Hidden Mommy

Hidden Mommy
Bab 88. Jiwa Raganya Diserang



Gio dan Shasha pulang sekolah dengan wajah murung, ketika Fenny bertanya, kedua bocah itu hanya menjawab dengan gelengan kepala. Akan tetapi Fenny merasa bahwa ini semua ada sangkut pautnya dengan sang tuan, dia yakin anak asuhnya merindukan kehadiran sang ayah yang sudah lama tidak datang.


Setelah masuk ke dalam mobil, Fenny kembali melirik dua bocah itu. Mereka sama-sama bergeming dan menutup mulut rapat-rapat, seolah tak ingin ditanya apapun.


"Kalian kenapa sih? Kok tiba-tiba cuek begitu pada Nanny?" tanya Fenny dengan wajah yang dibuat sedih. Dia ingin memancing Gio dan Shasha, agar kedua bocah itu mau bicara dengannya.


Akan tetapi usaha Fenny tak langsung berhasil. Karena mereka hanya diam saja. Fenny menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mencoba untuk mencari cara. Hingga akhirnya tercetuslah sebuah pertanyaan. "Apakah kalian merindukan Daddy?"


Tepat, hal tersebut sukses membuat Gio dan Shasha kompak mengangkat kepala, mereka sama-sama melihat ke arah Fenny yang kini duduk di tengah.


"Bagaimana Nanny bisa tahu?" tanya Gio lebih dulu. Padahal dia sedang berakting, dengan menjual kesedihan. Agar para orang dewasa, mau mengerti perasaan mereka yang terluka akibat perpisahan ini.


Fenny mengulas senyum tipis, karena merasa tebakannya benar.


"Tentu saja Nanny tahu. Bukankah Daddy sudah lama tidak mengunjungi kalian?"


"Benar, apakah Daddy sudah tidak sayang pada kami? Kenapa Daddy tidak pernah datang?" timpal Shasha dengan suara yang mulai terdengar serak. Dia berusaha untuk menangis, agar Fenny semakin kasihan padanya.


Mendengar itu, senyum di bibir Fenny langsung menghilang. Dia tahu bahwa perpisahan ini tidak bisa diterima oleh anak seusia Gio dan Shasha.


Apalagi dia juga tahu, kalau sebelumnya Renata menghilang selama lima tahun. Tidak ada yang lebih baik, ketika tinggal dengan salah satunya.


Karena merasa prihatin, Fenny pun merangkul bahu Gio dan Shasha, lalu mengelus kepala keduanya. "Jangan sedih ya. Daddy sedang bekerja untuk kalian, sebentar lagi Daddy pasti akan pulang."


Namun, Fenny malah mendengar suara Shasha yang sedang terisak-isak. Gadis kecil itu tertunduk dengan air mata yang bercucuran. "Tapi Shasha rindu Daddy. Shasha ingin pulang ...." Rengeknya.


"Sabar, Adek. Nanti biar Kakak minta Ibu telepon Daddy lagi yah. Jangan menangis seperti itu, nanti pekerjaan Daddy tidak akan selesai," kata Gio berusaha menenangkan sang adik. Dia pun turut menggenggam tangan Shasha, membuat Fenny merasa sangat haru.


Dia juga jadi ingin menangis sekarang. Dia tidak tahu, kalau kedua anak asuhnya sedang bermain drama, agar bisa bertemu dengan Lee secepatnya.


Di tengah isak tangis yang mengharu biru itu, ponsel Fenny berdering, menampilkan nama kontak sang pacar. Dia berpikir bahwa Zack ingin mengingatkannya untuk makan siang.


Namun, dugaannya salah. Sebab ketika dia menerima panggilan itu, Zack bicara dengan begitu tergesa. "Di mana Twins?"


"Twins? A—ada. Mereka ada di sampingku, kenapa?" jawab Fenny tergagap.


"Apakah mereka sudah pulang sekolah?"


"Kalau begitu berikan ponselnya pada supir!" titah Zack dengan nada suara yang terdengar sangat serius. Membuat Fenny tak bisa membantah, wanita itu menyerahkan ponselnya pada supir, karena sepertinya ada sesuatu yang ingin mereka bicarakan.


Tak ada yang bersuara, karena si kembar pun menyimak obrolan itu dengan seksama.


"Baik, Tuan," kata sang supir, setelah mendengar penjelasan Zack. Lalu setelah beres, Zack segera mematikan panggilan secara sepihak. Karena dia harus pergi untuk mengurus administrasi rumah sakit.


"Ada apa, Pak?" tanya Fenny sambil menerima benda pipih miliknya.


"Kita disuruh pergi ke rumah sakit," jawab sang supir apa adanya. Dan informasi tersebut membuat Fenny langsung merasa cemas, dia berpikir bahwa terjadi sesuatu pada Zack.


"Memangnya ada apa, Pak? Apakah Tuan Zack terluka?"


"Saya juga tidak tahu. Saya hanya disuruh untuk mengantar kalian ke sana."


Fenny langsung menatap dengan nanar, sementara perasaan cemasnya kian membuncah hebat. Dia melirik ke arah ponselnya, berharap bahwa Zack akan baik-baik saja.


Sementara Gio dan Shasha saling pandang, tangis mereka jadi hilang gara-gara sang pengasuh mendapat telepon dari Zack.


***


Sesampainya di rumah sakit, Zack langsung menyambut ketiga orang itu, membuat Fenny terperangah dengan mulut yang sedikit terbuka. Karena ternyata Zack tidak apa-apa.


"Uncle, siapa yang sakit?" tanya Gio, membuat tatapan mata Zack kian menjadi sayu, dia mengusap kepala Gio dan Shasha, merasa bersalah pada kedua bocah itu.


"Kita lihat sama-sama yah, supaya kalian tahu sendiri," kata Zack, lalu mengangkat tubuh Shasha, sementara tangan kanannya menggandeng tangan Gio.


Sebelum melangkah dia melirik ke arah Fenny, pria itu tersenyum, menghilangkan segala kecemasan di dada wanita itu. "Ayo!"


Keempat orang itu pergi ke ruangan di mana Lee sedang dirawat. Karena Zack langsung membawa kakak sepupunya ke rumah sakit terdekat, ketika melihat dengan kepalanya sendiri, bahwa Lee tidak sadarkan diri.


Akibat tak ada asupan gizi yang masuk ke tubuh Lee, membuat imun pria itu kian menurun drastis. Belum lagi masalah yang lain. Jiwa dan raganya benar-benar diserang, sehingga tak menghasilkan tenaga apapun.


Ketika pintu ruangan itu terbuka, kedua bocah itu langsung terhenyak, karena mereka melihat sang ayah yang terbujur lemah di atas brankar dengan jarum infus yang menancap di tangannya.


"DADDY!" teriak Gio dan Shasha, lalu mereka langsung menghampiri Lee dan menangis di sisi pria itu.