Hidden Mommy

Hidden Mommy
Bab 40. Hargai Keputusanku



Di dalam mobil, Ralia langsung menumpahkan air matanya. Dia tidak menyangka jika penghinaan itu akan sesakit ini, kenapa dari awal dia tidak berpikir ulang untuk menerima Arshlan? Kenapa dia begitu egois dengan mengedepankan nafsuunya tanpa tahu diri?


"Sayang, ada apa denganmu? Mereka bicara apa, hem?" tanya Arshlan dengan cemas sambil memegang kedua bahu Ralia yang berguncang.


Sementara gadis itu terus tergugu, beginikah jika kasta mereka berbeda? Yang miskin akan selalu diinjak-injak oleh si kaya?


Melihat Ralia yang terlihat sangat sedih, membuat hati Arshlan ikut terluka. Akan tetapi dengan bertanya di saat Ralia sedang diselimuti emosi, maka semuanya hanya percuma.


Dengan perlahan Arshlan menarik tubuh Ralia untuk didekapnya. "Maafkan aku. Seharusnya aku tidak pergi tadi."


Pria tampan itu berusaha untuk menenangkan kekasihnya dengan memberikan pelukan hangat dan juga beberapa kecupan.


Akan tetapi Ralia yang teringat betul dengan kalimat-kalimat yang keluar dari mulut ibu Arhslan, tidak bisa menghentikan tangisnya begitu saja.


Dadanya sangat sesak, karena dari dulu sampai sekarang, semua orang yang dikenalnya hanya bisa memandang sebelah mata. Seperti saat ia membutuhkan pertolongan untuk sang kakak, tak ada satupun yang mendekat, hanya karena mereka terlihat seperti pengemis jalanan.


Kenapa kita selalu menjadi korban orang-orang kaya yang tamak, Kak? Hatiku sakit sekali menerima penghinaan ini, bagaimana denganmu?


"Aku rasa cukup, Kak," ujar Ralia dengan suara yang bergetar. Dia berpikir bahwa selamanya keluarga Arshlan tidak akan pernah bisa menerima orang seperti dirinya.


Bukannya bahagia, dia hanya akan terus-menerus tersiksa.


"Apanya yang cukup?" Arshlan balik bertanya seraya menangkup salah satu pipi Ralia yang basah.


"Lepaskan aku. Lebih baik kita tidak perlu berhubungan, aku dan Kakak berbeda. Kakak adalah pria sukses dan mapan. Sedangkan aku? Aku tidak ada apa-apanya, Kak!" jawab Ralia dengan menggebu. Kalau boleh dia meminta, dia ingin jatuh cinta pada orang biasa saja.


Agar dia tidak perlu terlibat drama tentang masalah harta dan tahta. Dia tahu, dia pasti akan kalah.


"Kamu bicara, Sayang? Aku tidak pernah memandangmu dari segi itu. Aku tulus menyayangi kamu, karena hanya kamu yang membuat jantungku berdebar. Aku tidak peduli—"


"Tapi orang tua kamu peduli! Mereka butuh sosok menantu yang sepadan dengan putranya. Tidak seperti aku, tidak ada yang bisa dibanggakan dari aku, Kak, bahkan di saat aku ditanya tentang orang tuaku. Aku bingung, aku tidak tahu apa yang harus aku bicarakan pada mereka!" tukas Ralia dengan dada yang naik turun. Tangisnya kembali pecah, dan membuat Arshlan semakin merana.


Dia tidak tahu apa yang dibicarakan oleh keluarganya pada Ralia. Tapi dari semua ucapan dan tatapan mata gadisnya, dia sadar betul bahwa semua itu pasti sangat menyakitkan.


Pria tampan itu memejamkan matanya sejenak. Lalu berusaha untuk menangkup kedua sisi wajah Ralia. Akan tetapi gadis itu justru berpaling. Rasanya dia sudah tidak sanggup, jika harus kembali berhadapan dengan orang-orang itu, dan mendapatkan hinaan yang bertubi-tubi.


Akhirnya Arhslan memilih untuk keluar dari mobil. Namun hal tersebut justru membuat Ralia kalang kabut. "Kakak, mau ke mana?" Tanyanya sambil memegang lengan Arshlan.


"Aku harus bicara dengan Mama dan Papa," jawab Arshlan dengan sorot mata yang dipenuhi amarah.


"Tidak. Jangan bertengkar, aku tidak mau hanya karena aku kalian bertengkar. Aku mohon jangan," ujar Ralia, dia cukup tahu diri, dia tidak mau keluarga Arshlan semakin benci padanya hanya karena pria itu membela dia.


"Aku hanya ingin bicara baik-baik dengan mereka. Agar mereka tidak semena-mena padamu. Kalau kamu tidak percaya, ayo ikut denganku."


"Kak, aku tidak apa-apa, ayo pulang!"


Ralia menggelengkan kepala, tidak setuju dengan ide Arshlan. Akan tetapi Arshlan yang sudah dikuasai amarah, tidak mau mendengarkan Ralia. Dia melanjutkan niatnya untuk kembali masuk ke dalam rumah.


"Kak!" panggil Ralia dengan berteriak. Namun, langkah Arshlan justru semakin lebar. Dan dengan terpaksa Ralia pun ikut turun, dia mengekor pada Arhslan yang menemui keluarganya.


Masih di meja makan, satu keluarga itu sedang menikmati dessert setelah makan siang. Namun, mereka dikejutkan dengan kedatangan Arshlan yang terus menghunuskan tatapan tajam.


"Arsh," panggil sang ibu.


"Apa yang kalian bicarakan pada Ralia?" cetus Arshlan tanpa basa-basi, sambil menatap semua orang secara bergantian, sementara Ralia yang berhasil menyusul, langsung menarik lengan Arshlan.


Dia tidak mau ada keributan, apalagi semua itu terjadi karena dirinya. "Kak, lebih kita pulang!"


Arshlan seolah tuli, bukannya mengindahkan ajakan Ralia, dia justru menggenggam tangan gadis itu dengan erat, seolah menunjukkan pada keluarganya, bahwa dia benar-benar mencintai gadis itu apa adanya.


"Arshlan, Mama hanya bertanya—"


"Kalian membahas soal kasta? Memangnya ada apa dengan kasta Ralia? Apakah dia salah berdiri di sisiku?" tanya Arshlan lagi dengan berteriak, membuat semua orang hanya bisa diam, karena untuk pertama kalinya mereka melihat Arshlan marah besar.


"Jika kalian berpikir bahwa aku hanya memandang Ralia dari segi harta. Kalian salah! Di mataku Ralia berbeda. Dia sudah berada di sisiku selama lima tahun, melayani semua kebutuhanku, tanpa meminta bayaran. Karena yang dia tahu aku baik padanya. Padahal selama ini aku hanya membantu dia sedikit, tetapi dia selalu memberiku lebih. Itu yang membuat aku yakin, bahwa dia adalah yang terbaik untukku. Selama ini, aku selalu patuh pada Mama dan Papa, aku tidak pernah membantah pada perintah kalian. Jadi, tolong … untuk kali ini saja, hargai keputusanku untuk menikahi Ralia. Jika kalian tidak bisa menerimanya, maka aku juga tidak akan pernah menikah untuk selamanya!" jelas Arshlan dengan penuh kesungguhan.


Lantas setelah itu, dia langsung menarik lengan Ralia untuk pergi dari hadapan keluarganya. Karena jika berlama-lama, dia tidak yakin hanya itu yang akan keluar dari mulutnya.


***