
Setelah acara pentas itu selesai, dilanjut dengan acara foto bersama. Shasha kembali menarik lengan Renata dan juga ayahnya. Sementara pengasuh si kembar yang bernama Feny—bergegas menghampiri majikannya.
"Tuan, maaf saya tadi ke toilet," ucap Feny pada Lee. Saat pria itu datang dengan Renata, kebetulan Feny sedang buang air kecil. Jadi, dia tidak tahu kalau sang tuan membawa seorang wanita, yang terlihat lebih muda dari nyonyanya.
"Ya, tidak apa-apa," jawab Lee datar, tidak ingin mempermasalahkan. Dia mengikuti langkah Shasha ke stand yang sudah dihias sedemikian rupa.
Di sana Shasha meminta agar Lee berdiri di sisi dengan Renata. Sementara ia dan Gio berdiri di tengah.
Hal tersebut tentu membuat Renata merasa tidak nyaman, dia tidak ingin seperti ini, hingga dia lebih memilih untuk menolak keinginan putrinya.
"Nona Shasha, lebih baik kalian foto bertiga saja, saya tidak usah, saya 'kan bukan siapa-siapa," ucap Renata berbicara sepelan mungkin, agar Shasha mengerti dengan apa yang disampaikannya. Dia tidak mau, kalau sampai Sofia menganggap bahwa dia memprovokasi dua anaknya.
Mendengar itu, tentu membuat Shasha langsung cemberut. Dia hanya ingin membuat Renata merasa dihargai, lagi pula dia sangat senang bisa bersama wanita itu.
"Jadi Kakak cantik tidak mau berfoto denganku? Kan Mommy tidak ada, jadi diganti Kakak cantik saja, yang lain juga begitu kok."
Renata sedikit membungkukkan badan, lalu mengusap rambut putrinya dengan sayang. Dia bukannya tidak mau, tetapi posisinya sekarang tidaklah memungkinkan.
"Bukan begitu, Nona. Tapi—"
Ucapan Renata terputus, karena lengannya tiba-tiba dicekal oleh Lee, pria itu mengajaknya berdiri, tanpa banyak kata mereka langsung mengambil posisi, membuat Renata merasa bingung sendiri.
Dia ingin kembali menolak, tetapi cengkraman tangan Lee benar-benar kuat. "Ikuti saja semua kemauan anak-anakku. Karena ini bagian dari pekerjaanmu!" Cetus Lee, tidak ingin melihat anak-anaknya merasa sedih di hari spesialnya.
"Tuan—"
"Cepatlah bergaya, tukang fotonya sudah siap membidik!" tukas Gio, selalu menjadi pemutus perdebatan di antara mereka. Namun, sayangnya pria kecil itu tidak pernah berpihak pada Renata.
Akhirnya mau tidak mau Renata mengalah. Dia pun berusaha untuk tersenyum di depan kemera, hingga mereka berempat benar-benar terlihat seperti keluarga bahagia.
Tak hanya itu, Gio dan Shasha juga memberikan hadiah untuk Lee, berupa mahkota hasil karya mereka berdua. Dari sana, Renata sungguh merasa bahwa kedua anaknya sangat menyayangi ayah mereka.
Apakah kelak aku sanggup memisahkan mereka bertiga? Gumam Renata tanpa mengalihkan pandangan matanya ke arah Lee, Gio dan Shasha.
Di tengah lamunannya, dia disadarkan oleh genggaman tangan Shasha. Gadis cilik itu tersenyum lebar, senang sekali karena Renata bisa hadir di acara sekolahnya. Dari pada Sofia, Shasha justru lebih nyaman dengan wanita satu ini.
"Kakak cantik, sebentar lagi Grandmaku akan menjemput," ucap Shasha.
Setelah semua rangkaian acara selesai. Anak-anak sudah diperbolehkan pulang. Dan Jennie—ibu Lee—sudah berencana untuk menjemput kedua cucunya.
"Tidak, kami akan pergi ke rumah Grandma dan Grandpa!" Kali ini Gio yang menimpali ucapan Renata. Membuat Lee semakin yakin bahwa kedua anaknya benar-benar menyukai sekretaris barunya.
"Kalian jangan nakal yah. Nanti sore biar Daddy yang jemput," ujar Lee, membuat Gio dan Shasha langsung mengangguk patuh.
Tepat, ketika mereka keluar dari lorong kelas. Seorang wanita paruh baya menyambut kedatangan mereka semua. Jennie melangkah mendekati anak dan cucunya, tetapi ketika sudah dekat fokus wanita itu teralihkan pada sosok Renata.
Dia menelisik sekilas penampilan wanita itu, tetapi tak butuh waktu lama, Gio dan Shasha langsung menghambur ke arahnya. "Grandma!" Panggil mereka berdua berbarengan.
"Sayang, bagaimana pentasnya tadi lancar?" tanya Jennie seraya mengecup pipi kedua cucunya secara bergantian.
"Lancar dong, Grandma. Semua orang memuji suaraku dan permainan piano Kak Gio," balas Shasha dengan antusias. Gadis kecil itu mulai menunjukkan sisi cerewetnya, persis seperti ketika dia berada di dekat Renata.
"Suaramu jadi bagus karena aku tahu!" timpal Gio.
"Mana ada, suaraku sudah bagus dari sananya!" cetus Shasha tak mau kalah.
"Hei, sudahlah. Di mata Daddy dan Grandma, kalian itu hebat," ujar Jennie, menengahi perdebatan di antara kedua cucunya. Membuat mereka akhirnya diam.
Melihat itu, Lee tersenyum tipis, dan itu semua disadari oleh wanita yang ada di sampingnya. Renata memperhatikan interaksi antara Gio, Shasha dan seseorang yang dipanggil Grandma itu, tak terkecuali reaksi wajah Lee.
"Oh iya, Grandma, aku ingin memperkenalkan teman baruku. Namanya Kakak cantik, dia orang yang membantu Daddy bekerja," ujar Shasha, sambil mengalihkan pandangan pada sosok Renata.
Jennie mengulum senyum. Kemudian mengulurkan tangan ke arah Renata yang sedari tadi berdiri mematung. "Aku Jennie, ibunya Lee. Siapa namamu?"
Deg.
Jantung Renata tiba-tiba berdebar dengan kencang. Untuk pertama kalinya, dia melihat sosok wanita yang telah melahirkan iblis gila seperti Lee. Namun, rasanya sungguh tidak mungkin, orang selembut Jennie, bisa memiliki putra seorang Badjingan.
"Aku Renata, Nyonya."
"Renata, senang berkenalan denganmu. Kamu sekretaris baru Lee 'kan? Semoga kamu betah ya dengan manusia kulkas itu," ujar Jennie sambil terkekeh kecil.
Renata langsung mengarahkan pandangannya ke arah Lee. Dan tepat pada saat itu, tatapan mereka bertemu.
***
Awas, Re, nanti dimakan sama kulkas🤭🤭🤭