
Semenjak ada banyak orang yang mencari tahu data diri Ralia. Arshlan tidak membiarkan kekasihnya itu untuk pergi kuliah. Untuk sementara pria itu membawa Ralia ke rumah kedua orang tuanya, di samping mengamankan gadis itu, Arshlan pun berniat mengenalkan Ralia pada keluarganya.
"Kak, bukankah ini terlalu cepat?" tanya Ralia, menahan langkah Arshlan yang hampir saja melewati pintu utama. Jujur saja, bukan hanya karena masalah waktu, tetapi Ralia juga minder terhadap keluarga Arshlan yang terlihat kaya raya.
Bisa dinilai dari rumahnya saja, Arshlan benar-benar orang berada. Sementara dia? Asal-usul saja tidak jelas.
"Lebih cepat lebih baik, Sayang. Percayalah, Mama dan Papa bisa menerimamu dengan baik," balas Arshlan, menenangkan sang kekasih, agar tidak terlalu gugup. Dia tahu Ralia pasti takut jika keluarganya menilai ini dan itu.
"Tapi, Kak—"
"Kalau kamu tidak mau menurut, aku akan menggendongmu!" tegas Arshlan dengan tatapan yang tak main-main, membuat Ralia tak dapat berbuat apa-apa.
Gadis itu pasrah saat tangannya digandeng untuk masuk ke dalam rumah. Kebetulan keluarga Arshlan yang hanya terdiri dari beberapa orang, sedang makan siang bersama.
Arshlan adalah anak kedua dari tiga bersaudara, kakaknya sudah menikah lebih dulu dan tinggal bersama kedua orang tuanya. Sementara sang adik, menghabiskan waktunya berkeliling dunia dengan menjadi seorang pramugari.
Ketika Ralia dan Arshlan sampai di meja makan. Semua orang sontak mengalihkan pandangan ke arah keduanya. Mereka semua menganga, karena mendapati pria yang kaku itu membawa seorang wanita.
"Sayang, kamu bawa siapa?" tanya ibu Arshlan sambil terus memperhatikan Ralia. Ini untuk pertama kalinya mereka bertemu. Karena Arshlan memang belum pernah memperkenalkan Alicia maupun Ralia pada keluarganya.
Arshlan mengulum senyum, lalu mengajak Ralia untuk mendekat. "Kenalkan, Ma. Ini Ralia, calon istriku."
Deg!
Tak hanya keluarganya yang terkejut. Akan tetapi Ralia pun merasakan hal yang sama. Mereka baru beberapa hari berpacaran, tetapi kenapa Arshlan malah memperkenalkannya sebagai calon istri?
"Kak?" panggil Ralia dengan suara yang sangat pelan.
"Kenapa? Aku memang akan menikahimu secepatnya. Setelah urusan Renata beres," balas Arshlan sambil tersenyum sumringah. Dia seperti menemukan kebahagiaan yang nyata ketika berada di samping Ralia, sehingga dia tidak mau berlama-lama.
"Arsh, sebelumnya kamu belum bicara apa-apa pada Mama dan Papa. Kenapa tiba-tiba memperkenalkan calon istri?" sambar ayah Arshlan yang ikut angkat bicara, karena melihat istrinya yang ternganga.
"Kenapa? Apa kalian terlalu terkejut?" Arshlan balik bertanya. Dia menarik kursi dan menyuruh Ralia untuk duduk, karena mereka akan bergabung.
"Tidak, Arsh. Maksud Mama kalau tahu begitu kita kan bisa masak lebih banyak dan melakukan penyambutan," balas ibu Arshlan. Dari penampilan Ralia yang terlihat anggun, sepertinya gadis itu bukanlah gadis biasa. Dan tentunya Arshlan tidak mungkin salah pilih.
Mereka dari keluarga terpandang, dan pastinya akan mendapatkan calon menantu dari keluarga terpandang pula.
Mendengar itu, Arshlan langsung mengulum senyum. Seolah membuktikan pada Ralia bahwa keluarganya memang orang baik, yang dapat menerima siapa saja. "Kamu lihat 'kan, Sayang. Mereka ingin menyambutmu. Itu artinya mereka menerima kamu di sini, jadi jangan takut."
Tanpa segan Arshlan mengusak puncak kepala Ralia, dan meninggalkan kecupan singkat di pipi gadis itu. Membuat Ralia langsung tersipu dan mengeluarkan semburat merah di kedua pipinya.
"Siapa namamu tadi?" tanya ibu Arshlan dengan antusias. Mendengar itu Ralia pun mengangkat wajahnya.
"Aku Ralia, Nyonya," jawabnya sedikit terbata, karena dia benar-benar sangat gugup. Ini untuk pertama kalinya, dia berhadapan langsung dengan orang tua kekasihnya.
