
Akhirnya malam itu Lee memutuskan untuk tidur di kamar kedua anaknya. Dia mengajak Gio dan Shasha untuk naik ke atas ranjang dengan memposisikan dirinya di tengah-tengah.
"Sekarang Gio dan Shasha tidur dulu. Minggu depan Daddy akan ajak kalian jalan-jalan dengan Aunty Re," ujar Lee, mencoba menghibur kedua anaknya. Dan ternyata hal itu cukup membuat Gio dan Shasha berantusias.
"Benarkah? Apakah kita akan pergi ke pantai?" tanya Gio lebih dulu, karena dia lebih suka wisata alam, dari pada taman hiburan.
"No, kita harus pergi naik komedi putar!" sambar Shasha tak mau kalah.
"Daddy sudah menyiapkan semuanya di suatu tempat. Apa yang kalian mau, ada di sana," kata Lee seraya menoleh ke arah dua anaknya secara bergantian.
"Kalau begitu kita sekalian cari Ibu, supaya Ibu cepat ketemu, Dad," seru Gio, bukannya terlihat sedih karena ternyata Sofia bukanlah ibu mereka. Gio justru bersemangat untuk mencari ibu yang dimaksud oleh ayahnya.
"Benar, oh iya, Dad, apakah Ibu secantik aku? Aku jadi penasaran dengan wajah Ibu," timpal Shasha, dia semakin menaikan badan, mengusak memeluk Lee.
Mendengar ucapan-ucapan anaknya, rasa bersalah Lee semakin besar. Dia ingin menunjukkan wajah asli Alicia yang ia simpan di dalam ponselnya, tetapi semuanya hanya akan bertambah rumit jika pada akhirnya ia mengenalkan Renata sebagai ibu mereka.
Akhirnya Lee menunjukkan gambar tangan yang ia jadikan layar kunci, sebuah tangan langsing yang ia potret secara diam-diam ketika Alicia sedang tidur. "Ini tangan Ibu. Cantik 'kan?"
Gio dan Shasha kompak melipat bibir masing-masing.
"Bagaimana bisa Daddy mengatakan Ibu cantik? Itukan hanya tangan," kata Shasha, merasa lucu dengan tingkah ayahnya. Dan hal tersebut membuat Lee tersenyum kikuk, dia jadi salah tingkah sendiri.
"Bagi Daddy, apa yang ada di dalam diri ibu itu cantik, Sayang, termasuk tangannya," ucap Lee menjelaskan, namun hal itu malah semakin membuat kedua anaknya terkekeh.
"Lagi pula untuk apa melihat Ibu di dalam sebuah gambar. Aku yakin Ibu mirip dengan Shasha, jadi aku tidak perlu bersusah payah membayangkan wajah ibu," cetus Gio, yang membuat dada Lee semakin berdenyut-denyut.
Dia menoleh ke arah putranya, lalu mengecup puncak kepala bocah tampan itu. "Kamu benar, Sayang. Ibu sangat mirip dengan adikmu. Sekarang kalian tidur ya, kalian harus hidup dengan baik agar ibu tidak marah pada Daddy."
"Daddy, Shasha juga mau cium!" rengek Shasha seraya menarik-narik kaos rumahan Lee. Pria tampan itu beralih menghadap ke arah putrinya, lalu dengan cepat mengecupi seluruh wajah Shasha.
"Selamat tidur, dua kesayangan Daddy."
Malam itu, mereka tidur saling berpelukan, dan rasanya sungguh sangat melegakan setelah mengungkap semua kebenaran yang ada. Lee sedikit lebih tenang, apalagi anak-anaknya terlihat menerima apa yang telah disampaikannya.
***
Pagi di Tan Group, kantor cabang, semua orang dibuat bertanya-tanya dengan mobil baru yang terparkir di halaman perusahaan. Mereka menebak-nebak, kira-kira kendaraan roda empat dengan tipe terbaru itu milik siapa. Jika mobil itu milik sang tuan, sudah tentu akan langsung dikirim ke rumah.
"Mobil milik siapa itu?" tanya seorang karyawan dengan berbisik pada temannya.
"Mungkin itu mobil yang ingin dijadikan contoh oleh Tuan Lee, perusahaan kita kan akan launching desain terbaru," jawab temannya dengan pemikiran yang paling masuk akal.
"Benar juga. Ya sudah ayo kita masuk!"
