
Di sisi lain Lee bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Dia tidak mengambil libur, karena hal itu hanya akan membuat pikirannya menjadi kacau. Sebab ketika sendiri dia hanya bisa menatap bayang-bayang Renata dan kedua anaknya.
Pria tampan itu memakai kemeja dan jas, tapi kali ini ia melupakan dasi yang biasanya melingkar rapih di lehernya.
Tidak ada senyum ataupun wajah cerah, Lee terus memasang tatapan datar, hingga ia keluar dari kamar.
Para pelayan yang melihat Lee menuruni anak tangga, sontak menunduk sopan. Salah satu dari mereka memberitahu Lee, bahwa sarapan sudah siap. Namun, lagi-lagi Lee menolak.
Dia menatap meja panjang itu dengan tatapan nanar. Biasanya setiap pagi dia akan melihat Gio dan Shasha duduk di sana. Shasha akan memanggilnya dengan manja, lalu dia memberikan kecupaan singkat sebagai ucapan selamat pagi.
Namun, sekarang mereka tidak ada. Pagi yang Lee lewati terasa berbeda, tanpa kehadiran dua bocah kesayangannya itu.
"Aku tidak bernafsuu. Habiskan saja untuk kalian," kata Lee, lalu dia segera melangkah keluar. Sementara Zack baru saja turun, melihat kakak sepupunya hendak pergi ke perusahaan, Zack pun mengekor dengan langkah tergesa.
"Kak, apa tidak sebaiknya kamu istirahat dulu?" tanya Zack saat ia berhasil mensejajarkan diri dengan Lee.
"Aku tidak butuh semua itu, Zack. Yang ku butuhkan sekarang hanya Alicia dan kedua anakku. Tapi, karena aku belum bisa bertemu mereka, aku memutuskan untuk pergi ke kantor," balas Lee tanpa menoleh.
Langkahnya semakin terasa lebar, hingga membuat Zack berlari kecil.
Zack segera membukakan pintu mobil, dan Lee langsung masuk ke dalam sana. Dia tidak memiliki waktu untuk sarapan, sebab dia tidak akan mungkin membiarkan sang kakak sepupu menyetir sendirian.
Selama di perjalanan, Lee terus terdiam sambil menatap keluar. Otaknya seolah kosong, hingga tak dapat bekerja dengan baik. Namun, ketika dua bola matanya melihat penjual bunga mawar. Dia sedikit mengulas senyum, lalu meminta Zack untuk berhenti.
"Stop, Zack!"
Zack mengerem secara mendadak, hingga membuat tubuhnya maju ke depan, tetapi beruntungnya dia memakai sabuk pengaman. Jadi, hal tersebut tak membuat kepalanya terbentur.
"Ada apa, Kak?" tanya Zack, tetapi ternyata Lee sudah membuka pintu dan melangkah keluar. Pria itu menyambangi toko bunga, lalu membeli beberapa ikat mawar merah.
Zack tentu masih ingat, bunga itu kesukaan siapa. Karena dia pernah diminta oleh Lee untuk membeli bunga tersebut.
Wajah Lee tampak lebih cerah. Dia kembali ke mobil, lalu memberi perintah pada Zack. "Buka bagasi!"
"Untuk apa, Kak? Berapa banyak yang kamu beli?" tanya Zack dengan kening yang berkerut.
"Tidak sampai membeli tokonya," kata Lee, lalu dia meminta penjual memindahkan bunga-bunga tersebut ke dalam bagasi mobil.
Setelah semuanya beres, Lee meminta Zack pergi ke apartemen Renata. Karena hari ini dan seterusnya, wanita itu tidak akan mungkin kembali lagi ke perusahaan.
"Cari sekretaris laki-laki saja," kata Lee tiba-tiba, membuat Zack melirik melalui kaca spion.
"Dia benar-benar tidak akan kembali?"
"Menurutmu?"
Zack terdiam, lalu menganggukkan kepala, dia akan menuruti perintah Lee untuk mencari sekretaris baru. Karena walau bagaimanapun, dia harus menjaga keseimbangan perusahaan.
