
Dunia benar-benar sempit, itulah yang dirasakan oleh Renata sekarang. Karena di manapun dia berpijak, selalu saja berhubungan dengan masa lalunya. Dia tidak pernah berpikir bahwa Regina adalah bagian dari keluarga Lee, namun sekarang dia tidak bisa memungkirinya.
Entah apa yang membuat Regina bisa tahu dengan mudah di mana dan dengan siapa dia bekerja. Apakah mobil pemberian Lee memiliki ciri khusus? Dan jawabannya iya, tetapi sayangnya Renata tidak tahu akan hal itu.
"Aku tidak menyangka dunia sesempit ini, selain kamu adalah teman Arshlan, ternyata kamu juga bekerja dengan keluargaku," ujar Regina dengan senyum mengembang. Dia tidak curiga, kalau ternyata Renata adalah seseorang yang selama ini Lee cari. Sebab Regina selalu berpikir positif pada setiap orang yang ditemuinya.
Terlebih di mata Regina, Renata tidak memiliki ciri khusus yang menandakan bahwa dia adalah ibu dari Gio dan Shasha.
"Iya, Gin. Aku juga tidak menyangka, kalau kita berdua selalu terlibat dengan orang yang sama-sama kita kenal. Tapi kita baru menyadarinya," balas Renata, dia tersenyum palsu. Karena mulai merasakan perasaan yang tidak menentu.
"Benar, kalau begitu ayo naik. Aku harus segera bersiap-siap, Re," timpal Regina, karena dia tidak mau terlambat untuk menghadiri makan malam keluarganya yang diadakan secara mendadak.
Kedua wanita cantik itu pun berjalan beriringan untuk sampai di unit apartemen masing-masing.
"Kalau begitu, kamu kenal dengan Gio dan Shasha dong?" tanya Renata, rasanya tidak masalah jika ia mengorek sedikit informasi dari Regina.
"Tentu saja, mereka adalah anak-anak yang menggemaskan. Kadang mereka pergi ke rumah sakit untuk periksa gigi bersama Aunty Jennie. Kalau kamu tahu dari mana tentang mereka?" Regina balik bertanya.
"Ah waktu itu mereka sempat datang ke kantor, lalu kami berkenalan." Renata bercerita dengan bibirnya yang senantiasa melengkung sempurna. Teringat dengan pertemuan pertama antara dia dan anak-anaknya, saat itu dia benar-benar bahagia.
"Wah benarkah? Jarang-jarang lho si kembar mau berkenalan dengan orang asing. Kata Kak Sofia, mereka lebih suka bermain di rumah."
"Oh ya? Apakah itu alasan mereka begitu dijaga ketat?" tanya Renata dengan kening yang berlipat-lipat. Kini mereka sudah berada di dalam lift.
"Benar, Kak Lee sangat menyayangi kedua anaknya, begitupun juga kami. Jadi, baik dia maupun keluargaku, tidak akan membiarkan si kembar dalam bahaya. Apalagi pergi sembarangan dari rumah."
Mendengar jawaban itu, Renata langsung menundukkan kepala. Jadi, ia benar-benar harus mendapatkan hak asuh Gio dan Shasha, kalau tidak, yang ada dia akan kalah, karena Arshlan pun tidak mungkin terus-menerus melindunginya.
***
Lee tidak tahu jika ada makan malam bersama di rumah kedua orang tuanya. Ketika dia dan Zack datang, sudah ada sebagian keluarganya yang sibuk berkutat di dapur.
"Mom, ada apa ini?" tanya Lee ketika ia batu saja masuk ke mansion.
"Grandma dan Grandpa membuat acara makan malam dadakan," jawab Jennie apa adanya, karena semua ini memang ide Zoya. "Zack, jangan langsung pulang. Makan malam dulu."
"Tentu saja, Aunty. Aku tidak mungkin pulang dalam keadaan lapar," balas Zack dengan bercanda. Dia pun segera masuk ke dalam dapur, dan kebetulan di sana sudah ada ibunya—Eliana.
