
Lima tahun lalu.
Di rumah sakit.
"Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, efek biusnya akan hilang setelah 24 jam, Tuan. Tapi untuk masa pemulihannya kurang lebih seminggu," jelas Dokter setelah berhasil mengeluarkan anak kembar yang selama ini di kandung Alicia.
"Baiklah, Dok. Terima kasih. Setelah ini biarkan dia beristirahat total," balas Lee dengan wajahnya yang terlihat berseri, sedari tadi hatinya benar-benar berbunga, karena telah melihat wajah kedua anaknya yang baru saja lahir ke dunia.
Namun, di antara kebahagiaannya tiba-tiba dia mendapatkan sebuah panggilan. Dia segera merogoh ponsel yang ada di saku celananya, melihat siapa yang menelpon.
"Kalau begitu saya pamit keluar dulu," kata Lee sambil menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
Dokter hanya menganggukkan kepala, sementara Lee tampak berbicara dengan seseorang yang ada di seberang sana. Wajah Lee tampak serius sekarang, karena ini semua tentang perusahaan.
"Bagaimana bisa?!" cetus Lee dengan kening yang berlipat-lipat.
"Ada kesalahan data yang dilakukan oleh pihak kita, Tuan. Jadi, anda harus segera melakukan perjalanan ke luar kota untuk menyelesaikan ini semua."
"Astaga, aku sudah bilang kan kalau beberapa hari ini aku sibuk."
"Tapi, Tuan. Kalau anda tidak pergi, yang ada perusahaan kita akan mengalami kerugian besar."
Lee berdecak keras, tanpa menjawab dia langsung mematikan panggilan tersebut dan mencari keberadaan Zack. Dan ternyata pria itu sedang berada di depan ruangan Alicia.
"Zack!" panggil Lee, yang membuat pria itu langsung bangkit dari duduknya.
"Ada apa, Kak? Apakah ada sesuatu yang terjadi dengan anak atau istrimu?" tanya pria itu merasakan kecemasan kakak sepupunya.
"Tidak, jadi begini ...." Lee menjelaskan duduk permasalahannya tentang kerja sama yang sedang mereka kerjakan. Padahal dia sudah menyiapkan waktu untuk bisa mengasuh si kembar, namun takdir seperti tidak merestuinya. Ada saja masalah yang harus di hadapinya.
"Kalau begitu serahkan semuanya padaku, biar aku yang pergi ke luar kota. Kakak di sini saja," kata Zack memberikan penawaran. Namun, Lee tak serta merta menerimanya.
"Tidak, Zack. Masalah ini harus aku yang hadapi. Mereka tidak mungkin mau jika aku diwakilkan. Jadi, aku minta padamu, agar kamu menggantikanku menjaga Alicia dan anak-anakku. Lagi pula, Alicia hanya butuh istirahat total," jelas Lee. Sebenarnya dia juga berat, tetapi apa mau dikata, keadaannya sekarang darurat.
"Baiklah, Kak."
"Ya, kalau ada apa-apa hubungi aku."
"Tapi, kapan kira-kira Kakak pulang?"
"Mungkin besok, tapi aku akan mencoba untuk mempersingkatnya."
Zack langsung menganggukkan kepala, Lee menepuk bahu adik sepupunya itu dengan uluman senyum. "Aku harus berangkat sekarang."
"Berhati-hatilah, Kak."
"Tentu saja."
Lee mengintip Alicia dari balik jendela, wanita itu masih terkulai lemas di atas brankar dengan jarum infus yang menancap di tangannya, lalu setelah itu Lee pergi ke ruangan kedua anaknya untuk pamit. Hari ini juga dia terbang ke luar kota untuk menyelesaikan pekerjaannya.
***
"Tuan Zack, Nyonya Sofia ada di rumah sakit ini," ucap anak buah yang ditugaskan berjaga di depan rumah sakit. Mendengar itu, Zack langsung membulatkan kelopak matanya.
"Saya juga tidak tahu, Tuan. Tapi yang saya liat, dia pergi ke bagian obgyn."
