Hidden Mommy

Hidden Mommy
Bab 58. Ke Rumah Sakit



"Astaga, apakah aku ketiduran?" tanya Renata dengan tersentak, sebab ketika dia bangun semua orang sudah berangsur keluar, sementara film sudah habis.


"Kamu terlihat lelah, jadi aku membiarkanmu tidur," jawab Lee, yang membuat Renata mengepalkan tangannya. Bisa-bisanya dia tertidur di saat menonton film. Sedangkan Lee ada di sampingnya, pria itu tidak mungkin berbuat macam-macam padanya 'kan?


Memalukan! Batin Renata menjerit. Air mukanya tampak memerah, menahan malu. Membuat Gio dan Shasha senantiasa memperhatikan gelagat ibunya.


"Kakak Cantik, kenapa? Mau pipis juga yah?" tanya Shasha, membuat Renata yang terlihat cukup frutasi dengan kelakuannya sendiri, menjadi angkat kepala.


"Tidak-tidak, Nona. Saya hanya sedikit pusing, lebih baik kita langsung pulang saja. Kalian pasti lelah 'kan?" jawab Renata, mengalihkan pembicaraan agar Shasha tidak membahas mengenai dirinya.


"Benar, kita langsung pulang saja," timpal Lee.


"Tapi kami ada jadwal periksa gigi, Dad, jadi kami akan pergi ke rumah sakit dulu," sambar Gio, walaupun maksud dan tujuannya berbeda, dia tetap memberitahu sang ayah ke mana mereka akan pergi, sebelum pulang ke rumah.


"Oh, kalau begitu nanti Uncle Zack yang menemani kalian," kata Lee, yang membuat Fenny langsung menolak.


"Tidak, Tuan, saya dan anak-anak akan naik taksi. Lagi pula Tuan Zack pasti sibuk membantu anda."


"Siapa bilang? Ada Renata yang membantuku, jadi Zack bisa mengantar kalian lebih dulu," jelas Lee, dengan mimik wajahnya yang tegas, seolah tak memberikan tawar-menawar lagi. Karena sebenarnya Lee tidak mau Zack terlalu dekat dengan Renata.


Fenny langsung meneguk ludah. Entah kenapa dia jadi merasa tak enakan pada pria itu, karena selalu direpotkannya. Berbeda dengan Zack, yang berpikir bahwa Fenny tidak menyukai dirinya.


Apakah wanita ini diam-diam membenciku? Memangnya aku salah apa?


Setelah tak ada perdebatan, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Zack pun melandas ke jalan raya. Dia lebih dulu mengantar Lee dan Renata ke perusahaan, baru setelah itu ke rumah sakit.


Tiba di unit kesehatan itu, Gio dan Shasha langsung diperiksa. Namun, setelah selesai mereka tak lantas menemui Fenny dan Zack yang menunggu di luar.


"Aunty, bisakah kita meminta tolong?" ucap Gio, pada Regina yang sedari tadi menemani mereka di dalam ruangan.


Regina langsung mengangkat kedua alisnya. Tak biasanya Gio bertanya seperti itu. "Minta tolong apa, memangnya kalian memiliki masalah? Masalah itu hanya dimiliki orang dewasa tahu!"


"Ada, Aunty, tapi ini rahasia kita bertiga, jadi Aunty tidak boleh memberitahu Daddy ataupun yang lain," timpal Shasha, membuat Regina makin dibuat penasaran. Dia pun melirik ke arah dokter gigi yang baru saja memeriksa si kembar, lantas Regina memberi kode agar dokter itu keluar.


"Katakan ada apa sebenarnya?" tanya Regina sambil menatap dua bocah yang ada di hadapannya secara bergantian. Kini hanya ada mereka bertiga di ruangan itu.


"Kami ingin melakukan tes DNA," ucap Gio dengan gamblang.


Membuat Regina langsung membelalakkan kedua matanya. Dia sangat terkejut, apalagi kalimat itu keluar dari bocah berusia lima tahun.


"Yang benar saja, dari mana kalian tahu tentang tes DNA, dan untuk apa?" tanya Regina dengan nafas yang memburu.


Gio terdiam sesaat, dia menunduk menatap lantai, namun tak lama kemudian dia kembali mengangkat wajahnya. "Kami akan menjawabnya setelah hasil tes DNA ini keluar. Jadi, tolong Aunty rahasiakan ini semua yah, pleaseeeee!" ujar bocah tampan itu dengan raut memohon.


"Ya, Aunty, kami sudah bersusah payah untuk ini, jadi kami mohon tolong kami," timpal Shasha dengan raut wajah yang sama, bahkan kini tangan keduanya sudah mengatup di depan dada.


Membuat Regina perlahan-lahan luluh. Akhirnya dia mengambil sampel tes DNA itu dari tangan Gio. "Baiklah, aku akan membantu kalian. Tapi tepati janji itu setelah hasilnya keluar, oke?"


Mendengar itu, Gio dan Shasha langsung tersenyum sumringah. Mereka mengangguk kompak, lalu memeluk Regina sambil berkata. "Terima kasih banyak, Aunty Gina."


Tak lama kemudian, ketiga orang itu keluar dari ruang pemeriksaan, mereka menemui Fenny dan Zack yang sedari tadi dilanda kecanggungan.


Melihat anak asuhnya datang, Fenny pun langsung bernafas dengan lega. Sebab berduaan dengan Zack, hanya membuat kerja jantungnya menjadi tidak normal.


"Tuan Kecil dan Nona Shasha, sebaiknya kita langsung pulang," ucap Fenny, dia berdiri untuk meraih bahu Gio dan Shasha, lalu menunduk sopan pada Regina dan Zack. "Terima kasih sebelumnya, Dokter Gina, Tuan Zack. Kami pamit pulang dulu ya."


Tanpa menunggu jawaban, Fenny langsung membawa kedua anak asuhnya untuk membalik badan dan melangkah mencari taksi. Sementara Zack dibuat menganga, bukankah seharusnya dia mengantar sampai di rumah?


Zack ingin memanggil Fenny, tetapi tatapan Regina membuatnya urung. Hingga akhirnya dia hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Kamu ini kenapa, Zack?" tanya wanita itu.


"Ah, tidak. Aku tidak apa-apa, kalau begitu aku juga pamit," jawab Zack dengan sedikit tergagap. Untuk pertama kalinya dia tidak mengerti, kenapa dirinya dihindari seperti ini?


Apakah wajahku menyeramkan?


***


Hayo kembangnya mana? Udah kleziii ini😜