
Tanpa memberitahu Lee tentang menghilangnya Alicia. Zack segera pergi bersama beberapa anak buahnya untuk mencari wanita itu.
Zack merasa bahwa ini semua kesalahannya, jadi dia harus bertanggung jawab. Dia mengabaikan semua panggilan kantor, karena fokusnya hanya mencari keberadaan Alicia yang entah pergi ke mana.
"Cari di semua terminal bus atau stasiun kereta yang ada di sekitar sini!" kata Zack dalam panggilan bersama anak buahnya.
Dia mengendarai mobil dengan perlahan, untuk menyisir jalanan. Pria itu berharap, kalau Alicia masih tidak jauh dari sini. Sebab jika wanita itu tidak ditemukan, maka tamatlah sudah riwayatnya.
Lee pasti akan sangat marah padanya. Terlebih ada si kembar yang membutuhkan sosok ibunya. Ya, meksipun Lee pernah mengatakan bahwa dia hanya menginginkan anak itu, tapi Lee tidak berniat sedikit pun untuk memisahkan ketiganya.
Apa yang Lee lakukan adalah yang terbaik menurutnya, termasuk tentang pembiusan total, dia melakukan itu semua hanya karena ingin Alicia beristirahat setelah melahirkan. Dan tidak ada drama ketika dia membawa kedua anaknya pulang ke rumah.
"Aku tidak menyangka kalau kamu akan senekat ini," gumam Zack sambil fokus menyetir.
Padahal dalam pandangan Zack, Alicia adalah wanita polos dan lugu. Jadi, dia tidak pernah berpikir bahwa wanita itu akan kabur meninggalkan ibu kota, bahkan dalam keadaannya yang seperti itu.
"Bodoh! Kenapa kemarin aku tidak memberikan pesan pada adiknya?!" rutuk Zack lagi dengan perasaan bersalah yang kian menggunung.
Sementara di ruang kerjanya, Lee sedang menyelesaikan beberapa berkas kerja sama. Dia tidak bisa terlalu fokus, karena di ruangan itu, ada kedua anaknya. Beberapa kali baby Gio dan Shasha menangis, jadi sambil bekerja Lee berusaha untuk menimang-nimang putra-putrinya secara bergantian.
Lalu ke mana dua pengasuh yang Lee sewa? Entah kenapa, hari ini kedua anak Lee tidak mau digendong oleh orang lain, padahal saat di rumah sakit, dua bayi mungil itu tak begitu rewel dengan para suster yang menjaganya.
Sambil menggendong baby Shasha, Lee menyempatkan diri untuk menelpon Zack. Karena waktu sudah menunjukkan jam makan siang.
"Hal-halo, Kak? Ada apa?" tanya Zack dengan tergagap. Sesungguhnya dia bukanlah orang yang pandai berbohong, namun, demi menstabilkan emosi Lee, dia terpaksa melakukan itu semua. Sebab jikalau Lee kembali meninggalkan pekerjaannya, maka kerja sama perusahaan mereka terancam gagal.
"Kamu di mana, Zack? Apakah kamu sudah di rumah Alice?"
"Aku, aku sedang di perjalanan, Kak. Bagaimana dengan pekerjaanmu?"
"Baru beberapa persen, dari tadi Twins agak rewel. Oh iya, apa kata dokter yang kamu kirim ke rumah Alice? Apakah Alice sudah sadar? Kalau iya, jangan biarkan dia mengerjakan sesuatu. Katakan padanya besok atau lusa aku akan datang membawa Twins, dan membicarakan perjanjian di antara kami berdua," kata Lee, karena egonya pria itu masih tidak sadar dengan perasaannya terhadap Alicia. Dia senantiasa berpikir, bahwa dia bisa hidup tanpa menikah. Karena sudah terlanjur sakit hati pada sosok wanita.
"Kondisinya baik, dia sedang beristirahat sekarang. Nanti kalau aku sudah sampai, aku pasti akan menyampaikan pesan Kakak padanya," jawab Zack bohong. Namun, karena itu Zack, Lee langsung mengangguk percaya.
Tok Tok Tok ...
Lee langsung mengangkat kepala ketika mendengar suara ketukan pintu. Dia pun memutus panggilan bersama Zack, lalu meminta orang itu masuk.
Suara decitan benda persegi panjang itu terdengar. Seorang pria masuk dengan membawa amplop coklat.
"Tuan, ini surat dari pengadilan," kata pria itu, seseorang yang bekerja di rumah Lee dan bertugas menjaga keamanan.
"Oh iya, taruh saja di meja."
Patuh, security itu langsung meletakkan amplop coklat yang ada di tangannya ke atas meja. Lalu segera pamit untuk keluar.
Lee melihatnya sekilas dengan sunggingan senyum tipis. Surat perceraiannya sudah selesai, dan dia tinggal meminta Sofia untuk menandatanganinya.
***
Begitu makan malam tiba, Sofia terlihat sangat gelisah. Karena perusahaan ayahnya nyaris bangkrut akibat penggelapan dana. Dan jalan satu-satunya sekarang hanyalah Lee, ya, hanya pria itu yang bisa membantu keuangan orang tuanya.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu!" cetus Lee lebih dulu, membuat Sofia langsung bernafas lega. Dia tidak tahu, kalau Lee akan menceraikannya.
"Apa itu, Lee?"
"Selesaikan saja dulu makan malammu!"
Patuh, Sofia pun langsung menghabiskan makanan yang ada di piringnya. Namun, dia sesaat dia tertegun ketika Lee melemparkan sebuah amplop coklat ke arahnya.
"Segera tanda tangani surat itu, lalu pergi dari sini!" kata Lee, yang membuat Sofia langsung melebarkan kelopak matanya.
"Apa maksud ini semua, Lee?" tanya Sofia pura-pura tak mengerti. Padahal sudah jelas, bahwa apa yang ada di tangannya adalah surat perceraian.
"Kamu punya mulut untuk membacanya."
Mata Sofia langsung berkaca-kaca.
"Tapi kenapa? Bukankah kamu yang selama ini menduakan aku?! Bahkan kalian sampai memiliki anak?" cetus Sofia dengan air mata yang tiba-tiba jatuh.
Lee melemparkan satu amplop lagi, bahkan kini sedikit lebih kasar. "Itu! Itu alasannya. Aku tahu sekarang kenapa kamu tidak mau memiliki anak denganku. Karena kamu ingin bersenang-senang dengan sepupumu itu?! Enam bulan ini hubungan kalian terlihat semakin baik. Aku pikir, kamu melakukannya karena ingin membalasku, tapi setelah aku telusuri, ternyata hubungan itu terjalin sebelum kamu mengatakan aku mandul. Jadi, aku putuskan, hari ini kita bercerai!"
Deg!