Hidden Mommy

Hidden Mommy
Bab 42. Masuk Perangkap



Satu hari rasa setahun, itulah yang dirasakan oleh Lee, sebab dia sudah tidak sabar menunggu hasil tes DNA yang ia lakukan untuk Renata dan kedua anak kembarnya.


Sejak Lee sampai di ruangannya, dia terus bergerak gelisah, seperti ada sesuatu yang mengganggunya. Dan hal tersebut tentu mengundang tanda tanya bagi dua orang yang ada di sekitarnya.


Beberapa kali Renata melirik ke arah Lee, dan terlihat sang atasan tengah mendesaahkan nafas seraya menyanggah dagunya. Entah sedang memikirkan apa, sebab Lee tampak tak mengerjakan apapun.


"Renata!" panggil Lee tiba-tiba, membuat wanita itu langsung gelagapan, karena merasa sangat terkejut.


"Ya, Tuan," balas Renata, langsung menguasai dirinya, agar tidak terlalu kentara bahwa sedari tadi dia kerap memerhatikan Lee dari balik mejanya.


Lee menggerakkan tangan, agar Renata mendekat. Patuh, wanita itu pun bangkit dan melangkah ke arah Lee, hingga dia berdiri tepat di sisi pria tampan itu. "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"


"Apa rencanamu minggu ini?" tanya Lee seraya menengadah.


"Maksudnya weekend nanti?"


"Hem."


"Saya ada mata kuliah, Tuan. Sebelumnya kan saya sudah bilang kalau setiap Sabtu dan Minggu saya ambil kelas karyawan," jelas Renata apa adanya.


Mendengar itu, Lee langsung manggut-manggut, padahal dia sudah memiliki rencana untuk mengajak Renata pergi berlibur bersama anak-anaknya.


"Hari Sabtu nanti aku mau mengajak Gio dan Shasha pergi berlibur. Seperti biasa Shasha memintamu untuk ikut, tapi sepertinya kamu tidak memiliki waktu ya, ya sudah," kata Lee, memancing Renata agar berpikir ulang.


Berhasil, ucapan Lee membuat Renata langsung terdiam. Wanita itu berpikir bahwa ini semua bentuk kesempatan untuknya. Kapan lagi dia bisa menemani anak-anaknya berlibur? Bukankah dengan hal tersebut, dia bisa semakin masuk dalam kehidupan Gio dan Shasha?


Lebih cepat lebih baik, ketika Gio dan Shasha sudah semakin dekat dengannya, maka dia akan dengan mudah membawa kedua bocah itu pergi jauh dari ayahnya.


Sementara di tempatnya, Lee menarik sudut bibirnya sedikit. Membentuk sebuah seringai yang tidak diketahui oleh siapapun.


"Nanti saya pikirkan lagi, Tuan. Mungkin mata kuliah saya bisa dialihkan ke jam malam."


"Kamu tidak keberatan? Bagaimana kalau tiba-tiba kamu kecapekan? Aku tidak akan memaksamu, kalau bisa ya bisa, tidak ya tidak. Aku akan memberi pengertian pada kedua anakku," ujar Lee seolah membebaskan Renata, padahal dia sedang menarik ulur, ingin melihat apakah Renata akan memprioritaskan waktu bersama anaknya atau tidak.


Dan jawabannya. "Saya tidak keberatan, Tuan. Lagi pula liburannya tidak jauh 'kan?"


"Ke sebuah pulau, kita akan naik pesawat."


Mendengar itu, Renata tentu langsung mendelikkan matanya. "Ke—ke pulau? Maksudnya? Kita akan pergi jauh?"


"Hanya luar kota, kita pergi hari Sabtu, malam Senin kita sudah ada di ibu kota. Kalau kamu bersedia nanti aku akan mengurus keperluanmu juga. Termasuk surat izin untuk dosenmu," terang Lee memberikan penawaran yang membuat Renata semakin bimbang.


Wanita itu menghela nafas panjang. Pengorbanannya untuk sampai di sini tidaklah mudah, jadi dia tidak boleh menyia-nyiakan apa yang di depan matanya. Terlebih ada Sofia, dia tidak mau wanita itu mengacaukan liburan kedua anaknya.


