, dan tidak bisa dibantah. Hah, memang yah, pria seperti ini sangatlah menyebalkan. Sumpah demi apapun, Renata ingin menendang kaki Lee, hingga pria itu mengaduh kesakitan.
Di dalam mobil, Lee dan Renata duduk bersebelahan. Hingga Renata bisa melihat apa saja aktivitas bosnya, termasuk saat Lee mencoba menghubungi seseorang, yang ternyata Fenny—pengasuh baru kedua anak kembarnya.
"Halo, Daddy, Shasha dan Kak Gio sedang makan siang," sapa bocah cantik di seberang sana. Fenny sudah paham, jika sang tuan menelpon, itu artinya pria itu butuh bicara dengan anak-anaknya.
"Wah pintarnya anak Daddy. Good girl and good boy!" balas Lee dengan mimik wajah yang terlihat sangat berbeda. Tadi marah-marah, sekarang senyum-senyum. Renata sungguh takjub melihatnya.
"Daddy mau ke mana?" Kali ini Gio yang bertanya.
"Daddy sedang ingin pergi ke Bandara, Sayang. Karena Daddy ada pekerjaan di luar kota, Daddy izin ya, hanya 2 sampai 3 hari kok. Nanti pulang Daddy bawa hadiah untuk Gio dan Shasha," jelas Lee, seraya memberi pengertian kepada kedua anaknya.
"Apa Daddy bersama Uncle Zack?" tanya Shasha sambil mengunyah.
"Kali ini tidak, Sayang," jawab Lee, dia melirik ke arah Renata yang sedang menundukkan kepala. "Daddy bersama Kak Renata."
"Wah, Daddy bersama Kakak cantik? Apa dia ada di samping Daddy?"
Shasha terlihat sangat sumringah, hingga merebut ponsel dari tangan Fenny. Dengan terpaksa Lee pun mengangguk, melihat Shasha yang senang, dia pun ikut merasa bahagia.
"Bicaralah," kata Lee seraya menyerahkan ponselnya ke arah Renata, membuat wanita itu menoleh dan mengeryit.
"Bicara apa, Tuan?"
"Dengan kedua anakku," balas Lee dengan tatapan datar. Sungguh, Renata tak habis pikir kenapa mood pria yang ada di sampingnya bisa cepat sekali berubah.
Namun, kini fokus Renata bukan itu. Karena dia tidak mau menyia-nyiakan waktu dengan Gio dan Shasha, dia segera menyambar ponsel di tangan Lee, lalu menunjukkan wajahnya di layar.
"Halo, Nona Kecil, Tuan Kecil, kalian sedang apa?" tanya Renata dengan mata yang berbinar bahagia.
Dan kedua anak itu menimpalinya dengan antusias. Meskipun layar ponsel Lee, didominasi oleh wajah Shasha, tetapi Renata masih bisa mendengar suara Gio yang ikut-ikutan bicara.
Saking asyiknya mengobrol, tak terasa mobil sedan itu sudah sampai di Bandara. Renata pun pamit, karena mereka sudah harus pergi, "See you." Kata wanita cantik itu sambil melambaikan tangan.
Dan akhirnya panggilan pun terputus, namun detik itu juga Renata dibuat terperangah dengan layar kunci ponsel milik Lee. Dia tidak mungkin salah mengenali, tapi kenapa?
Bukankah itu tanganku?