
Lee pulang dengan tangan hampa. Sorot mata sayu dengan wajah sendu itu disaksikan oleh semua pasang mata yang menyambutnya. Mereka semua bertanya-tanya, kenapa Tuan mereka datang seorang diri?
Lantas ke mana Gio dan Shasha? Apakah ada sesuatu yang terjadi pada mereka berdua?
Tak ada satupun yang berani bertanya. Kecuali Fenny—sebagai pengasuh si kembar, tentu dia tidak bisa diam saja, ketika anak asuhnya tidak ada.
Fenny mencoba mengekor pada langkah sang tuan yang hendak masuk ke dalam ruang kerja. Dia berjalan tergesa, hingga akhirnya dia bisa menyeimbangi langkah kaki Lee.
"Tuan," panggil Fenny dengan sedikit rasa ragu. Namun, suara itu sukses membuat Lee menghentikan langkah. Dia tahu Fenny pasti ingin menanyakan tentang Gio dan Shasha.
Tanpa menunggu sang pengasuh melontarkan sebuah pertanyaan, Lee langsung berinisiatif untuk menjelaskan.
"Mereka ada di apartemen Renata. Kamu bersiap-siaplah, sore nanti kamu harus pergi, karena mulai sekarang anak-anakku tinggal di sana. Zack akan mengantarmu!" kata Lee memberi perintah. Suara pria itu terdengar sangat pelan, tidak seperti biasanya.
"Tapi—"
"Kamu tenang saja. Aku akan menggajimu dua kali lipat, kamu hanya perlu melapor apa saja yang dilakukan Gio dan Shasha kepadaku," tukas Lee, dia seolah paham betul apa yang menjadi kerisauan pengasuh anak-anaknya. Jadi, dia terus bicara tanpa ingin disela.
Fenny berpikir bahwa ada sesuatu yang tidak beres, dia terlihat kebingungan, namun ketika dia hendak kembali bertanya, Lee sudah melanjutkan langkahnya. Pria itu seperti tak ingin diganggu, hingga membuat Fenny urung untuk mengorek informasi lebih dalam.
"Sepertinya ada masalah di antara mereka. Lagi pula seharusnya mereka pulang dua hari lagi," gumam Fenny dengan raut cemas. Tak ingin membuat sang Tuan kesal, akhirnya Fenny menuruti apa kata Lee, dia segera mengemasi barang-barangnya untuk pindah ke apartemen Renata.
Sementara Lee masuk ke dalam ruang kerja. Dia melangkah pelan ke arah jendela, dan bayangan tentang Renata kembali memenuhi pelupuk matanya.
"Dari awal aku yang salah. Tidak seharusnya aku menjadikanmu bahan keegoisanku. Karena kini aku malah kebingungan, aku bingung bagaimana memadamkan api kebencian di dadamu, Alice?" lirih Lee dengan tatapan nanar.
Lee melirik ke samping, dalam halusinasinya dia melihat Gio dan Shasha sedang berlarian, sibuk mencari perhatiannya. Dan hal tersebut membuat air mata Lee kembali menetes, belum ada satu hari mereka berpisah, jarak seolah sudah membentang jauh.
"Mulai hari ini Daddy akan sangat kesepian. Karena tidak ada yang menemani Daddy sarapan dan makan malam, tidak ada yang merengek untuk dibuatkan susu, tidak ada yang meminta Daddy untuk membacakan buku dongeng. Daddy pasti akan sangat rindu, bagaimana dengan kalian? Apakah kalian juga akan merindukan Daddy?" rancau Lee dengan pikiran yang mulai kacau.
Dia kembali terisak-isak. Seolah tak ada yang dapat dia lakukan sekarang.
"Kelak apakah kalian bisa mengerti ini semua? Jujur, Daddy tidak akan sanggup untuk menjelaskannya," gumam Lee dengan ludah yang tercekat. Semakin dia menatap bayangan kedua anaknya, bayangan itu semakin menghilang, hingga membuat Lee langsung ambruk seketika.
"Kembalilah, Alice. Rumah ini masih milikmu .... ayo kita besarkan anak-anak bersama."
Lee tergugu di tempatnya, dia merasa berada di titik paling terendah. Sebab wanita yang selama ini ia cari sudah ada di sekitarnya, namun, dia justru tak dapat menggapainya.
Tidak ada suara lain di ruangan sunyi itu selain suara tangis Lee. Hingga tiba-tiba pintu ruangan terbuka begitu saja, menampilkan Zack yang mematung dengan wajah terperangah.
Pria itu menatap Lee kebingungan. Dan dia mulai berpikir, bahwa Renata telah membawa Gio dan Shasha. Sementara Lee tinggal di sini sendiri.
"Kak," panggil Zack dengan suara lirih, entah kenapa dia pun merasakan sesak. Sebab kepergian Alicia saat itu, dia juga penyebabnya.
Lee menoleh dengan gerakan pelan, hingga ekor matanya menangkap tubuh tegap sang adik sepupu.
"Aku telah menjelaskan semuanya, Zack. Tapi dia tetap belum bisa memaafkanku. Dia membawa Gio dan Shasha untuk membalas semua rasa sakitnya, dan aku menerima itu. Meksipun ... aku tidak tahu, sampai kapan aku akan menderita. Tapi aku merasa ini pilihan terbaik, untuk membuat dia puas. Ya, aku berharap dia puas melihatku tidak bisa berdiri dengan kakiku sendiri ...."