Hidden Mommy

Hidden Mommy
Bab 57. Jalan Yang Salah



Renata sama sekali tak menikmati film yang ia tonton, apalagi tidak ada si kembar di sampingnya. Alhasil dia mengantuk, dan beberapa memejamkan mata.


Astaga, kapan selesainya film ini? Kenapa terasa lama sekali? Batin Renata, dia pun melirik ke arah kursi yang sempat diduduki kedua anaknya.


Sudah hampir setengah jam mereka belum kembali, namun Renata masih berpikir positif, dengan menebak bahwa toiletnya antri. Jadi, dia tidak terlalu khawatir, apalagi keduanya pergi bersama Fenny.


Karena merasa bosan, akhirnya Renata memilih untuk memakan berondong jagung yang sempat dibelikan oleh Gio. Dia menikmatinya dalam diam, hingga tak sadar kalau dia ketiduran.


Lee yang sedari tadi memperhatikan Renata, tentu langsung memeriksa wanita cantik itu. Dia menundukkan wajah, dan menatap Renata yang terlelap. "Dia benar-benar tidur? Astaga, apakah senyaman itu duduk di kursi ini?" gumam Lee, bertanya pada dirinya sendiri.


Dengan perlahan Lee memiringkan kepala Renata, hingga wanita itu bersandar di bahunya. Beruntung Renata tak memberi reaksi apapun, jadi Lee bisa dengan mudah melakukan apa saja pada tubuh itu.


Lee terus memperhatikan lamat-lamat wajah Renata. Bahkan dia juga menggenggam tangan wanita itu. "Kamu pasti membuang cincin pernikahan kita. Hem, aku sadar kamu sangat membenciku, Re ...."


"Dan kamu pasti bekerja keras untuk sampai di sini. Tapi sayangnya aku tidak akan membiarkanmu terus-menerus hidup dalam kebencian. Kelak, aku hanya minta satu, dengarkan penjelasanku," ucap Lee seraya mengelus lembut kepala Renata. Tak hanya itu dia pun memberanikan diri untuk meninggalkan kecupan di sana.


Cup!


"Dan selebihnya aku serahkan padamu."


Sementara di belakangnya, Zack mulai merasa khawatir pada Fenny yang belum juga kembali. Sedari tadi dia melirik arloji mahal di pergelangan tangannya, namun sampai saat ini wanita itu belum kembali juga.


"Haish, sepertinya aku harus menyusul mereka," kata Zack seraya melirik ke bawah. Tak mau mengganggu momen antara Lee dan Renata, dia pun memilih untuk pergi sendiri.


Dia tidak tahu kalau orang yang dia cari sedang disesatkan oleh Gio dan Shasha. Karena berputar-putar, Fenny jadi tidak ingat ke mana jalan menuju gedung bioskop.


"Ya ampun, aku juga tahu kok, Nanny. Aku dan Shasha sudah sering ke sini, jadi Nanny tinggal ikuti arahan kami saja," balas Gio, padahal sedari tadi mereka terus menunjukkan jalan yang salah.


"Mana? Dari tadi kita hanya di sini-sini saja, Tuan. Aku sudah pusing!" tukas Fenny, tak peduli pada Gio yang terus menahannya, wanita muda itu pun segera menghampiri petugas kebersihan yang sedang menyapu.


Namun, belum sempat dia bertanya, tiba-tiba ada seseorang yang berteriak. "Nanny Twins!"


Untuk pertama kalinya dia mendengar panggilan seperti itu, namun entah kenapa dia yakin kalau panggilan tersebut tertuju padanya. Dia pun segera menoleh, dan mendapati tubuh kekar seorang pria yang begitu dia kenal.


"Tuan Zack!" balasnya tergagap.


"Dari mana saja kalian? Kenapa lama sekali?" cecar Zack.


"Maaf, Tuan, tadi toiletnya sangat antri, jadi kami mencari toilet yang lain. Tapi saya malah lupa jalan pulangnya," ujar Fenny apa adanya, wajah frustasinya sedikit lucu di mata Zack, membuat pria itu jadi mengernyitkan bibir.


Sedangkan dua pelaku cilik hanya bisa saling terkekeh, tanpa mengeluarkan suara.


"Kalau begitu kalian ikut denganku," ucap Zack, seraya menatap ke arah Gio dan Shasha.


"Terima kasih banyak, Tuan. Maaf telah merepotkanmu," kata Fenny.


"Tidak apa-apa, lagi pula aku juga khawatir pada Gio dan Shasha."


Akhirnya mereka pun pergi bersama-sama dengan saling bergandengan tangan. Gio dan Shasha berada di tengah-tengah, membuat jarak di antara Zack dan Fenny.