
Malam itu akhirnya Lee dan Alicia tidur satu ranjang. Mereka saling memeluk satu sama lain, hingga menciptakan kehangatan dan kenyamanan. Bahkan rasanya tubuh Lee sudah tidak memerlukan obat lagi, karena penawar sesungguhnya sudah ada di pelukannya.
Hingga pagi menyapa, kedua orang itu masih terlelap. Sementara Gio dan Shasha terbangun lebih dulu. Bocah tampan itu terduduk sambil mengerjapkan kelopak matanya ketika melihat ayah dan ibunya tidur di tempat yang sama.
Menyadari itu pelan-pelan bibir Gio melengkung dengan sempurna. Bola matanya berbinar, hingga dengan cepat dia membangunkan adiknya.
"Shasha, bangunlah!" seru Gio sambil menepuk-nepuk lengan bocah cantik itu. Namun, Shasha hanya memberi reaksi sebuah geliat kecil.
"Haish, bangun! Kamu tidak akan percaya melihat ini. Daddy dan Ibu sudah berbaikkan."
Kini Gio beralih mencubit pipi gembul adiknya. Membuat Shasha merengek karena merasa tidurnya terganggu. Akan tetapi dengan cepat Gio menutup mulut gadis kecil itu, agar tidak menimbulkan suara berisik.
Shasha pun mulai mengerjap hingga dia bisa melihat wajah kakaknya yang terlihat sangat sumringah pagi ini. "Aku masih mengantuk, Kak." Keluh Shasha sambil melepaskan tangan Gio dari mulutnya.
"Lihat dulu apa yang terjadi, dan setelah itu kamu boleh tidur lagi," ujar Gio yang membuat Shasha mengeryit.
Akhirnya gadis kecil itu ikut bangun. Gio langsung menunjuk ke arah ranjang ayahnya, di mana ada Alicia berada. Tepat pada saat itu kedua mata Shasha membola, dia menguceknya sekilas lalu kembali melihat ke arah sana. "Itu Ibu dan Daddy, Kak?" Tanyanya.
Gio langsung mengangguk penuh semangat. Karena dia yakin, jika orang dewasa sudah bersikap mesra mereka pasti sudah berbaikan.
"Sepertinya Ibu kasihan melihat Daddy sakit. Jadi cinta mereka semakin bertambah," ujar Gio, dan Shasha langsung mengangguk setuju. Sebuah pemikiran sederhana yang ada di otak bocah berusia lima tahun itu.
"Benar, setelah ini kita pasti akan tinggal bersama. Kalau begitu, ayo kita bersiap-siap sekolah, Kak. Biarkan Ibu dan Daddy tidur lebih lama," seru Shasha dengan bersemangat. Hari ini dia tidak ingin merepotkan Lee maupun Alicia, terlebih tidak ada Fenny di sana.
"Benar, ayo!" balas Gio tak mau kalah. Pagi yang manis siap menyambut mereka.
***
Fenny dan Zack kembali datang ke rumah sakit pagi ini, karena Zack harus pergi ke perusahaan, sementara Fenny menemani kedua anak asuhnya ke sekolah.
Namun, ketika mereka tiba. Mereka malah dikejutkan dengan pemandangan manis antara Lee dan Alicia. Ya, dua orang itu masih betah terlelap dengan kepala Alicia yang bersandar di dada. Sementara kedua bocah kembar bernama Gio dan Shasha entah ada di mana.
Belum sempat Zack mengeluarkan suara. Tiba-tiba ia mendengar sebuah troli berjalan ke arahnya. Menampilkan dua bocah berseragam sekolah dengan seorang suster yang membawa sarapan pagi.
"Gio, Shasha?" panggil Zack dengan wajah terperangah dan mereka langsung melemparkan senyum.
"Kami yang memesan ini semua, Uncle. Kan nanti Daddy yang bayar," jawab Shasha dengan gaya centilnya.
Mendengar jawaban itu Fenny dan Zack langsung beradu pandang. Mereka tidak menyangka kalau bocah seusia mereka bisa berinisiatif sejauh ini. Hubungan antara Lee dan Alicia benar-benar memberi pengaruh besar untuk si kembar.
"Benar, Nanny. Kami sudah besar, jadi kami memutuskan untuk mandiri. Lagi pula Daddy sedang sakit, dan Ibu pasti kelelahan menjaganya," jawab Gio, dia mengangkat tangan lalu melakukan tos dengan sang adik.
"Kalau begitu ayo kita sarapan bersama, kita pisahkan saja untuk Daddy dan Ibu," seru Shasha sambil meraih pergelangan tangan Fenny.
Akhirnya keempat orang itu duduk di sofa tanpa membangunkan Lee dan Alicia. Dan anehnya kedua orang itu sama sekali tak terganggu dengan suara bising di sekitar mereka.
Di antara kunyahannya, Zack mengulum senyum. Karena dia merasa senang akhirnya Lee dan Alicia kembali bersatu. Semalam sebenarnya dia tidak langsung pulang, dia menyaksikan sekilas bagaimana Alicia berlari dan memeluk Lee.
Hah, aku baru merasakan kelegaan ketika melihat kalian kembali bersama. Batin Zack dengan senyum merekah.
Dan setelah selesai sarapan, mereka langsung pergi ke tujuan masing-masing. Tanpa pamit kepada Lee dan Alicia.
Hingga saat sinar matahari mulai meninggi, serta kedatangan Aneeq dan Jennie. Lee dan Alicia baru mengerjapkan kelopak mata masing-masing.
"Wah, wah, sudah sesiang ini kalian masih tidur? Sementara Gio dan Shasha sudah menghilang?" seru Aneeq dengan kedua tangan yang bertolak pinggang.
Alicia terlihat sangat kikuk, sementara Lee hanya menimpali ucapan ayahnya dengan tersenyum. "Aku yakin Zack dan Fenny sudah membawa mereka, Dad."
"Ya, karena kamu asyik sendiri. Mentang-mentang sakit dan obatnya ada di sini!"
Lee terkekeh, sementara Aneeq langsung mendapat cubitan dari tangan Jennie, hingga perutnya terasa panas.
"Jangan membuat menantu kita kabur lagi!" cetus Jennie bercanda, dia melangkah ke arah Alicia yang terlihat segan dengan mereka. "Tidak usah pedulikan pria tua itu. Kamu pasti lelah menjaga Lee semalaman. Ayo sarapan, Gio dan Shasha sepertinya sudah menyiapkan semuanya untuk kalian."
"Benarkah?" sambar Lee dengan cepat.
"Tidak perlu banyak tanya, lihat saja apa yang ada di meja!" cetus Jennie, lalu mengajak menantunya untuk duduk di sofa.
"Sayang, aku kan juga belum sarapan," rengek Aneeq, tetapi bukannya bisa bermanja-manja. Dia malah mendapat pelototan tajam.
"Baiklah, aku akan diam," gumam Aneeq, lalu memilih untuk membuka tirai jendela.
Sementara Lee dan Alicia sama-sama melihat makanan yang sudah disiapkan oleh kedua anaknya. Mereka saling melempar senyum, begitu membaca catatan kecil yang tertera di sana.
[Ini untuk Ibu dan Daddy. Selamat makan, we love you.]
"Jadi, kapan kalian akan melegalkan pernikahan kalian berdua?" cetus Aneeq, yang langsung membuat Lee dan Alicia merasa jantungan.