Hidden Mommy

Hidden Mommy
Bab 36. Tidak Ingin Diinjak-injak



Pagi datang dengan cepat, semalaman Lee tidak bisa tidur karena terus memikirkan wanita yang tidur tak jauh darinya. Selama dia membuka mata, tatapannya hanya tertuju pada Renata, sumpah demi apapun, dia tidak menyangka, jika selama ini orang yang ia cari ternyata terus berada di dekatnya.


Bahkan memberi perhatian dan kasih sayang pada Gio dan Shasha.


Hingga saat matahari sudah mulai menunjukkan sinarnya, Lee segera bangun dari ranjang, dan kembali ke kamarnya.


Lee bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit, hari ini dia mengabaikan sejenak urusan perusahaan, karena ada sesuatu yang lebih penting.


"Aku harus memastikan semuanya, agar bukti itu lebih akurat," gumam Lee dengan jantung yang senantiasa berdebar-debar. Antara sedih, haru, bahagia, utuh menjadi satu. "Alice, kali ini kamu tidak akan pernah bisa lari dariku." Gumamnya penuh percaya diri.


Sementara di kamar si kembar Renata terbangun dengan kening yang mengernyit, karena seingatnya dia tertidur di sofa bersama Gio. Lalu kenapa tiba-tiba dia sudah ada di atas ranjang?


"Daddy yang memindahkan kita," kata Gio, yang membuat Renata terkejut bukan main. Padahal dia tidak bertanya apapun pada pria kecil itu, tetapi Gio selalu bisa menjawab pikirannya.


Dan apa itu tadi? Lee yang memindahkannya? Astaga, benarkah?


"Ah seperti itu. Saya kira, semalam saya pindah sendiri," balas Renata dengan kikuk, kemudian dia segera bangkit dari ranjang untuk membersihkan tubuhnya. Sebab dia harus pergi bekerja.


"Tuan Kecil dan Nona Shasha tidak sekolah 'kan?" tanya Renata sebelum dia masuk ke dalam kamar mandi. Kebetulan dia masih memiliki baju ganti yang kemarin dibelikan oleh Lee, jadi dia tidak perlu menunggu Fenny.


"Ya, kita kan sudah libur semester," jawab Gio, sedangkan Shasha masih terlihat pulas.


Renata pun menganggukkan kepala, kemudian dia pamit untuk bersiap-siap. Setelah semuanya beres, Renata pergi ke dapur untuk membantu para pelayan menyiapkan sarapan.


Dan di sana, dia bertemu dengan Sofia, wanita itu senantiasa menunjukkan wajah tak ramah, karena dia sangat membenci Renata. Seseorang yang selalu merebut perhatian kedua anaknya.


"Tidak perlu cari perhatian di rumah ini!" kata Sofia sambil menepis tangan Renata yang hendak menyiapkan piring.


Mendapati perlakuan seperti itu, Renata hanya bisa mendesaahkan nafas. Sementara para pelayan tidak ada yang berani untuk ikut campur, atau bahkan membela Renata. Mereka terlalu takut pada Sofia.


"Maaf, Nyonya. Saya hanya ingin membantu mereka," balas Renata dengan suara yang masih terdengar biasa.


"Tapi aku tidak mau kamu menyentuh barang-barang milikku. Yang ada semua orang bisa sakit perut, karena tangan kotormu yang tidak higienis itu!" cetus Sofia dengan mata yang sinis. "Dan aku peringatkan sekali lagi, jangan pernah dekati Gio dan Shasha, apalagi menggunakan wajah lugumu untuk mendapatkan belas kasih. Aku jijik melihatnya. Setelah ini, keluar dari rumahku dan jangan pernah kembali lagi. Atau kamu akan tahu akibatnya!"


Sofia mulai mengancam, karena dia tidak mau kalau sampai Lee dan kedua anaknya terus-menerus berpihak pada Renata. Yang ada dia akan tersingkirkan.


