
Setelah menghabiskan beberapa jam di pesawat. Akhirnya mereka sampai di suatu pulau yang sudah disewa oleh Lee. Mereka langsung disambut dengan hangat dan ramah oleh para petugas yang berjaga di sana.
"Lihat, pantainya indah sekali," seru Gio sambil menunjuk lautan biru yang mereka lewati. Dua bola matanya berbinar, namun hal yang paling membuatnya senang adalah keberadaan Renata di sini. "Apakah kita akan langsung bermain?"
"Kita istirahat dulu, Sayang. Tadi pagi kalian hanya sarapan roti, jadi sekarang harus makan nasi," balas Lee seraya mengusap puncak kepala putranya.
"Memangnya Tuan Kecil tidak lelah?" timpal Renata, sedari tadi dia memperhatikan Gio dan Shasha yang selalu tampak bersemangat. Mungkin karena dua bocah itu sudah terlalu jenuh bermain di rumah.
"Tentu saja tidak. Ini liburan pertama kami, jadi tidak ada alasan untuk lelah. Karena sebelumnya Mommy tidak pernah mengizinkan kami pergi jauh, terlebih Daddy sangat sibuk," jawab Gio dengan gamblang, yang membuat Renata langsung berpikir bagaimana sebenarnya hubungan antara Lee dan Sofia.
Dia merasa banyak teka-teki yang tidak bisa dia pecahkan dengan mudah.
"Ah ayolah, bicaranya nanti saja. Aku sudah sangat lapar!" seru Shasha menghentikan obrolan kecil itu.
Lee mengulum senyum.
"Mau Daddy gendong?" tawar pria itu, dan Shasha langsung menganggukkan kepala.
"Tawaran pria tampan tidak boleh dilewatkan," kata gadis kecil itu yang membuat semua orang terkekeh. Termasuk Renata, dia tak habis pikir sikap centil putrinya itu menurun dari mana.
Matahari melakukan tugasnya dengan sangat baik. Hingga siang itu terasa sangat terik. Keempat orang itu diantar ke penginapan yang tak jauh dari pantai, dan Renata langsung menanyakan keberadaan kamarnya.
"Di sini," jawab Lee, Renata langsung membulatkan kelopak matanya. Apa maksudnya di sini?
"Yang benar saja, Tuan. Kita tidur satu kamar?" tanya Renata dengan menggebu. Kali ini dia tidak bisa mengikuti kemauan Lee.
"Iya, kita tidur berempat, karena penginapannya memang begini. Hanya kasurnya saja yang terpisah," jelas Lee. Ya, tapi tahukah kalian, ini semua hanya taktiknya, agar Renata tidak perlu terpisah jauh dari dia dan kedua anaknya.
Renata mengerutkan pangkal hidungnya. Jadi ini semua bukan taktik Lee? Tapi kenapa harus berempat sih? Dia yakin, tidak akan bisa tidur jika akhirnya begini.
"Apa Aunty Re keberatan tidur dengan kami?" tanya Shasha dengan wajah memelas. Membuat Renata jadi serba salah.
Astaga, Re, nikmati saja, nikmati saja semuanya dengan anakmu. Jangan pedulikan pria jahat itu.
Renata mengulum senyum, lalu memposisikan dirinya agar sejajar dengan Shasha. "Tidak kok. Hanya saja saya tidak biasa tidur dengan seorang pria asing."
"Maksudnya bukan seperti itu, Tuan Kecil. Tuan Lee itu bukan siapa-siapa saya, akan terasa canggung kalau kami tidur satu kamar."
"Lalu supaya bisa tidur satu kamar itu bagaimana?" tanya Shasha dengan pupil matanya yang membesar.
Semua orang terdiam, hingga tiba-tiba Gio berkata. "Itu artinya kalian harus menikah."
Mendengar itu tentu Renata langsung membulatkan kelopak matanya. Dia tidak menyangka, dari mana pemikiran bocah itu? Apakah usia lima tahun sudah mampu memikirkan urusan orang dewasa?
"Sudahlah lupakan! Aunty Re akan tidur di sini, iya kan?" cetus Lee, memecahkan keterkejutan Renata. Wanita itu langsung mengangkat kepala dan terlihat bingung.
"Hah, bagaimana?"
"Kita akan tidur bersama-sama di sini. Kamu setuju kan?" Lee mengedipkan sebelah matanya, agar Renata mengiyakan ucapannya.
Mengerti akan kode itu, Renata pun langsung menganggukkan kepala. Dari pada dia harus berdebat dengan Gio, dia yakin tidak akan ada habisnya.
Gio memiliki kecerdasan di atas rata-rata, dia bisa berpikir tentang sesuatu yang tidak bisa dipikirkan bocah seusianya. Hah, anakku ... kenapa kalian membuat Ibu merasa haru.
"Kalau begitu mari kita makan siang bersama," ajak Lee, sementara Gio dan Shasha saling melempar senyum.
Mereka melakukan itu, karena sudah tahu kalau Renata adalah ibu mereka. Sebelumnya hasil tes DNA telah keluar, dan menunjukkan hasil positif.
"Ini kesempatan kita untuk membujuk Ibu pulang," bisik Gio pada Shasha.
"Benar, Ibu pasti marah pada Daddy. Dan kita harus menyatukan kembali mereka berdua," balas Shasha berbisik pula.
"Hei, kalian sedang membicarakan apa? Ayo kita ke ruang makan," tukas Lee, menghentikan bisik-bisik anaknya. Sementara dua bocah itu hanya saling melempar tawa.
***
Jangan lupa vote ya oey