Sampai di apartemen Renata.
Lee menitipkan semua bunga yang dia beli kepada security. Memberikan satu perhatian kecil, tentang apa saja yang disukai Renata. Lantas setelah itu, Lee langsung pergi ke perusahaan tanpa berniat untuk melihat Renata dan kedua anaknya. Dia masih ingin memberi waktu pada wanita itu, agar Renata bisa berpikir tentang ketulusannya.
***
"Ada apa yah?" tanya Fenny dengan sopan. Kedua alis wanita itu menyatu, ketika melihat banyak sekali bunga mawar merah di depannya.
"Ada kiriman bunga untuk Nyonya Renata. Ini dari Tuan Lee," jawab petugas keamanan.
"Ini semua dari Tuan Lee?" tanya Fenny dengan tatapan tak percaya.
"Iya, Nona."
Tiba-tiba senyum Fenny mengembang. Ternyata diam-diam sang tuan sangat romantis. Padahal selama dia bekerja, tidak pernah sekalipun melihat Lee bermesraan dengan Sofia. Yang ada hanya tatapan dingin dan sulit terbaca.
Ahhh bagaimana dengan pacarku? Dia juga romantis kan? Meskipun sedikit pemaksa?
Fenny hendak berbalik untuk mencari Renata. Akan tetapi wanita itu ternyata sedang berjalan ke arahnya bersama Gio dan Shasha.
"Ada apa, Fen?" tanya Renata.
"Itu, Nyonya, ada kiriman bunga dari Tuan Lee," jawab Fenny apa adanya. Entah kenapa dia ikut merasa senang, tetapi tidak dengan Renata.
Renata melangkah ke arah pintu, lalu melihat banyak sekali bunga kesukaannya. Dia yakin Lee sengaja melakukan ini semua untuk membuatnya luluh.
Dia ingin menolak, tetapi ada kedua anaknya, kalau dia melakukan itu, yang ada mereka akan bertanya-tanya.
Apalagi Shasha terlihat sangat antusias. Bocah cantik itu berlari, lalu berdiri di samping Renata dengan bola mata yang berbinar. "Wah, Daddy romantis sekali. Ayo, Pak, bawa masuk saja. Karena ini semua pasti bunga kesukaan Ibu."
Renata tergagap dan tak dapat berkomentar apa-apa. Akhirnya dia membiarkan beberapa petugas itu masuk untuk meletakkan bunga pemberian Lee.
Gio yang sedari tadi terdiam, kini melihat ke arah jam dinding. Lalu dia mendekati Renata sambil berkata. "Bu, ayo telepon Daddy, aku ingin bertanya Daddy sudah sarapan atau belum. Daddy sudah bekerja keras untuk aku dan Shasha, dia tidak boleh melupakan sarapannya."
"Benar, ayo, Bu, Shasha tidak mau kalau sampai Daddy sakit. Nanti Daddy tidak bisa menghasilkan uang untuk kita," timpal Shasha sambil tersenyum cerah, membuat Renata kian diliputi rasa yang entahlah.
Sebelum mengikuti kemauan kedua anaknya, Renata mengangguk kecil pada petugas yang sudah memindahkan bunga-bunga tersebut. "Terima kasih, Pak."
"Sama-sama, Nyonya."
Lantas setelah itu, Renata berbalik untuk menatap Gio dan Shasha. Kedua bocah itu membalasnya penuh harap, hingga dia tidak bisa untuk menolak.
Renata menyerah.
"Baiklah, Ibu akan menelpon Daddy, tapi kalian yang bicara yah ...," kata wanita itu.
Gio dan Shasha langsung mengangguk kompak. Dan dari sana seharusnya Renata sadar, bahwa selamanya dia akan terus terikat dengan pria bernama Lee. Rantai di antara mereka tidak akan pernah bisa terlepas, meski telah berkarat.
***
Hari Senin, sumbangin vote nya🤸🤸🤸