Hidden Mommy

Hidden Mommy
Bab 87. Kenapa Lama Sekali?



Hari berlalu dengan cepat, dan selama itu Gio dan Shasha masih tetap tinggal di apartemen Renata. Bahkan mereka sudah kembali ke sekolah, dan tentunya Renata harus segera menemukan pekerjaan, agar tidak bergantung pada orang lain.


Meskipun apa yang diberikan oleh Lee lebih dari cukup, tetapi dia tidak mau jika harus mengharap apalagi meminta-minta.


Selama ini dia adalah wanita mandiri, dan akan terus seperti itu sampai nanti. Bahkan jika bisa, dia ingin membawa Gio dan Shasha pergi ke luar kota.


Setiap hari ada saja yang Lee kirim ke apartemennya, dan semua itu adalah kesukaan dia dan kedua anaknya. Tidak ada waktu yang terlewat, pria itu masih terus berusaha untuk membuatnya luluh.


Namun, entah sudah setebal apa ego di hati Renata, sehingga dia tetap kukuh untuk tidak menemui Lee. Dia masih saja sakit hati ketika mengingat masa lalu, hingga sulit sekali rasanya melepas rasa dendam itu.


Wanita itu tidak sadar, jika apa yang ia lakukan perlahan-lahan membuat Gio dan Shasha kian jengah. Padahal mereka sudah berusaha untuk membuat Lee dan Renata berdamai, agar mereka bisa hidup bersama.


Di sekolah, Shasha menatap kotak bekal makan siangnya. Bocah cantik yang memiliki sifat cerewet itu tiba-tiba termenung, tak peduli jika jam istirahatnya terus bergulir.


Dan hal tersebut tentu membuat Gio merasa heran. Gio berinisiatif untuk membuka kotak bekal milik adiknya, lalu menyodorkannya ke arah Shasha.


"Makanlah ... nanti jam istirahatmu habis," kata pria kecil itu, menasihati sang adik agar lekas makan.


Namun, bukannya mengikuti apa yang dikatakan Gio. Shasha justru menautkan kedua tangannya sambil menundukkan kepala. Dia terisak kecil dengan air mata yang mulai berjatuhan.


"Hiks ... aku rindu Daddy. Kapan kita pulang ke rumah Daddy, Kak? Kenapa lama sekali?" rancau Shasha dengan suara yang tercekat-cekat. Selama berada di apartemen Renata, Lee memang sengaja tidak mengunjungi anaknya.


Bukan karena dia tidak rindu, tetapi dia ingin lihat apa yang akan dilakukan wanita itu, ketika Gio dan Shasha merengek ingin pulang ke rumah.


Lagi pula dia sedang menjalankan hukumannya, tidak etis jika dia tiba-tiba menampakkan wajah di hadapan Renata.


"Apakah pekerjaan Daddy belum selesai? Daddy tidak pernah meninggalkan kita selama ini," rengeknya, membuat hati Gio ikut merasa sakit. Bola mata bocah tampan itu sudah memanas, tetapi dia tidak boleh menangis.


Gio semakin menggeser duduknya, lalu merangkul bahu Shasha, hingga membuat gadis kecil itu mengangkat kepala. "Sebentar lagi. Makanya kamu jangan cengeng, kalau kamu seperti ini yang ada Daddy tidak akan menjemput kita."


Kata Gio sambil mengusap air mata Shasha, namun, bukannya berhenti tangis Shasha malah semakin deras.


"Shasha tidak mau hanya tinggal dengan Ibu, Shasha mau sama Daddy."


Gio menghela nafas panjang. Dia mulai berpikir untuk merencanakan sesuatu. Agar ayah dan ibunya segera berbaikan. Gio tidak mau melihat Shasha terus-terusan terluka, apalagi sang adik tidak mengerti apa yang tengah terjadi di antara kedua orang tuanya.


"Kalau begitu, kita harus bekerja lebih keras lagi. Adek mau bantu Kakak?" tanya Gio sambil memiringkan kepala, menatap dua mata Shasha yang basah.


"Bantu apa?"


"Apa itu menjual kesedihan?"


Gio mengulum senyum tipis, ketika melihat sang adik akhirnya berhenti menangis. Dia pun memilih untuk berbisik-bisik, mengusulkan sebuah rencana, agar Lee segera menjemput mereka.


Shasha menganggukkan kepala, tanda paham dengan instruksi yang diberikan oleh kakaknya.


"Kalau begitu sekarang kamu makan dulu. Habiskan!" kata Gio, dan Shasha langsung patuh.


***


Sementara di perusahaan, Zack sudah memperingati Lee agar pria itu berhenti keras kepala. Sebab sejak kepergian kedua anaknya, Lee jarang sekali makan dan beristirahat.


Waktunya hanya dihabiskan untuk bekerja, bekerja dan bekerja. Seolah pria itu tak mengenal kata lelah.


"Kak, tolong sekali ini saja dengarkan aku. Berhentilah mengerjakan proyek itu, dan segera makan! Kamu tidak bisa terus-terusan seperti ini, yang ada kamu akan sakit!" ketus Zack dengan emosi yang tak terkendali. Di balik rasa prihatinnya, rasa bersalah Zack jauh lebih besar, jadi dia tidak ingin Lee kenapa-kenapa.


"Singkirkan makanan itu!" titah Lee tanpa mengalihkan pandangannya pada laptop.


"Tidak, kamu harus makan. Tadi pagi sudah kamu melupakan sarapan, jadi, sekarang isi perutmu!" kata Zack dengan tegas. Namun, Lee adalah orang yang sama keras kepalanya.


"Aku bilang singkirkan makanan itu!" teriak Lee, kini disertai tatapan nyalang. Karena dia sama sekali tak berselera dengan semua itu. Ketika dia berhenti bekerja, pikirannya hanya tertuju pada Renata dan kedua anaknya.


Dan pada saat itu yang bisa ia lakukan hanyalah menangis seperti pria lemah.


"Tapi, Kak. Kemarin Regina sudah menyarankanmu untuk makan makanan yang sehat, apa kamu lupa?! Jika kamu—"


"Berhenti mengaturku, Zack!" sentak Lee dengan perasaan kesal. Jujur, dia juga tidak mau seperti ini, tapi dia bisa apa? Dia sudah berusaha melakukan yang terbaik, tetapi semua itu belum membuahkan hasil.


"Aku paling tahu apa yang aku butuhkan. Jadi, tolong ... berhenti menyuruhku melakukan apa yang tidak aku mau!" sambung Lee, sementara Zack akhirnya terdiam.


Dia tidak berani menjawab ucapan Lee, dan terus seperti itu, hingga Lee bangkit untuk mengambil dokumen yang berjajar di samping meja yang sebelumnya ditempati Renata.


Namun, baru beberapa langkah, tubuh Lee tiba-tiba ambruk, dan membuat Zack langsung membulatkan kelopak matanya.


"KAK LEE!"