Hidden Mommy

Hidden Mommy
Bab 94. Berisik Sekali



Zack dan Fenny kembali ke rumah sakit setelah keduanya makan malam bersama. Sedari tadi Fenny terus mengulum senyum, karena merasa senang mendapatkan perhatian lebih dari kekasihnya.


"Nanti kamu tidur di mana, Kak?" tanya Fenny saat mereka masih ada dalam perjalanan. Dia berpikir akan menemani Renata di ruangan Lee, jadi dia bertanya seperti itu.


"Aku bisa menginap di hotel samping rumah sakit. Dan kamu ikut denganku," jawab Zack yang membuat Fenny langsung membulatkan kedua matanya.


"Tidur berdua?" ulangnya dengan mengangkat jari telunjuk dan jari tengah. Dan Zack langsung mengangguk, dia tahu pasti Fenny sedang berpikir macam-macam.


"Hanya tidur. Aku tidak akan melakukan apapun. Kita harus membiarkan keempat orang itu memiliki waktu bersama, supaya mereka terbiasa," ujar Zack, dia pun memiliki misi dan harapan supaya Lee bisa kembali dengan Renata.


"Benar hanya tidur?" selidik Fenny, dan Zack langsung terkekeh sambil mengacak rambut wanita itu.


"Benar, Sayang."


Mendengar panggilan yang keluar dari mulut Zack, tentu membuat Fenny langsung senyum-senyum tidak jelas. Dia pun menutup wajahnya dengan kedua tangan, agar Zack tidak melihat kemerahan di pipinya.


"Kamu terlihat senang sekali yah."


"Tentu saja, tidak ada yang memanggilku seperti itu sebelumnya. Aku kan tidak pernah pacaran."


"Berarti aku benar-benar yang pertama untukmu?" tanya Zack, dan Fenny langsung menganggukkan kepala.


Wanita itu terus tersenyum sepanjang perjalanan, tetapi dia tiba-tiba teringat kembali dengan hubungan Lee dan Renata.


"Tapi, Kak. Sepertinya Nyonya sangat membenci Tuan Lee," keluh Fenny dengan wajah yang terlihat lesu. Karena raut wajah Renata selalu berubah ketika membahas ayah si kembar.


"Dia tidak benar-benar membenci Kak Lee, aku yakin sebenarnya dia hanya kecewa dengan kesalahpahaman di antara mereka. Dan kesalahpahaman itu aku yang membuatnya. Aku benar-benar merasa bersalah. Aku harap, mereka bisa segera kembali bersama," jelas Zack pada Fenny. Kini dia mulai banyak bercerita tentang kehidupannya pada wanita itu.


Fenny tersenyum penuh prihatin. Dia mengusap lengan atas Zack dengan lembut. "Aku yakin Kakak bisa melakukannya. Aku akan membantumu."


Mendapatkan perlakuan seperti itu dari sosok pujaan hatinya. Zack pun merasa senang, kini dia seperti memiliki ketenangan selain keluarga. Zack meraih tangan Fenny, lalu mengecupnya singkat. "Aku harap, kelak kamu tidak akan pernah meninggalkan aku. Sekalipun ada kesalahpahaman di antara kita. Aku mohon, tunggu aku menjelaskannya."


Fenny pun mengangguk patuh. Dia mulai merasakan sisi lain dari pria yang ada di sampingnya. Ternyata Zack memang benar-benar pria lembut.


Dan ia yakin, Lee pun seperti itu. Walaupun terlihat seperti pria berhati dingin, tetapi pria itu sangat menyayangi keluarga kecilnya.


***


Zack dan Fenny masuk ke dalam ruangan Lee sambil membawa barang-barang yang dibutuhkan. Dan ternyata si kembar sedang asyik menonton TV bersama ayahnya. Sementara Renata sedang mengupas buah, cemilan sehat ketika dia lapar di malam hari.


"Twins, Uncle membawa baju ganti untuk kalian," kata Zack, tetapi sepertinya kedua bocah itu tidak tertarik sedikitpun.


Zack mencebikkan bibir, lalu ikut menatap apa yang sedang mereka tonton. Dia kira ayah dan dua anak itu sedang menonton kartun, ternyata bukan.


"Apakah kalian ingin mengikuti ajang pencarian bakat itu?" cetus Zack, dan kali ini Lee yang menoleh.


"Kami hanya suka melihatnya. Kenapa kamu berisik sekali, Zack?"


"Haish, aku baru bertanya satu kali!" ketus pria itu, membuat Renata menyunggingkan senyum sambil geleng-geleng kepala. Dan Fenny bisa melihat itu, karena dia sedang ikut membantu untuk membereskan barang-barang milik anak asuhnya.


Menyadari kehadiran Fenny, Renata pun mengangkat wajah. Dia mendekat dengan apel yang ada di tangan. "Fen!" panggil Renata berbisik.


"Ah iya, Nyonya?" jawab Fenny.


"Fen, aku penasaran. Kenapa tadi sore Zack memegang tanganmu. Apakah kalian memiliki hubungan?" tanya Renata dengan rasa penasaran yang membuncang. Sebab selama ini dia tidak tahu jika keduanya dekat.


Ditanya seperti itu, tentu membuat Fenny gelagapan. Karena hubungan mereka belum banyak yang tahu.


"Fen, jawab dong!" cecar Renata. Yang akhirnya membuat Fenny menganggukkan kepala sambil menyelipkan anak rambut ke belakang telinga.


Wajah Renata langsung berubah sumringah. Entah kenapa dia merasa sangat senang mendengarnya. "Sungguh? Astaga, Fen. Kenapa tidak memberitahuku?"


"Maaf, Nyonya." Fenny menunduk karena malu.


"Kenapa harus minta maaf? Sejak kapan kalian berpacaran?"


Renata menjadi sibuk bertanya mengenai hubungan Zack dan Fenny. Membuat wanita itu terus menelan ludahnya susah payah.


Ternyata Nyonya Renata juga cerewet seperti Nona Shasha. Sekarang aku tahu gen itu menurun dari mana. Batin Fenny.


"Kalau begitu kamu jangan panggil aku nyonya. Kan kamu pacarnya Zack, kita masih Keluarga," ujar Renata, namun, Fenny justru mengerutkan dahinya.


"Tapi, Nyonya."


"Tapi apa? Zack itukan—" Renata langsung memutus ucapannya. Dia lupa meskipun Zack adalah sepupu Lee, tetapi kini hubungan dia dengan ayah si kembar masih menjadi abu-abu.


"Karena Kak Zack adalah sepupu Tuan Lee?" Fenny balik bertanya. Namun, Renata tetap bergeming.


Kenapa aku malah bersikap seolah-olah keluarga kami baik-baik saja?