
Pagi hari.
Sejak malam itu pikiran Renata semakin bercabang. Apa maksud Lee mencarinya? Untuk apa? Padahal lima tahun lalu pria itu mencampakkannya begitu saja setelah melahirkan si kembar.
Lantas apa rencana Lee sekarang? Apakah pria itu ingin menyiksanya sekali lagi? Sumpah demi apapun, dia tidak akan mau. Akan tetapi bagaimana dengan Gio dan Shasha?
Dua bocah itu butuh sosok dirinya. Apakah mereka sanggup jika hidup terpisah? Karena dia tidak akan mungkin bersedia jika harus kembali dengan Lee. Dia sudah terlanjur sakit hati.
"Ya Tuhan ... aku harus bagaimana? Aku bingung sekali sekarang. Melangkah ke mana pun rasanya serba salah, aku seperti tidak memiliki pijakan," batin Renata dengan perasaan gamang.
Dia teramat terluka mendengar curhatan putranya. Hingga kini dia merasa tak berdaya. Sejak ia bangun tidur, yang ia lakukan hanyalah terus melamun, tak tahu harus bersikap seperti apa.
Sampai kini dia dikejutkan oleh tangan besar nan hangat yang menyentuh bahunya. Renata merasa tersentak dan reflek menoleh, hingga dia bisa melihat Lee yang sudah rapih dengan setelan kasualnya.
"Kamu tidak ingin bersiap-siap?" tanya Lee dengan nada bicara yang terdengar pelan. Renata terdiam sesaat, dan membuat Lee sadar, Lee langsung menarik tangannya dari bahu sang wanita.
"Ya, sebentar lagi, Tuan. Lagi pula Nona Shasha dan Tuan Kecil masih mandi," jawab Renata, berusaha untuk menyembunyikan kebingungannya. Padahal semalam Lee sudah mendengar pembicaraan antara Gio dan Renata.
Akan tetapi kedua orang itu tidak sadar. Lee curiga, kalau ternyata Gio dan Shasha sudah mengetahui bahwa Renata adalah ibu mereka. Karena itu semua terbukti dari sikap anak-anaknya yang tidak biasa.
"Baiklah kalau begitu, aku akan menyiapkan sarapan untuk kalian. Kalau sudah ajak anak-anak untuk ke meja makan," ucap Lee dengan uluman senyum tipis. Sekilas Renata melihat Lee adalah pria yang baik, namun mengingat semuanya, batin Renata masih sakit.
Renata hanya menganggukkan kepala. Lantas tak berapa lama kemudian, Gio dan Shasha sudah berhasil membersihkan tubuh mereka masing-masing.
"Nona Shasha, Tuan Kecil. Baju kalian sudah saya siapkan, mari saya bantu untuk memakainya," ujar Renata seraya mendekati Shasha. Sementara Gio hanya mengambil pakaian dan kembali ke kamar mandi.
"Aku akan memakainya sendiri. Tidak keren kalau seorang pria masih manja," ucap pria kecil itu sebelum menghilang dari pandangan Shasha dan Renata.
"Cih, dia memang suka narsis!" cibir Shasha, tak sadar bagaimana sifatnya. Padahal dia jauh lebih narsis dari pada sang kakak.
Namun, tiba-tiba Shasha menahan tangan Renata. "Ibu!" panggilnya, membuat Renata langsung tertegun. Tubuh wanita itu terasa kaku, dengan perasaan yang tak karuan. Untuk pertama kalinya, sang anak memanggil dia seperti itu.
Bibir Renata bergetar dengan bola mata yang berkaca-kaca, nyaris tak terbendung. Akan tetapi dia segera menguasai dirinya dengan mendongak, hingga cairan bening itu masuk kembali ke dalam matanya.
"Nona Shasha, apa maksudnya?" tanya Renata pura-pura tak paham, padahal dalam hati dia benar-benar merasa sangat senang. Dia ingin dipanggil seperti itu, selamanya.
"Kak Gio bilang selama Ibu belum ditemukan, kami boleh memanggil Kakak Cantik dengan sebutan seperti itu. Jadi, mulai saat ini, aku akan melakukannya," ucap Shasha dengan binar mata polos, yang membuat ludah Renata terasa tercekat di tengah tenggorokan.
Renata sedikit membungkukkan badan, lalu mengelus pipi Shasha dengan sayang. "Yah, kalian boleh memanggil saya seperti itu. Tapi jangan sampai Daddy tahu, jadi ini rahasia kita bertiga."
"Kenapa?"
"Saya takut Tuan salah paham."
"Baiklah, kami akan merahasiakannya dari Daddy," ujar Shasha sambil tersenyum cerah. Sebuah lengkungan yang membuat Renata ikut tersenyum pula.
Renata mengacungkan jari keliling. "Janji?"
Dengan senang hati Shasha mengaitkan jari kecilnya. "Janji. Aku senang Kakak cantik menjadi ibu kami."
Aliran darah Renata langsung memanas, hingga sekujur tubuhnya seperti tersengat mendengar kalimat manis itu. Dengan perasaan yang tak terbendung, Renata memeluk tubuh Shasha dan memberikan kecupan singkat di kening gadis kecil itu.
"Mulai sekarang saya ibumu."
Diam-diam ada yang tersenyum melihat pemandangan itu, siapa lagi kalau bukan Gio yang sedari tadi bersembunyi di balik dinding. "Aku yakin, rencana ini akan berhasil. Ibu dan Daddy pasti bersatu. Dan kami tidak akan berpisah lagi."