Hidden Mommy

Hidden Mommy
Bab 54. Menonton Film



Pagi harinya.


Zack menjemput Lee di rumahnya seperti biasa. Namun, ada sesuatu yang mengganjal di dalam hati pria itu, mengenai keadaan Renata. Sedikitpun dia tidak berani untuk menghubungi wanita itu, karena dia takut Lee berpikir macam-macam padanya.


Semalam Lee tidak lagi datang ke mansion, sebab kedua anaknya akan menginap di rumah besar keluarga Tan.


"Pagi, Kak," sapa Zack saat Lee baru saja menuruni anak tangga. Wajah pria itu terlihat kusut, dengan sorot mata sayu.


"Pagi, Zack, langsung ke kantor saja," balas Lee seraya melangkah keluar. Karena suasana hatinya benar-benar sedang tidak stabil.


Menyadari perubahan sikap Lee, Zack jadi enggan untuk bertanya mengenai Renata. Karena dia merasa bahwa saat ini bukanlah waktu yang tepat.


"Kamu tidak sarapan, Kak?" tanya Zack, dia mencoba untuk mensejajarkan langkah, lalu dengan cepat membuka pintu saat Lee sudah sampai di sisi mobil.


"Suruh Renata menyiapkannya."


"Baik, Kak."


Patuh, Zack pun tidak berani untuk kembali mengeluarkan suara. Dia segera masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi. Membawa kendaraan roda empat itu merayap kembali di jalan raya.


Zack melirik sekilas dari balik spion, ingin tahu bagaimana keadaan Lee. Dan tepat pada saat itu, Lee bicara tanpa mengangkat wajahnya. Seolah tahu jika Zack sedang menatap ke arahnya.


"Hentikan dana ke perusahaan ayah Sofia!" cetus Lee tiba-tiba, yang membuat Zack langsung terhenyak.


Pria itu mengangkat kedua alis, hingga kelopak matanya membesar. "Kenapa, Kak? Bukankah kamu bilang tidak ingin mencabut itu semua setelah kalian bercerai?"


"Dia sudah melanggar kesepakatan, jadi aku tidak bisa bertoleransi lagi padanya."


Lee ingin memberi pelajaran pada Sofia karena sudah berani menyentuh Renata, padahal dia sudah menyuruh wanita itu pergi tanpa mengganggu kehidupan di sekitarnya.


Zack bergeming sejenak, dia seperti sedang memecahkan teka-teki yang dibuat oleh kakak sepupunya. Jangan-jangan semalam Renata memiliki masalah dengan Sofia.


"Apa ini semua ada sangkut pautnya dengan Renata?" tanya Zack dengan ragu, dan hal tersebut sukses membuat Lee mengangkat wajah lengkap dengan tatapannya yang setajam elang.


"Lakukan saja apa yang aku minta."


Mendengar jawaban itu, tentu nyali Zack menciut seketika. Dia pun hanya mengangguk paham, tak ingin membantah apalagi mengorek informasi lebih dalam.


Setelah sampai di perusahaan, Lee sedikit menarik bibirnya, karena melihat Renata yang datang lebih dulu. Sementara Zack terus menelisik sisa luka yang ada di sudut bibir wanita itu.


Dia yakin semalam Renata diserang oleh seseorang.


"Oh tentu, Tuan ingin sarapan apa?" jawab Renata dengan cepat, lalu mengalihkan pandangan ke arah Lee. Namun, bukannya menjawab dengan cepat, Lee justru terdiam dan terus memperhatikan wajah cantik Renata.


"Makanan yang sering kamu buat di pagi hari."


Renata mengernyit.


"Maksudnya, Tuan?"


"Kamu sarapan apa pagi ini?"


"Roti bakar dengan telur setengah matang, Tuan."


"Aku mau itu," jawab Lee dengan tatapan yang entahlah, Renata tidak bisa mengartikannya.


"Baik, kalau begitu saya akan turun ke bawah," ujar Renata, dan Lee hanya menganggukkan kepala lengkap dengan senyuman. Melihat itu, Zack jadi paham, sebab yang bisa mengubah suasana hati Lee, hanya wanita yang baru saja keluar dari ruangannya.


**


Suasana ruangan Lee nampak tenang hingga menjelang siang. Karena mereka terus disibukkan dengan banyaknya pekerjaan. Akan tetapi tiba-tiba semua orang yang ada di dalam sana dikejutkan dengan kedatangan si kembar.


"Sayang, kalian datang dengan siapa?" tanya Lee, ketika Gio dan Shasha masuk. Baru saja Gio ingin menjawab, tiba-tiba Fenny menyusul.


"Mereka datang dengan saya, Tuan," kata Fenny sambil menunduk sopan. Tidak tahu kenapa, Gio dan Shasha mengajak dia untuk pergi ke perusahaan ayahnya.


"Ya, kami ingin mengajak Daddy menonton film, bisakah kita pergi siang ini?" sambar Shasha dengan wajah riang.


Lee mengangkat satu alisnya, dan diam-diam melihat Renata yang tampak sedang menguping pembicaraan di antara mereka.


"Boleh, ada film bagus yah?"


"That's right, Dad. Temanku kemarin bercerita, katanya mereka habis menonton keluarga cemara. Aku jadi ingin pergi," timpal Gio, dan langsung disetujui oleh Shasha.


Padahal mereka berdua sedang merencanakan sesuatu agar bisa pergi bersama Renata.


"Dan aku juga ingin mengajak Kakak Cantik, boleh 'kan, Dad?" ujar Shasha, membuat Renata merasa tertangkap basah.


Lee tersenyum tipis, lalu menganggukkan kepala. Kalau sudah menyangkut Renata, tentu dia juga tidak bisa menolak. "Tentu saja, kita akan pergi bersama."


Tepat pada saat itu, Gio dan Shasha langsung tersenyum sumringah.