Ya, Renata berpikir jika ada Sofia juga di sana.


"Kalau begitu saya akan ikut, Tuan. Saya bisa kuliah malam ini, agar tidak tertinggal materi, dengan begitu weekend nanti saya bisa liburan dengan Tuan Kecil dan Nona Shasha," ujar Renata, mulai masuk dalam perangkap Lee. Renata tidak tahu jika ini semua hanya akal-akalan pria itu.


Di dalam hati Lee menyeringai penuh.


Tidak salah lagi, kamu memang benar-benar Alice!


***


"Saya akan naik bus, Tuan. Jadi, sebaiknya anda langsung pulang saja."


"Zack akan mengantarmu. Kamu bilang tinggal di dekat sini," kata Lee. Renata sebenarnya merasa aneh, tetapi melihat raut wajah Lee yang tidak pernah berubah ketika berbicara dengannya, membuat dia sadar, bahwa ini semua hanyalah bentuk tumpangan semata. "Segeralah naik, aku akan mulai mengukur jarak perusahaan ke tempat tinggalmu. Supaya aku bisa memikirkan kendaraan inventaris seperti apa yang harus aku berikan padamu."


Oh!


Satu kata itu langsung tercetus di dalam batin Renata. Ternyata hanya untuk itu?


"Baik, Tuan."


Renata langsung masuk ke dalam mobil, tetapi dia justru duduk di samping kursi kemudi, yakni di sebelah Zack. Lee ingin memprotes, tetapi rasanya akan jadi terlihat aneh. Akhirnya dia memilih diam, dan terus seperti itu hingga mereka sampai di apartemen Renata.


Lee menelisik gedung pencakar langit itu, dia ingat betul bahwa Regina pun tinggal di sekitar sini. Dia melirik ke arah Renata, kemudian tersemat senyum licik di bibir pria tampan itu.


Baiklah, aku bisa menggunakan Regina untuk alasan selanjutnya.


"Tuan, terima kasih atas tumpangannya," ucap Renata sebelum turun.


"Hem," balas Lee dengan suara datar.


Lantas setelah itu, Renata benar-benar menghilang dari hadapan Lee. Sementara mobil yang dikendarai Zack, kembali melaju membelah jalan raya.


"Zack, berikan dia satu mobil yang paling terbaru, bila perlu yang saat ini sedang launching!" kata Lee setelah beberapa saat mereka saling bungkam. Dan tentunya hal tersebut membuat kening Zack mengeryit.


"Bukankah yang terbaru itu harganya sangat mahal, Kak?"


"Aku tidak peduli, berikan saja."


Lee melipat kedua tangannya di depan dada seraya menyandarkan punggungnya. Dia tidak mau tahu, apa yang ada di pikiran Zack, yang jelas dia ingin memberikan yang terbaik untuk Renata.


***


Sepulangnya dari perusahaan, Lee tidak langsung masuk ke dalam kamarnya. Dia justru mencari keberadaan Sofia, yang kebetulan ada di taman belakang.


"Aku butuh bicara denganmu. Ikuti aku!" kata Lee, selalu menggunakan tatapan yang sama. Sedikitpun ego di dalam dirinya tidak pernah mencair untuk meladeni Sofia.


"Bicara tentang apa, Lee?" tanya Sofia, tetapi Lee justru melangkah cepat, menuju ruang kerjanya. Mau tidak mau Sofia pun mengekor, dia meninggalkan pekerjaannya yang sedang merawat bunga-bunga, untuk ikut masuk ke dalam ruang kerja suaminya.


Jantung Sofia berdebar keras, apalagi saat dia sukses menutup pintu. Karena tiba-tiba Lee melemparkan amplop coklat ke atas meja. Membuat dia bertanya-tanya, apa maksud ini semua?


"Lee, itu apa?" tanya Sofia dengan penuh hati-hati.


"Baca saja!" kata Lee dengan santai, seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam celana.


Pelan, Sofia meraih amplop tersebut. Dan jelas tertera di bagian depan surat, ada kata 'pengadilan' dada Sofia langsung bergemuruh. Dengan tangan yang gemetar, dia membuka dan mulai membaca.


"Surat cerai?"


"YA!"