
Karena Lee menyuruh Zack untuk tidak kembali ke perusahaan. Akhirnya dia menggunakan kesempatan itu untuk pulang bersama Renata.
Setelah meladeni Sofia yang masih terus mengusik kehidupannya. Lee turun ke basemen, dan menemui Renata yang kini sudah berdiri di sisi mobil.
"Maaf membuatmu menunggu lama," kata Lee saat dia baru saja tiba. Renata mengulas senyum sedikit sambil membungkukkan badan.
"Tidak masalah, Tuan, tapi bukankah sebaiknya anda pulang dengan Nyonya Sofia?" tanya Renata, karena dia tidak tahu kalau keduanya telah bercerai.
Mendengar itu, Lee menyunggingkan senyum. "Kenapa aku harus pulang dengannya? Bukankah kita sudah sepakat untuk pulang bersama?"
"Tentu saja karena Nyonya Sofia istri anda."
Lee tak lekas menimpali ucapan Renata, dia malah mengulurkan tangan untuk meminta kunci mobil. Sehingga mau tak mau, Renata pun menyerahkan benda tersebut pada bosnya.
Melihat kepasrahan Renata, lagi-lagi Lee mengulum senyum. Dia membuka mobil sambil berkata. "Itu dulu!"
Renata langsung mengangkat kepalanya, memastikan kalimat itu benar atau tidak. Dia terlalu terkejut dengan apa yang didengarnya. Apa maksud ucapan Lee? Kenapa terdengar ambigu sekali.
Lee menyadarkan lamunan Renata dengan membuka pintu mobil untuk wanita itu.
"Masuklah, jalanan akan semakin macet jika kamu terus berdiri seperti itu," ucap Lee, yang membuat Renata akhirnya menghentikan otaknya yang terlalu berpikir keras.
Dengan mengendarai mobil baru yang Lee hadiahkan untuk Renata, mereka akhirnya melandas menyusuri jalan raya.
Tidak ada obrolan di antara mereka, membuat suasana menjadi hening. Lee yang selalu curi-curi pandang. Sementara Renata terus berpikir dan menebak-nebak hubungan antara Lee dan Sofia. Apakah sebenarnya mereka telah berpisah atau bagaimana?
Tapi apa untungnya aku memikirkan itu semua? Kenapa aku merasa bodoh sekali sekarang?
"Re, kalau kita mampir dulu bagaimana?" tanya Lee, memecah keheningan yang sedari tadi tercipta. Karena mereka pun sedang terjebak macet.
"Mampir? Ke mana, Tuan?" Renata balik bertanya.
"Ada beberapa buku dan dokumen yang harus aku ambil di suatu tempat. Aku membutuhkannya karena harus lembur nanti malam, apa kamu bersedia menemaniku?"
Kening Renata mengernyit, bingung antara menerima atau menolak ajakan Lee.
"Apakah jauh dari sini? Kalau jauh, lebih baik saya naik taksi saja, Tuan."
"Tidak, sebelum apartemenmu. Lagi pula aku mengajakmu karena banyak buku yang harus aku bawa, aku tidak mungkin bisa sendirian," ujar Lee mencari alasan. Karena sebenarnya dia ingin berlama-lama dengan wanita itu, sekaligus membangkitkan ingatan Renata tentang masa lalu mereka.
Renata menganggukkan kepala. "Baiklah, saya akan temani anda, Tuan."
Tanpa wanita itu tahu, Lee menyeringai tipis. Lalu melajukan kendaraannya dengan pelan-pelan. Hingga akhirnya mereka tiba di gedung apartemen yang jauh lebih mewah dari pada milik Renata.
Awalnya Renata tidak sadar, tetapi ketika dia melangkahkan kakinya. Dia langsung merasa bahwa pernah melewati jalanan ini, terlebih ketika melihat Lee yang berjalan di depannya.
Renata langsung berhenti, otaknya dipenuhi oleh kenangan buruk, ketika dia baru saja dibeli oleh pria jahat yang merupakan ayah dari kedua anaknya. Tepat malam itu juga, Lee telah mengambil sesuatu yang paling berharga dalam dirinya, tak peduli meskipun dia terus terisak-isak.
"Renata?!" panggil Lee saat merasakan bahwa tidak ada orang yang mengikutinya. Dia menoleh, dan melihat Renata yang mematung dengan tatapan nanar.
Dia yakin wanita itu masih mengingat jelas tempat pertama kali mereka memadu kasih. Meskipun Lee sadar, dia lebih banyak menorehkan luka dari pada memberikan kebahagiaan.
"Renata!" panggil Lee sekali lagi, karena wanita itu terlihat seperti orang linglung. "Renata!"
Suara keras itu akhirnya memecah bayangan masa lalu yang terus berputar-putar di otak Renata. Dia sedikit tersentak, hingga langsung mengangkat kepala.
"Ya, Tuan."
"Kenapa diam di situ, ayo!" ajak Lee, antara tega tak tega. Namun, inilah usahanya untuk membuat Renata menyerah pada penyamarannya.
Renata mengangkat kakinya untuk kembali melangkah, namun entah kenapa terasa sangat berat.
Aku harus terbiasa dengan ini semua, aku tidak boleh terjebak.
Setelah berdamai dengan dirinya, Renata pun menyusul Lee. Bahkan wajahnya dibuat senatural mungkin, hingga membuat Lee merasa takjub.
Dia sungguh ingin membuatku percaya, bahwa dia bukanlah ibu dari anak-anakku.
Akhirnya mereka sampai di unit apartemen yang sudah sebulan ini tidak Lee singgahi. Biasanya dia akan selalu datang untuk mengenang Alicia, bahkan ketika dia merasa lelah, dia akan menghabiskan waktu di tempat ini.
Namun, sekarang Alicia-nya telah kembali. Tanpa dia datang, dia sudah bisa melihat sosok istri keduanya.
"Tempat siapa ini, Tuan?" tanya Renata berbasa-basi sambil menghilangkan kegugupannya.
"Ini tempat tinggal keduaku, kalau aku sedang suntuk, aku akan datang ke sini," jawab Lee yang membuat Renata manggut-manggut.
"Lalu di mana anda menaruh buku-buku dan dokumen? Biar saya temani untuk mengambilnya."
"Ada di sebelah sini!" kata Lee seraya melangkah menuju ruang kerja sekaligus perpustakaan kecil.
Di ruangan yang cukup luas itu ada beberapa rak buku. Renata menelisik tiap sudutnya, dan semuanya nyaris tak ada yang berubah. Dia melirik ke arah meja dan juga sofa, tempat itu pernah menjadi saksi saat mereka menghabiskan waktu untuk bercinta.
Mengingat itu semua Renata langsung menahan nafas, dia mundur dan hendak berbalik, tetapi dia dibuat terkejut karena tak melihat ada Lee yang sedang mengambil buku.
"Astaga!" teriak Lee sambil berusaha meraih tubuh Renata yang terhuyung. Namun, karena tak ada keseimbangan, akhirnya mereka sama-sama jatuh ke lantai dengan Lee yang berada di atas tubuh Renata.
Bruk!
Suara itu lebih mendominasi dari pada suara tegukan ludah.