
Lee menceritakan kejadian semalam pada Zack. Tentang Renata yang sudah mengakui bahwa dirinya adalah Alicia, dan juga pengakuan tentang rasa cinta yang selama ini ia pendam.
Namun, sayang seribu sayang, semua penjelasan atas kesalahpahaman lima tahun lalu tak lantas membuat Renata menjadi luluh.
Hingga membuat Zack kian merasa bersalah. Dia merasa tak tega, saat melihat Lee menangis di hadapannya. Pria yang dia kenal tangguh, kini lemah tak berdaya, di bawah kungkungan rasa penyesalan.
"Jangan seperti aku, Zack. Jangan hidup seperti aku ...." Lee terus mengulang kalimat itu, berharap apa yang menimpa dirinya tidak terjadi pada sang adik sepupu.
Tanpa segan Zack pun memeluk tubuh Lee, hingga membuat pria itu menangis di bahu Zack. Tidak ada lagi rasa malu, karena batinnya terus dihantam tombak tak kasat mata.
"Jika kamu mencintai seseorang, kejarlah dia dan jangan lepaskan. Tapi, jika kamu tidak sanggup untuk melakukan itu, maka mengikhlaskan adalah jalan yang terbaik. Jangan, jangan seperti aku ...."
Zack hanya mampu terdiam ketika Lee berkata seperti itu. Usianya sudah tidak muda, kelak dia pun akan menikah dan memiliki sebuah keluarga.
Dan dia berharap, sebesar apapun ujian pernikahannya, dia akan menjadi sosok pria yang berpendirian. Agar tidak menyesal di kemudian hari.
***
Setelah menemani Lee, Zack pun pergi untuk mencari Fenny, sebab dia diberi tugas untuk mengantar wanita itu ke apartemen Renata.
Selama dia tinggal di rumah ini, Fenny benar-benar menghindarinya. Membuat dia kian penasaran, apa yang membuat wanita itu bersikap demikian.
Seperti saat ini, mereka berpapasan namun Fenny segera mengubah haluan kakinya, agar tidak bertemu dengan Zack. Akan tetapi usaha wanita itu hanyalah sia-sia.
"Nanny Twins!"
Deg!
Dipanggil seperti itu saja rasanya jantung Fenny langsung bergemuruh. Apalagi jika harus berhadapan langsung dengan orangnya.
Fenny mematung, sementara Zack mulai mendekat. Wanita itu merasakan hawa panas ketika Zack sudah berada di sampingnya, sontak dia pun menundukkan kepala.
"Aku akan mengantarmu ke apartemen Nona Re, jadi bersiaplah, karena kita harus belanja terlebih dahulu," kata Zack dengan nada biasa. Namun, entah kenapa di telinga Fenny, suara itu terdengar sangat menggoda, hingga dia mengambil jarak, dengan melangkah ke samping.
Kening Zack berkerut.
"Belanja apa maksudnya, Tuan? Sepertinya Tuan Lee tidak memberi perintah itu," jawab Fenny apa adanya.
Zack memperhatikan kaki Fenny yang bergetar, sementara kedua tangan wanita itu saling menaut entah karena takut atau apa. Yang jelas, Zack dibuat kesal sekaligus gemas.
"Kebutuhan Twins selama ada di apartemen Nona Re. Kamu sudah tahu kan kalau mulai sekarang mereka akan tinggal di sana?"
Fenny hanya mengangguk singkat, sebuah tanggapan yang membuat Zack mengusap-usap dagunya. Dia terus menatap Fenny dengan intens, hingga tercetus ide jahil untuk mengerjai wanita itu, dengan sengaja Zack mendekati Fenny hingga jarak di antara mereka semakin terpangkas.
Dan hal tersebut membuat Fenny ketar-ketir. Dia berusaha menghindar, namun lagi-lagi Zack melakukan hal yang sama, hingga akhirnya membuat Fenny tersandung kakinya sendiri, akibat terlalu tergesa-gesa.
