Hidden Mommy

Hidden Mommy
Bab 79. Perpisahan



Mau dijelaskan seperti apapun, rasanya hati Renata enggan untuk menerima. Sebab kekecewaan yang paling terdalam bagu Renata adalah saat Lee hanya membutuhkannya untuk melahirkan keturunan.


Siapa yang tidak marah? Siapa yang tidak benci diperlakukan seperti boneka. Sementara Renata pernah menaruh harapan tinggi pada Lee, namun, karena harapan itu pula akhirnya dia kecewa.


Dan sekarang dia tidak mau mendapatkan hal itu lagi. Dia ingin hidup bahagia dengan kedua anaknya, tanpa Lee.


Pagi harinya keempat orang itu pulang ke ibu kota. Renata benar-benar berencana untuk membawa kedua anaknya ke apartemen. Dan kedua bocah itu tidak menolak, mereka seperti tak bisa membantah, hingga apa yang dikatakan oleh Renata, mereka kompak menganggukkan kepala.


Awalnya wanita itu meminta untuk berpisah di Bandara. Namun, Lee memohon untuk mengantar hingga di depan gerbang apartemen.


Dan di sinilah mereka sekarang. Lee berjongkok tepat di hadapan Gio dan Shasha. Bibirnya mungkin melengkung membentuk senyuman, namun, bola mata pria itu tak bisa bohong, di sana Lee menyimpan banyak kesedihan.


"Jangan nakal yah, ikuti semua apa kata Ibu. Janji pada Daddy kalau kalian akan menjadi anak baik," ucap Lee dengan bibir yang bergetar, sementara kedua tangannya mengusap kepala Gio dan Shasha.


"Daddy benar-benar tidak ikut tinggal dengan kami?" tanya Shasha dengan bola mata yang berbinar. Sesuatu yang tak mampu menahan laju air mata kedua orang tuanya.


Lee mengusap matanya menggunakan lengan, lalu kembali tersenyum. "Shasha bilang ingin bertemu dan tinggal bersama Ibu. Dan sekarang adalah saatnya. Nanti, kalau Daddy sudah tidak sibuk, Daddy pasti akan datang ke sini."


"Apakah Daddy memiliki pekerjaan penting?" timpal Gio, pria kecil itu sebenarnya tahu, bahwa ini semua hanya akal-akalan Lee untuk mengelabuhi mereka. Namun, dia akan ikuti semua drama yang dibuat kedua orang tuanya.


"Ya, Sayang. Ada proyek yang harus Daddy kerjakan. Jadi, kalian tinggal bersama Ibu dulu. Kan di rumah tidak ada siapa-siapa," jelas Lee bohong. Dan Gio tahu itu, dia hanya menarik sudut bibirnya, membentuk senyum misterius.


"Itu artinya, Daddy harus pergi naik pesawat lagi?" tanya Shasha dengan polos. Lee hanya mampu menganggukkan kepala, sementara Renata terus membisu.


"Nanti Daddy akan belikan hadiah lagi untuk kalian. Yang penting kalian jadi anak yang patuh. Buktikan pada Ibu, kalau kalian adalah anak yang baik, oke?" ujar Lee meminta persetujuan pada Gio dan Shasha.


Setelah berkata seperti itu, Shasha baru bisa memahami, berbeda dengan Gio yang sudah sadar dengan ancaman yang tengah menimpa keluarganya.


"Kalau begitu ayo kita masuk. Kita harus lihat tempat tinggal Ibu selama ini," ajak Gio berusaha untuk ceria. Shasha pun setuju, hingga akhirnya Lee pamit.


"Kamu bodoh, Lee. Kamu bodoh!" rutuk pria itu, dia terus memperhatikan pantulan ketiga orang yang sangat dia cintai melalui kaca spion, dan hal tersebut semakin membuat dadanya terasa sesak.


Namun, yang paling membuatnya tersiksa adalah dia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Maafkan Daddy, Sayang. Karena Daddy, kalian harus merasakan ini semua," lirih pria itu dengan air mata yang tak berhenti menderas.


Setelah perpisahan itu, Renata mengajak kedua anaknya untuk masuk ke unit apartemennya. Mereka menaiki lift, dan Renata mencoba mengajak Gio dan Shasha mengobrol.


"Semoga kalian betah ya," ucap Renata dengan senyum mengembang.


"Tentu saja, di mana pun asal bersama Ibu pasti kami betah. Apalagi nanti Daddy akan menyusul ke mari," jawab Shasha, pemikiran gadis kecil itu berbeda dengan kakaknya, jadi yang ia tahu, setelah urusan Lee selesai maka mereka akan tinggal bersama.


Mendengar itu, senyum di bibir Renata memudar. Namun, karena tak ingin merusak suasana, Renata tak menanggapi serius ucapan gadis kecil itu.


"Eum ... kalian lelah tidak?" tanya Renata mengganti topik.


"Kami hanya naik pesawat, Bu. Jadi, kami tidak lelah sedikitpun," jawab Gio lebih dulu, dan langsung disetujui oleh adik kembarnya.


"Yup, benar!"


"Kalau begitu, bagaimana kalau kita membuat makanan? Nanti Ibu akan pesan beberapa bahan untuk kita eksekusi. Setuju?"


Gio dan Shasha saling pandang. Senyum di bibir mereka merekah, setuju dengan ibunya. Saat pintu lift terbuka, kedua bocah itu kompak menganggukkan kepala.


"Setuju!" seru keduanya.


"Okey, come on!" balas Renata dengan bersemangat. Rasanya membahagiakan sekali berada di tengah-tengah malaikat kecilnya.