
Awalnya Zack yang ingin berbicara empat mata dengan Renata. Namun, Aneeq tiba-tiba menahannya. Sebab Aneeq merasa bahwa dia pun harus ikut turun tangan, terlebih dia adalah orang tua Lee. Aneeq ingin membuat wanita itu merasa lebih dihargai.
Setelah pembicaraan itu, Aneeq mengajak Renata untuk bertemu dengan Lee. Dia tidak akan memaksa wanita itu untuk segera memaafkan putranya, tetapi dia ingin Renata sedikit menyadari, bahwa Lee juga sama-sama terluka.
Aneeq yang menjadi saksi hidup bagaimana sang putra mencari istri keduanya. Tak kenal lelah dan tak pernah bosan, meski selalu mendapat jawaban yang sama.
"Ikutlah denganku, setidaknya sebagai bentuk kemanusiaan," kata pria paruh baya itu sambil bangkit dari duduknya.
Dia tahu kalau Renata sedang merasa dilema. Akan tetapi memupuk dendam, sama saja menancapkan duri di dalam kehidupan. Dan semua itu tidak ada gunanya.
"Kamu memang bukan Tuhan yang mampu memaafkan umat-Nya dengan mudah. Tapi percayalah padaku, dengan melepas semua kebencianmu, kamu akan merasa jauh lebih tenang," sambung Aneeq, karena Renata tetap bergeming di tempatnya.
Dia mengulurkan sebuah sapu tangan ke arah wanita itu, membuat Renata sedikit mengangkat pandangannya. "Hapus air matamu. Anak-anak akan senang, jika Ibunya datang. Bukankah kamu mencemaskan mereka?"
Dengan perlahan Renata meraih benda tersebut dari tangan Aneeq. Lalu menghapus sisa-sisa air matanya yang masih berlinang.
"Sekarang aku tidak tahu. Siapa yang sebenarnya aku benci, dia atau justru diriku sendiri," lirih Renata, masih tetap menundukkan kepala. Dia menatap nanar pada apa saja yang menjadi objek penglihatannya.
"Aku benar-benar minta maaf atas nama putraku. Karena dia kamu harus kerepotan seperti ini. Tapi coba selami hatimu ... masih adakah nama Lee atau sudah terhapus sepenuhnya. Sekali lagi, aku tidak memaksamu kembali padanya. Kalian hanya perlu membesarkan Gio dan Shasha sama-sama," jawab Aneeq. Meskipun dia tahu, sang putra akan terus berusaha mendapatkan kembali hati Renata.
Namun, kali ini dia tidak akan mendesak wanita itu. Biarkan mengalir apa adanya. Jika memang ditakdirkan berjodoh, Lee dan Renata pasti akan kembali bersama.
Akhirnya Renata pun bangkit, dia akan mengikuti Aneeq untuk pergi ke ruangan Lee. Demi Gio dan Shasha, dia harus menurunkan egonya.
Aneeq tersenyum tipis, karena berhasil membujuk Renata. Mereka pun berjalan beriringan, hingga kini mereka sampai di depan ruangan yang sempat Renata sambangi.
Aneeq memutar kenop pintu, hingga benda persegi panjang itu terbuka dengan sempurna. Semua orang yang ada di dalam sana kompak menoleh ke arahnya, mereka sedikit terperangah karena ternyata Aneeq tidak sendiri, pria itu bersama Renata.
"Ibu!" panggil Gio dan Shasha kompak, mereka langsung turun dari brankar, lalu menyambut Renata dengan hangat. Karena mereka baru saja berhenti menangis.
"Kenapa Ibu baru datang? Lihatlah, Daddy sedang sakit. Daddy terlalu bekerja keras untuk kita," adu Shasha dengan mimik wajah yang terlihat sangat sedih, membuat Renata ikut merasa haru.
"Benar, Bu. Ternyata Daddy tidak sekuat yang kita bayangkan," timpal Gio, bibir pria kecil itu mencebik. Membuat Renata sadar, bahwa kedua anaknya memang tidak bisa dipisahkan dengan ayahnya. Dan hal itu hanya membuat mereka menderita.
"Maafkan Ibu ya. Tadi Ibu ada urusan sebentar," jawab Renata sambil menahan air matanya agar tidak tumpah.
Gio dan Shasha meraih tangan Renata secara berbarengan. Lalu mengajak wanita itu untuk menemui Lee. Sementara semua orang mulai berangsur keluar, mereka ingin memberikan waktu bagi keluarga kecil ini.
Di tempatnya Lee terus memperhatikan Renata, jantungnya tiba-tiba bergemuruh tak tentu, seolah kembali menemukan debaran yang selama ini hilang.
Pandangan Lee tidak terputus, bahkan saking tak ingin kehilangan momen melihat Renata. Dia sama sekali tak berkedip. Dia takut, ketika dia melakukan hal itu, Renata justru menghilang dari pandangannya.
Renata berhenti tepat di sisi Lee. Dia mengalihkan pandangan ke mana saja, asal jangan menatap dua bola mata pria itu. Sumpah demi apapun, dia masih belum sanggup.
Hening ... tak ada yang bicara. Hingga akhirnya Renata melayangkan satu pertanyaan.
"Apa kamu baik-baik saja?"
Mendengar itu, seperti ada yang bermekaran di hati Lee. Hingga tanpa sadar, dia mengulas senyum tipis. "Tentu, karena ada kalian, maka aku akan baik-baik saja."
Sebuah jawaban yang membuat Renata menjadi bingung. Dia kembali terdiam, tak tahu harus bicara apa lagi. Dia tertunduk, membuat Gio dan Shasha saling pandang.
"Bu, Daddy belum minum obat. Ayo bantu Daddy bangun," kata Shasha, memecahkan kecanggungan di antara mereka.
Renata mengangkat kepala, menatap wajah Lee sekilas. Kalau sudah berurusan dengan kedua anaknya, dia tidak akan mungkin bisa menolak.
Gio berinisiatif untuk mengambil nampan berisi air minum dan obat yang sudah disiapkan perawat sebelum Renata datang. "Ini obatnya, Bu. Tadi kami sudah bantu Daddy untuk makan siang. Jadi, sekarang giliran Ibu."
Renata menjadi kikuk sendiri, sementara Lee merasa senang, karena kehadiran anaknya membuat Renata memperlakukannya dengan baik. Ya, meskipun itu terpaksa.
"Bu!" panggil Shasha.
"Iya-iya, Ibu bantu Daddy," putus Renata, lalu melangkah semakin dekat dengan Lee. "Kamu bisa bangun sendiri 'kan?" tanya Renata dengan nada berbisik, tetapi entah kenapa kedua anaknya bisa mendengar.
"Daddy masih lemas, Bu," timpal Gio, yang membuat Renata langsung memberikan cengiran.
"Oh begitu."
Lee terus memperhatikan wajah Renata, dan akhirnya Renata mengalah, dia membantu Lee untuk bangkit, satu tangannya menyanggah kepala, sementara tangan yang lain menarik lengan atas Lee.
Wanita itu menarik bantal untuk dijadikan sandaran. Lalu menyerahkan obat ke arah pria itu. "Minumlah, supaya kamu cepat pulih."
"Terima kasih," jawab Lee sambil meraih benda kecil itu. Sekarang dia merasa, bahwa sakit lebih baik, karena dengan begitu Renata bisa perhatian padanya.
Sementara Gio dan Shasha langsung melempar senyum satu sama lain.