"Gawat, jangan-jangan dia mencari tahu tentang Alicia," gumam Zack, dia menyuruh anak buahnya untuk kembali berjaga. Sementara dia melangkah untuk menyusuri rumah sakit.
Dan benar saja, Zack melihat Sofia yang duduk di ruang tunggu bagian dokter kandungan. Wanita itu tampak sedang menelpon seseorang yang entah siapa.
Zack terlihat bingung. Bagaimana kalau akhirnya Sofia mengetahui keberadaan Alicia? Pasti wanita itu akan berbuat yang tidak-tidak. Tiba-tiba Sofia melirik ke arah Zack, dan pria itu langsung bersembunyi di balik dinding.
"Tempat ini tidak aman. Aku yakin, Kak Sofia datang ke sini karena ingin menyelidiki Kak Lee!" gumam Zack, sementara Sofia terus menelisik, pandangannya seolah melihat seseorang yang dia kenal, tapi siapa?
Akhirnya Zack pergi dari sana, sambil terus berpikir bagaimana caranya agar Sofia tidak mengetahui keberadaan Alicia. Terlebih tidak ada Lee di sisi wanita itu.
"Sepertinya aku harus menghubungi Kak Lee." Zack mengambil ponselnya yang ada di dalam saku jas, dan langsung menelepon sepupu sekaligus bosnya itu.
"Ada apa, Zack?" tanya Lee begitu panggilan mereka sudah terhubung.
"Halo, Kak. Ini gawat, Kak Sofia ada di rumah sakit ini. Sepertinya dia tidak menyerah untuk mencari tahu tentang Alicia. Bagaimana menurutmu? Apakah tidak sebaiknya kita pindahkan Alicia untuk sementara waktu?" jelas Zack apa adanya.
"Sedang apa dia di sana?"
"Aku lihat dia sedang berada di ruang pemeriksaan dokter kandungan. Aku yakin, ini semua hanya akal-akalannya saja."
Lee terdiam sesaat.
"Kalau begitu pindahkan saja ke apartemen."
"Kak, apa kamu tidak ingat, semalam dia juga ke sana?"
"Lalu menurutmu? Aku harus menyembunyikan Alicia di mana?"
Zack kembali berpikir keras, dia dibuat kalang kabut, apalagi saat anak buahnya mengirim pesan, kalau ibu Lee juga ada di sini. Sepertinya Sofia yang menghubungi wanita itu. Dan sengaja ingin membuat keributan.
"Kak, kita pulangkan saja ke rumahnya. Karena di sini juga ada Aunty Jennie!" cetus Zack akhirnya. Karena tidak ada pilihan lain, Sofia tidak akan mungkin tahu tempat tinggal Alicia yang sebenarnya.
"Lalu bagaimana dengan ayahnya?"
"Biar aku yang atur. Kakak cukup iyakan saja."
"Baiklah kalau begitu. Aku serahkan ini semua padamu, tapi aku minta tolong, jangan sampai Sofia maupun orang rumah curiga."
"Ya, Kak. Aku tutup dulu, selanjutnya aku hubungi lagi."
Dan akhirnya hari itu Alicia dipulangkan ke rumah ayahnya. Namun, sebelumnya Zack telah meminta agar Rendra pergi dari rumah. Jadi, di sana hanya ada Ralia. Dan Zack juga yang memberikan uang pada Ralia, untuk memenuhi kebutuhan dua wanita itu.
"Kakakmu sedang beristirahat total, jadi jangan ganggu dia. Kalau dia sudah sadar, baru kamu berikan obat ini," kata Zack sambil memberikan beberapa bungkus obat yang sebelumnya sudah dia tebus.
"Lalu yang di dalam amplop ini untuk apa?"
"Itu untuk memenuhi kebutuhan kalian berdua."
Ralia yang tak begitu paham, akhirnya hanya bisa manggut-manggut saja. Dia berpikir bahwa sebelumnya sang kakak sudah bicara dengan pria yang ada di hadapannya.