
"Daddy, aku ingin pipis," ucap Shasha tiba-tiba, membuat Lee langsung mengalihkan pandangannya dari Renata.
"Ya, Sayang?" jawab pria itu, karena dia tidak terlalu mendengar ucapan putri kecilnya.
"Aku ingin pipis, Dad. Sepertinya aku terlalu banyak minum cola, jadi perutku kembung," ujar Shasha lagi, dan langsung ditimpali oleh Gio.
"Iya aku juga."
"Kalau begitu biar saya antar. Kita keluar dulu cari toilet," sambar Renata, ini kesempatan untuknya agar bisa pergi dari hadapan Lee, barang sebentar.
Namun, Gio dan Shasha langsung kompak menolak. "Jangan!" seru keduanya. Mereka berdiri lalu mencari sosok Fenny, dalam kegelapan mereka sedikit kesulitan, tetapi untungnya jarak Fenny dan Zack, hanya berkisar satu baris.
"Biar kami ajak Nanny saja," ujar Gio, lalu melambai ke arah sang pengasuh yang terlihat kebingungan.
"Tapi, Tuan Kecil—" Belum sempat Renata menyelesaikan kalimatnya. Gio dan Shasha sudah berlalu dari hadapannya. Sementara Lee mulai merasa curiga dengan gerak-gerik kedua anaknya. Mereka seperti sedang memberi ruang untuk dia, agar mendekati Renata.
Namun, bukankah itu ide yang bagus?
"Sudahlah, biarkan mereka dengan Nanny-nya. Kamu nikmati saja film ini," ucap Lee. Dia tahu Renata sedari tadi ingin menghindarinya.
"Apakah anda juga menikmatinya?" tanya Renata seraya melirik, untuk melihat ekspresi wajah Lee. Sama halnya dengan Renata, Lee pun ikut menggerakan ekor matanya, hingga kini mereka saling tatap.
"Sangat, karena anak-anakku terlihat bahagia, aku pun jadi ikut bahagia," jawab pria itu, yang membuat Renata jadi membeku.
Di luar gedung bioskop.
"Nanny, kita ingin pergi ke toilet," ujar Gio. Membuat pandangan Fenny langsung mengarah pada beberapa orang yang sedang mengantri untuk buang air.
"Jangan di sana, itu banyak orang, lebih baik kita cari toilet lain saja!" timpal Shasha mencari alasan. Padahal dia hanya ingin membuat waktu Lee dan Renata menjadi lebih banyak.
"Apakah kalian masih bisa menahannya?" tanya Fenny, dan kedua bocah itu langsung menganggukkan kepala. Sebab itu semua hanya kebohongan semata.
Fenny menghela nafas panjang, dan akhirnya menuruti kemauan si kembar. Mereka berputar-putar di mall untuk mencari toilet, padahal sedari tadi Gio sudah melihatnya, tetapi dia malah terus berjalan, membuat Fenny mau tidak mau mengekor.
"Tuan, Nona! Sebenarnya di mana toiletnya? Kalian bilang tahu, tapi sedari tadi kita hanya berputar-putar tidak tentu arah!" protes Fenny, merasa dikerjai oleh anak asuhnya.
Dua bocah itu pun menghentikan langkah. Mereka saling melempar senyum, lalu menoleh ke arah Fenny.
Namun, hal tersebut tak ditanggapi serius oleh Fenny, dia mengerutkan keningnya, lalu segera meraih tangan Gio dan Shasha. "Tidak ada belanja-belanja! Kalian mau dimarahi Daddy? Hem?"
Tanpa menunggu jawaban Fenny langsung menarik tangan keduanya, karena dia sudah melihat toilet yang sedari tadi mereka cari.
"Daddy tidak akan marah hanya karena kita berbelanja, Nanny," ujar Shasha, bocah cantik itu berjalan tergesa, untuk mensejajarkan langkah. Sementara tangan yang satu terus terkepal, karena dia sedang menggenggam sesuatu yang sangat penting.
"No, Nona Kecil! Memangnya kalian bawa uang?"
"Haha, tidaklah. Memangnya Nanny tidak tahu kalau pemerintah menyiapkan tabungan berupa kartu yang bisa dibawa ke mana-mana? Itu lebih mudah, aku dan Shasha memilikinya," sambar Gio, hari ini entah kenapa dia jadi banyak bicara. Padahal sebelumnya dia adalah jelmaan es di kutub utara.
Fenny langsung mendelik.
"Sejak kapan?"
"Tentu saja sebelum Nanny bekerja pada keluarga kami."
Mendengar itu, Fenny tampak tercengang, hingga dia melepaskan pegangan tangannya pada Gio dan Shasha. Sementara dua bocah itu langsung berlari untuk masuk ke dalam toilet.
Secepat kilat Gio mengeluarkan plastik klip yang sebelumnya sudah dia siapkan, lalu menyuruh Shasha menyimpan rambut Renata ke dalam plastik tersebut.
"Setelah ini kita harus pergi ke rumah sakit untuk menemui Aunty Gina," ucap Gio, dan tepat pada saat itu Fenny yang sudah sadar dari lamunannya, tiba-tiba ada di hadapan mereka.
"Untuk apa kita pergi ke rumah sakit, Tuan Kecil?" tanyanya.
"Apa Nanny tidak ingat? Kita juga harus periksa gigi."
"Benarkah?" tanya Fenny, seingatnya periksa gigi bukan di tanggal ini. Apakah dia salah lihat?
"Nanny, jangan banyak melamun, Shasha sudah tidak tahan ingin pipis," seru Shasha, membuat Fenny lagi-lagi terlihat seperti orang bodoh.
"Ah iya, Nona."
Akhirnya Fenny pun mengajak Shasha untuk masuk ke salah satu pintu toilet. Sementara Gio menunggu di luar. Pria kecil itu tersenyum smirk, merasa bahwa rencananya akan berhasil.