"Stop!" teriak Eliana ketika Zack hendak mengambil makanan menggunakan tangannya. "Cuci tangan dulu sana, Anak Bujang!"
"Aku hanya mencicip, Mom."
"Sama saja, tanganmu itu kotor!" sentak Eliana sambil menggeplak punggung tangan Zack. Membuat pria itu mengaduh kesakitan.
"Mommy, benar-benar tega. Aku ini sudah lama tidak pulang ke rumah, tapi Mommy tidak merindukanku sedikitpun."
"Itu pilihanmu sendiri, siapa suruh menyewa apartemen." Eliana mengibaskan rambut, lalu memilih untuk melanjutkan acara masak-memasaknya.
Mereka terlihat seperti keluarga besar, sebab total cucu Ken dan Zoya sekarang ada lima belas orang, belum termasuk cicitnya.
"Siapa yang tidak ada di sini?" tanya Ken sambil memperhatikan wajah semua orang satu persatu, karena sudah dimakan usia pandangan Ken pun mulai berkurang.
"Queen, Dad. Dia tidak bisa datang karena acaranya benar-benar mendadak, sementara dia tinggal di negara yang berbeda," jawab De, mewakili putri pertamanya yang sudah menikah.
"Tidak masalah, Sayang. Nanti saat pernikahan Regina atau Grizell kita bisa kembali berkumpul bersama," timpal Zoya, sementara yang disebut namanya langsung saling pandang. Ya, mereka dua orang wanita yang masih sama-sama melajang.
"Bukan mereka saja, masih banyak cucu Grandma dan Grandpa yang belum sold out. Jadi, masih banyak pesta yang tertunda," seru Ziel sambil terkekeh, yang langsung mendapat cubitan dari istrinya. "Kenapa, Sayang?"
"Jangan berbangga diri, mentang-mentang sudah menikah duluan," kata Gloria dengan mata memicing. Dan ternyata wanita itu adalah istri Ziel.
"Lho itu kan juga karena kamu yang meminta kepastian. Makanya aku menikahi kamu cepat-cepat."
"Tapi—"
"No, no. Tidak ada tapi-tapian, anak kita sudah mau dua."
"Ziel, Glor, kenapa malah berdebat? Malu dong sama anak kalian," sambar Aneeq, yang membuat bocah tampan bernama John menjadi pusat perhatian.
"Aku tahu aku tampan, tapi berhentilah menatapku seperti itu," kata John dengan narsis, membuat semua orang akhirnya tekekeh.
Suasana malam itu benar-benar hangat, meskipun keluarga mereka tak begitu lengkap. Banyak canda dan tawa yang mengudara, tetapi hati siapa yang tahu, sebab semua itu masih tak mampu mengisi ruang kosong yang ada di hati Lee.
"Sayang, main dulu sama yang lain ya. Jangan bertengkar okey?" kata Lee setelah makan malam itu usai, beberapa anggota keluarganya berpencar. Termasuk dia dan Aneeq.
Karena tak ingin informasi ini didengar dengan sembarangan. Apalagi diketahui oleh Gio dan Shasha. Mereka pun pergi ke ruang kerja.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Aneeq sudah tak sabar.
Bukannya lekas menjawab. Lee lebih dulu tersenyum lebar. "Positif."
Mendengar itu Aneeq pun ikut merasa senang. Namun, ada was-was juga, karena dia menduga ada dendam di hati Renata.
"Mulailah berhati-hati, terkadang balas dendam wanita bisa lebih kejam dari pada pria. Daddy yakin, dia menyimpan itu di dalam hatinya. Lekas jelaskan semuanya, supaya dia bisa berpikir ulang, untuk merealisasikan apa yang sudah direncanakannya."
"Iya, Dad. Aku sudah mengatur semuanya. Weekend nanti aku akan membawanya berlibur bersama anak-anak. Aku akan terus mengulik semua tentangnya, hingga dia terjebak dengan penyamarannya sendiri."
"Good luck, My Boy!"
***
Nih gue kasih silsilah lagi, tapi belum nyampe cicit ya 😂