
Setelah sarapan mereka langsung pergi ke taman hiburan dengan mengendarai andong, yaitu sebuah kereta beroda empat yang ditarik oleh seekor kuda.
Sebab jarak penginapan dengan tempat tujuan mereka tidak terlalu jauh. Selama perjalanan mereka terus dimanjakan oleh riak ombak yang berkejaran di lautan.
Aroma garam khas pantai benar-benar mendominasi sehingga membuat pikiran jauh lebih tenang. Bahkan sedari tadi Renata terus mengulum senyum sambil mendengarkan celotehan Shasha.
"Nanti sore kita pergi ke pantai ya, Dad. Aku ingin naik ayunan di sana," kata Shasha sambil menunjuk benda yang terombang-ambing karena tertiup angin.
"Of course, kamu terlihat sangat bersemangat yah?" balas Lee sambil menyelipkan anak rambut Shasha ke belakang telinga.
"Kata Kak Gio, kita harus menjadikan liburan itu berkesan. Jadi, aku ingin bermain sepuasnya."
"Yaiyalah, kalau tidak ada yang berkesan untuk apa liburan?" timpal Gio dengan mulut ketusnya.
"Tentu saja untuk mencari kesenangan," jawab Shasha sambil melengos. Bocah cantik dengan uraian rambut panjang itu semakin merapat ke arah Lee untuk mencari pembelaan, takut sewaktu-waktu Gio mengajaknya berdebat.
"Itulah kamu, selalu berpikir pendek dan ce-ro-boh!" cibir Gio dengan mengeja, yang membuat Shasha langsung merengek.
"Daddy!"
"Kak Gio hanya bercanda, Sayang. Kamu seperti tidak tahu saja," timpal Lee, berusaha untuk tidak membela salah satu di antara kedua anaknya.
"Ish, Daddy tidak seru!"
Shasha semakin mengerucutkan bibir, lalu bergelayut di leher ayahnya untuk menyembunyikan wajah. Sementara Lee hanya bisa terkekeh saat menanggapi sikap manja putrinya.
Tak berapa lama kemudian, mereka pun sampai di tempat tujuan. Wajah Shasha kembali sumringah saat melihat banyak wahana favoritnya.
"Daddy, come on! Kita langsung ke sana saja," ajak Shasha sambil menarik tangan ayah tak sabaran.
"Cih, dia ini, selalu saja seperti itu. Padahal dia sudah sering menaikinya," gerutu Gio dengan tatapan sebal.
"Bukankah Tuan Kecil yang bilang kalau kita harus menjadikan liburan itu hal yang berkesan. Jadi, sah-sah saja Nona Shasha bersikap seperti itu. Ayo kita menyusul," timpal Renata, seraya meraih tangan kecil putranya.
"Aku yakin, ibu juga seperti itu. Tidak sabaran sama seperti Shasha," ucap Gio ketika mereka melangkah bersama.
Renata langsung menoleh. "Kenapa bisa menebak seperti itu? Bukankah Tuan Kecil tidak pernah bertemu dengan ibu?"
"Haish, Aunty Re ini sama saja seperti Shasha, sedikit lola. Tidak hanya fisik, berdasarkan penilitian seorang anak juga mewarisi sifat kedua orang tuanya, apakah Aunty Re tidak pernah belajar tentang itu semua?" Gio tampak menyunggingkan senyum penuh ejekan.
Membuat wanita yang ada di sampingnya merasa tergagap.
"Iya juga sih. Jadi, Tuan Kecil sudah bisa membayangkan bagaimana wajah ibu kalian?"
"Hem. Bola mata mereka sama," lirih Gio nyaris tak terdengar.
"Anda bilang apa?"
"Aku bilang hampir sepenuhnya wajah Shasha mirip dengan ibu. Dia cantik, dan Daddy setuju dengan tebakanku," ujar Gio dengan menepuk dada bangga.
Sementara Renata tak mampu untuk menimpali ucapan putranya. Hingga tak terasa pegangan tangan mereka terlepas, karena Renata seperti orang linglung.
Batin Renata menggerutu. Otaknya terus bekerja, bagai kaset kusut yang terus diputar berulang-ulang.
"Kakak Cantik, ayo naik!" teriak Shasha sambil tersenyum lebar. Dia sudah berada di atas komedi putar, siap untuk bersenang-senang.
Mendengar namanya dipanggil Renata pun langsung mengangkat kepalanya. Hari ini dia mencoba untuk tidak berpikir yang tidak-tidak, karena semua itu hanya akan mengacaukan liburan kedua anaknya.
Renata berlari hingga berhenti tepat di sisi Lee. "Kalian saja yang naik, saya tunggu di sini." Kata wanita itu berusaha seceria mungkin.
"Padahal seru lho, Kakak Cantik akan menyesal karena menolak tawaranku."
Setelah mengatakan itu, wahana itu pun mulai berputar, Gio dan Shasha terlihat antusias hingga mereka saling meledakkan tawa.
Di tempatnya berdiri, Renata hanya bisa melambaikan tangan lengkap dengan uluman senyum manis. Tak sadar jika sedari tadi tingkahnya ditangkap oleh indera penglihatan Lee.
"Pakai ini untuk memotret mereka," ujar Lee sambil menyerahkan kamera pada Renata.
"Oh iya," balas Renata, dia menerimanya dengan suka cita, lalu mulai membidik gambar kedua anaknya.
"Tuan Kecil, Nona Shaha lihatlah ke mari," teriak Renata, membuat kedua anaknya langsung menoleh. Mereka mengeluarkan gaya masing-masing, tidak hanya satu, tapi sangat banyak hingga membuat Renata merasa sangat gemas.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Lee, dia ikut tersenyum lebar karena melihat Renata dan kedua anaknya tertawa lepas seperti itu.
"Bagus. Saya rasa mereka cocok menjadi model," gurau Renata sambil menunjukkan hasil tangkapan kameranya.
"Aku rasa itu semua karena kamu yang memotretnya. Soalnya aku tidak pandai memotret."
"Dari pada memotret anda lebih cocok duduk di depan komputer, Tuan," timpal Renata sambil terkekeh.
Senyum manis wanita itu seolah kembali menghidupkan sesuatu yang telah lama mati di dalam hati Lee. Hingga dia sangat bersyukur, Renata telah berada di sini.
Karena terlalu bahagia, keempat orang itu tak merasakan hawa panas yang dihasilkan oleh sinar mentari hari ini. Padahal sedari tadi mereka terus berputar-putar menikmati makanan dan permainan yang lain, bahkan karena terlampau hanyut Renata turut serta bermain dengan Lee dan kedua anaknya.
"Daddy, kakiku harus diisi baterai," kata Shasha setelah lelah tertawa.
Kening Lee mengeryit.
"Diisi baterai bagaimana?"
Shasha menghela nafas, lalu mengulurkan kedua tangannya. "Gendong." rengeknya, yang membuat Lee langsung terkekeh keras.
"Kamu ini ada-ada saja."
Lee langsung meraih tubuh Shasha dan menggendongnya.
"Kalau begitu, aku juga akan mengisi baterai kakiku," timpal Gio seraya melirik ke arah Renata. Namun, wanita itu justru berlari menjauh.
"Tapi saya tidak mau!" kata Renata sambil menjulurkan lidah. Kompak, ketiga orang itu langsung mengejar Renata, hingga kembali menciptakan ledakan tawa.