"Kenapa Nyonya terlihat takut seperti itu? Bukankah anda ibunya? Kalau itu benar, anda pasti tidak akan secemas ini, karena seorang anak, akan selalu menuruti apa kata ibunya. Coba renungi sikap anda, jangan hanya menyalahkan orang lain, yang bahkan baru datang di kehidupan kalian!" balas Renata, mencoba untuk berani, karena dia tidak mau diinjak-injak oleh Sofia. Terlebih dia akan terus melindungi anak-anaknya. Dia yakin ada sesuatu yang salah di keluarga ini.


"Jangan kurang ajar kamu!" sentak Sofia dengan dada yang bergemuruh. Dia merasa kalau Renata sudah terlalu dimanjakan oleh Lee, sehingga wanita itu berani padanya.


"Saya hanya mengatakan apa yang saya tahu. Kalau anda keberatan, itu bukan urusan saya! Permisi …."


Namun, di pertengahan jalan, dia melihat Lee yang sedang mengumpulkan para pekerja yang ada di rumahnya. Pria itu terlihat sedang marah-marah, karena mengenai kamera CCTV yang sengaja dimatikan, tetapi tidak ada yang melapor padanya.


"Kalian aku pecat! Jika ada yang lalai lagi atau bahkan tidak mematuhi perintahku, aku tidak akan segan untuk menendang kalian hari itu juga!" kata Lee sambil bertolak pinggang.


Dan semua orang tidak ada yang berani untuk bersuara. Karena mereka mengaku bersalah, sudah mengikuti permainan Sofia dengan iming-iming uang.


Mereka tidak sadar, dengan siapa mereka berhadapan. Lee—pria yang bisa melakukan apa saja terhadap orang yang mengusik hidupnya.


Lee berbalik dan hendak berjalan ke ruang kerjanya, namun secara tidak sengaja dia beradu pandang dengan Renata yang masih mematung di tempatnya.


Deg.


Jantung Lee langsung berdebar dengan keras. Wajah yang terlihat seram, kini berubah salah tingkah, hanya karena saling tatap dengan Renata, yang ia yakini sebagai Alicia.


"Maaf, Tuan, saya tidak sengaja mendengarnya," ucap Renata, bersikap seperti biasa, karena dia tidak tahu, kalau Lee sudah tahu siapa dia sebenarnya.


Lee menarik nafas dalam-dalam, lalu membuangnya secara perlahan. Walaupun dia sudah tahu, dia harus menyembunyikannya terlebih dahulu.


"Tidak apa-apa, oh iya, nanti kamu dijemput oleh Zack. Karena aku harus pergi ke suatu tempat."


"Baik, Tuan."


"Kalau begitu segeralah panggil Gio dan Shasha untuk sarapan."


Renata mengulum senyum sambil menganggukkan kepala. Sementara Lee langsung melanjutkan langkah, sambil berjalan dia merogoh ponsel untuk menghubungi ayahnya—Aneeq.


Tak butuh waktu lama, panggilan yang ia buat sudah terhubung. Namun, Aneeq langsung mengomel karena dari semalam putranya sulit sekali dihubungi. "Ke mana saja kamu hah? Apakah kamu bersenang-senang semalam sampai mengabaikan telepon Daddy? Setidaknya kirimi Daddy pesan, karena Daddy juga butuh informasi penting dari kamu—"


"Daddy, berhentilah mengomel, aku punya berita bagus."


"Hah, berita bagus apa? Asal kamu tahu anak buahmu gagal semua!"


"Daddy dengarkan dulu!" tukas Lee, karena ayahnya tak berhenti bicara. "Suruh anak buah Daddy untuk berhenti mencari Alicia."


Mendengar itu, Aneeq langsung mendelik. "Kenapa? Kamu sudah menyerah? Kamu tidak ingin menebus dosamu? Anak sialan!"


Lee memutar bola matanya, namun sekarang bukanlah waktunya untuk berdebat. "Bukan, tapi aku sudah menemukan dia."


"APA?!"