Dengan sigap Zack menahan tubuh wanita itu, Fenny semakin dibuat bergetar kala tangan besar milik Zack menyentuh pinggangnya.
Apalagi mata mereka saling tatap dengan jarak yang sangat dekat. Sumpah demi apapun, Zack memang sangat tampan, dan hal tersebut membuat jantung Fenny terasa tidak aman.
Glek!
Suara tegukan ludah itu terdengar sangat jelas, Fenny membelalakkan mata dan dengan tidak tahu malu dia bangkit lalu mendorong dada Zack.
"Dia aneh, tapi juga menggemaskan."
***
Fenny dan Zack berbelanja di salah satu mall besar yang ada di ibu kota. Sedari tadi wanita itu hanya bisa mengekor dan menuruti semua perintah Zack.
Dan hal tersebut membuat Zack tak bisa menahan diri lagi, dia sengaja berhenti secara mendadak, membuat Fenny menabrak punggungnya.
"Aduh!" keluh wanita itu sambil memegangi hidungnya. Zack berbalik dengan mata yang menyipit.
"Tuan, kalau anda ingin berhenti tolong—"
Deg!
Begitu Fenny mengangkat kepala ternyata Zack sudah menatap ke arahnya. Kata-kata yang hampir keluar seolah tertelan kembali hingga membuat wanita itu bergeming.
Zack memajukan wajah, hingga membuat mundur.
"Sepertinya aku tidak bisa menahan lebih lama lagi," kata Zack dengan ambigu. Membuat Fenny reflek menelan ludahnya.
"Mak-maksud anda apa, Tuan?" tanya Fenny dengan terbata-bata. Dia semakin mundur ketika Zack terus melangkahkan kakinya, hingga kini punggung Fenny menabrak dinding, Zack langsung mengunci tubuh mungil itu menggunakan kedua tangannya.
"Tu—"
"Kenapa? Ingin menghindariku lagi? Dari awal sampai sekarang, apakah kamu tidak bosan bersikap seperti itu padaku?" tanya Zack dengan tatapan penuh selidik. Dia seolah tak peduli ada di mana, hingga terus memojokkan Fenny.
"Ma—" Fenny langsung menunduk ketika tak sengaja menatap mata Zack. Demi apapun, jantungnya terus berdebar kencang. "Maafkan saya, Tuan. Tapi saya benar-benar tidak bermaksud menyinggung anda."
"Lalu? Apa alasanmu? Awalnya aku ingin mengabaikan sikap menyebalkanmu itu, tapi semakin ke sini, kamu malah semakin mencolok. Bicara dengan jujur!" sentak Zack di ujung kalimatnya, dia juga memajukan wajah membuat Fenny langsung beringsut takut. Kali ini Fenny merasa tidak akan selamat, tetapi detik selanjutnya dia malah dibuat tercengang saat Zack melontarkan pertanyaan.
"Apakah wajahku menyeramkan? Atau ada sesuatu yang membuatmu takut? Aku sudah berpikir lebih dari seribu kali, tapi jawabannya tetap sama. Aku tampan, aku seksi," rancau Zack dengan penuh percaya diri.
Fenny mengernyit, kenapa pria ini malah terlihat narsis sekali?
"Tuan, maaf—"
"Jangan hanya meminta maaf, tapi jawab pertanyaanku!"
"Sa—saya hanya. Saya ...."
Zack masih menunggu sambil memperhatikan bibir Fenny yang bergerak-gerak. Dia tidak tahu apa yang membuat Fenny begitu menarik, hingga dengan cepat Zack mengecup bibir wanita itu.
Zack terlihat mengulum senyum, sementara Fenny pias, nyaris tak ada darah yang mengalir di tubuhnya. Hingga tiba-tiba ....
Bruk!
Tubuh Fenny langsung ambruk dan Zack hanya bisa melongo.
***
Ciayooooo hadiahnya mana😝😝😝