"Nama yang cantik. Tapi jangan panggil Nyonya dong, panggil saja Mama."
Ralia tersenyum paksa sambil menganggukkan kepala.
"Silahkan dimakan, Ralia. Nanti kalau kurang saya suruh pelayan untuk memasakannya lagi untukmu dan Arshlan," balas ibu Arshlan. Dia kembali fokus pada makanan yang ada di piringnya, tetapi tiba-tiba suara ponsel Arshlan berdering.
Cup!
Sebelum meninggalkan meja makan, Arshlan lebih dulu mengecup puncak kepala Ralia. Kemudian dia benar-benar meninggalkan gadis itu bersama keluarganya.
Ralia kembali diselimuti rasa gugup, hingga dia berkeringat dingin. Hendak mengeluarkan suara pun rasanya susah, apalagi makan dengan tenang. Seolah-olah kini semua mata tengah tertuju ke arahnya, dan mengintimidasi dia.
"Kamu tinggal di mana, Ralia?" tanya ibu Arshlan, kembali membuka suara.
"Aku—aku tinggal di apartemen dekat rumah sakit Kak Arshlan, Ma," jawab Ralia dengan tubuh yang gemetar semua. Bahkan di bawah sana kakinya tidak mau diam.
"Jadi kamu tinggal sendiri?" timpal Kakak ipar Arshlan yang sedari tadi ikut memperhatikan Ralia.
Ralia mengangguk.
"Lho orang tuamu ke mana? Apa kalian tinggal secara terpisah?" Ibu Arshlan terlihat mencecar Ralia dengan beberapa pertanyaan. Karena dia begitu penasaran dengan calon istri anaknya.
Ditanya seperti itu, tentu membuat Ralia merasa sangat bingung. Karena mereka pasti tidak tahu, jika dia berada di sini karena kabur dari rumah ayahnya.
"Ibuku sudah meninggal, dan ayah tinggal di luar kota, Ma," jawab Ralia dengan jujur. Karena dia memang tak pandai berbohong.
Semua orang manggut-manggut. "Apa pekerjaan ayahmu? Apa dia seorang pengusaha? Atau memiliki bisnis kuliner, atau yang lain?"
Deg.
Jantung Ralia seperti diremass, sementara ludah yang ada di dalam mulutnya seperti tidak bisa dia telan. Ini yang sedari tadi dia takutkan. Harusnya sebelum dia menerima Arshlan sebagai kekasihnya, dia berpikir seribu kali, karena mengingat bagaimana kisah asmara kakaknya yang akhirnya terbuang dan hanya dimanfaatkan oleh pria kaya raya.
Ralia terus terdiam dengan tangan yang saling menaut, bingung ingin menjawab apa. Karena pada kenyataannya, sang ayah hanyalah seorang penjudi dan tukang mabuk-mabukan, tidak ada yang bisa dibanggakan dari keluarganya.
Melihat reaksi Ralia, membuat keluarga Arshlan menyimpulkan pendapat masing-masing.
"Sepertinya tebakan Mama salah semua," ucap kakak ipar Arshlan, yang membuat wanita paruh baya itu mengangguk setuju.
"Ah, maaf, Ralia. Sepertinya saya salah bertanya. Soalnya dari beberapa teman Arshlan yang datang, rata-rata mereka adalah seorang dokter, ataupun pengusaha. Kamu kenal dengan Regina?"
Mendengar nama itu, Ralia langsung menahan nafas dan rasanya ingin menangis saat itu juga. Secara tidak langsung, keluarga Arshlan sedang menginjak-injak harga dirinya.
"Dia yang paling dekat dengan Arshlan, saya kira Arshlan akan mengecaninya. Tapi ternyata saya salah," sambung ibu Arshlan.
Namun, tak berapa lama dari itu Arshlan kembali ke meja makan. Sementara Ralia sudah tidak tahan, dia segera bangkit. "Kak, aku harus pulang. Aku lupa, kalau ada sesuatu yang harus aku kerjakan."
"Apa itu, Sayang? Bukankah kita sudah sepakat, untuk beberapa hari kamu akan tinggal di sini?"
Ralia menggelengkan kepalanya, berharap Arshlan mengerti. "Tidak. Aku tetap tinggal di apartemen."
Arshlan menoleh ke arah keluarganya. Dia yakin pasti ada sesuatu yang terjadi saat dia tidak ada. Tanpa berkata apapun lagi, Arshlan langsung membawa Ralia pergi dari rumahnya.
"Aku tidak akan diam saja saat kamu disakiti. Meskipun itu keluargaku sendiri."