Mereka tidak lagi penasaran, berbeda dengan Renata yang baru saja datang. Wanita itu langsung mengarahkan pandangan matanya pada mobil berwarna biru yang terlihat sangat mengkilap.
"Mobil siapa ini? Kenapa parkir sembarangan?" gumam Renata seraya melirik ke sana ke mari mencari si pemilik, yang tak lain dan tak bukan adalah dirinya sendiri. Karena mobil itu sengaja Lee belikan untuk sang sekretaris.
Karena tak kunjung menemukan pemiliknya, Renata pun masuk ke dalam perusahaan dan menghampiri meja resepsionis. "Nona, tolong ya, beritahu pada pemilik mobil itu, jangan parkir sembarangan!"
Resepsionis yang tidak mengerti maksud Renata, tentu terlihat kebingungan. Dan sialnya, Renata lebih dulu pergi sebelum dia menjawab.
Wanita itu naik ke lantai tempat di mana ia bekerja. Dan ternyata sudah ada Lee di sana, begitu masuk Renata dia langsung disambut wajah pria itu.
"Bagaimana?" Bukannya menyahuti sapaan Renata, Lee justru bertanya sesuatu yang membuat wanita itu kebingungan. Kening Renata berlipat-lipat.
"Bagaimana apanya ya, Tuan?"
"Mobil itu, apa kamu suka?" kata Lee, seraya mengarahkan dagunya ke luar sana. Sementara Renata langsung melebarkan kelopak matanya dengan sempurna.
Mobil itu?
"Maksud anda yang ada di bawah?" tanya Renata dengan tersentak. Karena dia tidak menyangka, kalau mobil yang sempat dia cari-cari pemiliknya, malah mobil yang dibeli untuk dirinya.
"Iya, lalu yang mana lagi?" tanya Lee, wajahnya memang menunjukkan ekspresi datar, tetapi dalam hati Lee tersenyum senang, karena sepertinya Renata sangat suka dengan kejutannya.
"Tuan, bukannya saya ingin menolak, tapi itu—"
Ucapan Renata terhenti sebab ponsel Lee tiba-tiba berdering. Pria tampan itu segera menyambarnya dan ternyata itu panggilan dari sang paman—Dokter De.
Tanpa membuang waktu Lee langsung mengangkatnya.
"Halo, Lee. Hasilnya sudah keluar. Mau aku kirimkan atau—"
"Biar aku ke sana sekarang. Uncle pegang saja, dan pastikan tidak ada yang tahu kalau itu milikku," potong Lee dengan jantung yang berdebar keras. Dia pun melirik ke arah Renata sekilas, seolah masa depannya sudah ada di depan mata.
"Baiklah, kalau begitu Uncle tunggu kedatanganmu."
"Iya, Uncle. Aku jalan sekarang!" kata Lee dengan sangat sumringah, dan panggilan pun terputus. Lee langsung pamit pada Zack dan Renata untuk pergi ke suatu tempat, karena ada urusan penting.
Ya, melebihi apapun di dunia ini, apa yang ada di tangan sang paman adalah sesuatu yang paling penting, dan paling berharga untuk Lee dan keluarga kecilnya.
"Semoga saja hasilnya sesuai harapan."
***
Hanya butuh waktu kurang dari satu jam, Lee sampai di rumah sakit Puri Medika. Sebuah rumah sakit yang didirikan oleh keluarganya, dan dipimpin oleh sang paman.
Lee keluar dari mobil dengan gerakan yang tergesa-gesa, karena dia sudah merasa tidak sabar dengan hasil tes DNA antara Renata dan kedua anaknya.
Tanpa basa-basi dia langsung menghampiri ruangan Dokter De. Dan kebetulan pria itu sedang tidak ada pasien.
"Bagaimana, Uncle?" tanya Lee dengan nafas yang terengah-engah.
"Bukalah!" jawab De, seraya menyerahkan amplop putih dengan logo rumah sakit pada sang keponakan.
Kedua mata Lee terlihat berbinar, dia meraih amplop tersebut dengan tangan yang tak berhenti bergetar. Pelan-pelan Lee membukanya, hingga terlihat jelas huruf-huruf yang tersusun dan dapat dia baca.
Deg!
Waktu seolah berhenti berputar. Dua bola mata Lee terbelalak lebar, dengan lutut yang terasa lemas, tiba-tiba Lee ambruk ke lantai sambil meneteskan air matanya.
"Positif? Dia benar-benar Alice?"