
Kini Lee dan Renata sedang berkeliling untuk mencari sesuatu yang akan mereka berikan pada Gio dan Shasha. Lee memimpin di depan sambil sesekali celingukan. Tak berbeda dengan apa yang Renata lakukan, hingga wanita cantik itu meminta Lee untuk berhenti.
"Tuan, sepertinya yang itu bagus." Katanya sambil menunjuk toko dengan segudang permainan anak-anak.
"Apa?"
"Permainan alat musik itu, bukankah mereka menyukainya?"
"Baiklah, ayo lihat ke sana!" putus Lee, dia kembali melangkah dengan Renata yang senantiasa mengekor. Keduanya terlihat seperti sepasang suami istri yang tengah memilih mainan untuk anak mereka.
Hingga pelayan pun berpikir seperti itu. "Anak kalian kembar?" Tanyanya, yang membuat Renata langsung menghentikan aktivitasnya, dia terpaku sementara Lee kembali salah tingkah.
"Ah, tidak. Mereka anak-anakku, dia hanya memilihkannya saja," jawab Lee berusaha untuk tetap stay cool. Apalagi sekarang di depan umum, dia tidak mau citranya yang penuh wibawa, hancur hanya karena salah tingkah disangka suami Renata.
"Oh maaf, Tuan, saya pikir kalian suami istri," kata sang pelayan sambil membungkukkan badan. Sedangkan Renata masih terdiam, rasanya tak terima tiap orang lain menganggap bahwa dia bukan ibu si kembar.
Setelah selesai belanja untuk kedua anaknya, Lee pergi ke toko pakaian wanita. Renata mengernyit, akankah Lee membelikan sesuatu juga untuk Sofia?
"Pilih sana, minimal dua," kata Lee sambil menunjuk pakaian yang berjejer menggunakan dagunya.
Renata terbengong-bengong, karena Lee tidak menyebutkan secara spesifik, untuk siapa pakaian itu. "Anda ingin membelikan Nyonya Sofia? Apakah harus saya juga yang memilih?"
Cih, rasanya aku tidak sudi!
Lee hanya menatap dua bola mata Renata, tetapi wanita itu tidak mengerti apa yang dimaksud oleh pria satu ini.
"Bukankah seharusnya seorang suami memilihkan baju untuk istrinya, bukan orang lain. Jadi, saya rasa, anda lebih berhak dan lebih tahu—"
"Berhentilah mengomel, baju itu untukmu!" tukas Lee, karena Renata tidak pernah bisa langsung mengiyakan apa perintahnya.
Mendengar itu, Renata langsung terhenyak, dia malah semakin terlihat kikuk di hadapan Lee. "Untuk saya, Tuan?"
"Yah, aku bosan melihat bajumu yang itu-itu terus, mulai besok pakailah baju lain! Yang sedikit berwarna," ujar Lee, padahal perusahaannya yang meminta Renata untuk memakai kemeja putih dengan rok span hitam. Kenapa sekarang dia menyalahkan wanita itu?
Sejujurnya Renata merasa tidak enakan, karena sudah dipastikan barang-barang di sini sangatlah mahal, tetapi dari pada dia ribut dengan Lee, lebih baik dia segera mengambil baju mana yang sekiranya cocok di tubuhnya.
Renata mengambil dua setelan kerja, dan dia berencana untuk mencobanya satu persatu. Keluar dari ruang ganti, entah kenapa dia malah berjalan ke arah Lee, lalu meminta pendapat pria itu.
"Tuan, bagaimana?" tanyanya, membuat Lee mengalihkan pandangan dari ponsel. Pertama, tatapan mata Lee jatuh pada sepatu Renata, kemudian naik hingga benar-benar melihat sosok cantik yang ada di hadapannya.
Lee merasa gagap. "Biasa saja. Tapi cocok untukmu." Katanya seraya memalingkan wajah.
Dengan bahu yang terasa lemas, Renata kembali mengganti bajunya. Kemudian memperlihatkannya lagi pada Lee. "Kalau yang ini bagaimana, Tuan?"
Lee pura-pura mengusap wajahnya. "Cepatlah pilih yang mana saja, sebentar lagi kita harus pergi."
Aneh, satu kata itu tercetus di dalam otak Renata. Tanpa mengganti pakaiannya, dia segera membayar belanjaan memakai black card milik Lee, bahkan dengan mudah pria itu memberikan pinnya.
"Apa dia tidak khawatir aku menggesek lebih banyak?" gumam Renata seraya melirik Lee yang masih setia duduk di sofa.
"Nyonya, ini kartu suami anda," kata kasir yang membuat Renata melongo, lagi-lagi mereka menyangka bahwa dia dan Lee suami istri. Hih, menyebalkan sekali.
Tanpa bicara Renata segera mengambil barang belanjaannya, lalu pergi dari sana.
***
Menjelang sore Lee dan Renata meninjau tempat di mana pembuatan produk yang kaan launching itu berada. Di sana mereka bertemu seseorang yang bertanggung atas semuanya, yaitu Antoni.
Selama berkeliling, Antoni terus memperhatikan Renata. Membuat wanita itu merasa risih, bahkan beberapa kali Antoni menyelipkan pertanyaan di luar topik.
Setelah beres, Lee langsung pamit untuk pulang, tetapi Antoni menahannya.
"Tuan, bagaimana kalau kita makan malam dulu, sekalian minum-minum sebentar, sudah lama 'kan kita tidak bertemu, sangat disayangkan kalau anda langsung kembali begitu saja," kata pria itu. "Biar nanti saya undang Tuan Bagas juga."
Lee melirik ke arah Renata, wanita itu seperti merasa tak nyaman berlama-lama di sini. "Maaf, saya sudah berjanji untuk pulang malam ini. Anak-anak saya menunggu di rumah."
"Oh kalau begitu apa saya boleh meminta nomor sekretaris anda? Jadi kalau ada apa-apa, saya bisa langsung hubungi dia," ucap Antoni yang mana sukses membuat Lee merasa jengah.
"Tidak perlu, kamu cukup hubungi Zack saja. Kalau tidak apa-apa lagi, kami permisi," balas Lee dengan tegas, kemudian segera meraih tangan Renata untuk pergi dari sana.
Cih, sial! Batin Antoni, padahal dia ingin berkenalan secara pribadi dengan Renata.
Sementara Renata hanya bisa melebarkan kelopak matanya saat Lee terus menggenggam tangan dia. Tak ingin terbawa perasaan, Renata melepaskan tangan Lee dengan cukup kasar. "Maaf, Tuan. Saya bisa jalan sendiri."
Lee pun dibuat bingung, untuk apa dia menggenggam tangan Renata segala?
***
Mau menggenggam yang lain kan gak boleh😌