Hidden Mommy

Hidden Mommy
Bab 82. Tanggung Jawab



Sekujur tubuh Fenny terasa lemas dengan jantung yang nyaris meledak saat menerima serangan dadakan itu, hingga kini dia ambruk di lantai, dan membuat Zack kebingungan.


Zack diam dan memperhatikan dengan tangan yang bertolak pinggang. Dua mata Fenny nampak cantik dengan bulu lentik yang menghiasi tiap kelopaknya. Diam-diam Zack mengulum senyum tipis.


Pria itu tidak merasa bersalah sedikitpun dengan tindakannya, bahkan tak terlintas bahwa apa yang dia lakukan, telah membuat Fenny hampir terkena serangan jantung.


Zack akhirnya berjongkok dan memeriksa keadaan Fenny, namun wanita itu tetap menutup matanya.


"Apakah dia pingsan?" gumam Zack bertanya pada dirinya sendiri, pria itu mengecek nafas yang keluar dari hidung Fenny, dan ternyata masih ada. "Benar, dia hanya pingsan. Tapi kenapa?"


Karena Fenny tak mau bangun, akhirnya Zack memutuskan untuk mengangkat tubuh mungil itu sampai ke basemen. Sementara beberapa belanjaan mereka sudah dimasukkan ke dalam bagasi dengan dibantu oleh petugas mall.


"Hei!" panggil Zack pada seorang pria muda yang telah membantunya.


"Ya, Tuan." Dia mendekat ke arah Zack, lalu menunduk sopan.


"Aku minta hapus CCTV di lantai tadi," kata Zack, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah yang akan dia berikan pada pemuda yang ada di hadapannya. "Tips untukmu. Kalau sampai aku cek, dan ternyata rekaman itu masih ada, orang yang pertama kali aku cari adalah kamu!"


Pria itu menerimanya dengan ragu, karena sepertinya Zack bukanlah orang sembarangan. Namun, jika dia menolak, tentu itu semua bukanlah pilihan yang tepat. Ah sial, dia jadi serba salah.


"Baik, Tuan. Saya akan segera melakukan apa yang anda minta."


Akhirnya dia pun mengangguk setuju, membuat Zack menarik sudut bibirnya ke atas. Zack mengangkat tangannya lalu membuat gerakan mengusir, hingga membuat pria itu pergi tanpa bicara.


Zack masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi. Sementara Fenny ada di sampingnya, namun bukannya lekas menyalakan mesin, Zack justru menekuk satu tangan untuk menyanggah kepalanya.


Dia kembali memperhatikan Fenny yang masih memejamkan mata. Lama dia tatap, Fenny semakin terlihat manis, hingga terukir senyum di bibir Zack.


Akan tetapi ketika dia mengingat kecupan singkat tadi, Zack jadi kesal sendiri, karena Fenny malah pingsan.


"Haish, dia semakin membuatku bingung. Dia pingsan karena aku terlalu tampan atau aku ini menyeramkan? Tapi, aku kan anak Mommy, Mommy cantik seperti boneka Barbie, Daddy juga tampan meskipun tatapannya seram. Jadi, bicaralah ... apa yang membuatmu seperti itu?! Karena semakin aku mengabaikanmu, bayanganmu wajahmu jadi sering datang. Dasar menyebalkan!" gerutu Zack, ini adalah kalimat terpanjang yang pernah dia lontarkan untuk kaum wanita di luar pekerjaan.


Namun, karena yang diajak bicara sedang tidak sadar, tentu Fenny tidak akan menjawab pertanyaan yang terlontar dari mulut Zack.


Zack menunggu dengan sabar, tetapi sampai beberapa menit dia menatap wajah Fenny tidak ada reaksi apapun yang diberikan wanita itu. "Kamu benar-benar mengujiku yah?! Bangunlah ...."


Pria itu menepuk-nepuk pipi Fenny dengan pelan, meskipun kesal tapi entah kenapa dia tidak bisa marah dan bersikap kasar pada wanita satu ini.


"Aku bilang bangun!" cetus Zack, tapi hanya hening yang menyambutnya.


Dengan tatapan kesal sekaligus gemas, Zack memajukan wajah. Hingga kini nyaris tak ada jarak di antara mereka, jika saja Fenny sadar mungkin dia bisa merasakan hembusan nafas Zack.


Zack kembali memperhatikan pahatan wajah wanita itu. Fenny memang wanita yang polos dan sederhana, tetapi entah kenapa sejak pertemuan mereka kala itu, wanita itu mampu membuat sudut hatinya bergetar.


Hingga Zack kembali mengulang kecupan untuk yang kedua kalinya. Namun, nalurinya mendorong untuk tidak sekedar mengecup, Zack menggerakkan bibir, meraup benda ranum yang sudah digapainya sejak tadi, hingga saliva mereka bercampur menjadi satu.


Akan tetapi tepat pada saat itu, Fenny membuka matanya, dia terbelalak lebar, karena lagi-lagi Zack mencium bibirnya.


Dengan gerakan reflek Fenny mendorong dada pria itu hingga ciuman mereka terlepas, dan dia langsung berteriak histeris. "Arghh! Apa yang anda lakukan, Tuan?!"


Fenny menutup mulutnya menggunakan kedua tangan, tak percaya jika ciuman pertama yang sudah dia siapkan untuk calon suaminya, malah direbut paksa oleh Zack.


Tubuh Zack sempat menabrak setir, tetapi hal tersebut tak membuat dia bersikap berlebihan. Zack menghembuskan nafas, lalu menatap Fenny yang terlihat gelagapan.


"Mommyku pernah membacakan sebuah dongeng putri tidur, kata Mommy kalau ingin putri tidur itu bangun, maka ciumlah bibirnya. Ya sudah, aku praktekkan padamu," jawab Zack dengan enteng, dan membuat Fenny langsung mendelik.


Dia tidak percaya dengan jawaban pria itu, rasanya di luar nalar manusia.


"Tapi anda sudah kurang ajar!" Entah keberanian dari mana, Fenny akhirnya berkata seperti itu. "Anda telah mengambil ciuman pertama saya, padahal ini semua sudah saya siapkan untuk calon suami saya nanti!"


Zack tiba-tiba tersenyum misterius, membuat Fenny langsung merinding.


"Oh, jadi kamu ingin aku tanggung jawab begitu?" tanyanya. Fenny menganga, bingung menanggapi ucapan Zack.


"Buk—bukan maksud saya, anda jangan pernah lagi melakukan itu. Saya tahu, saya ini dari kampung, tapi anda tidak bisa memperlakukan saya seenaknya!" ketus Fenny dengan tatapan serius.


Namun, Zack malah makin senyum-senyum tidak jelas. Di matanya Fenny terlihat semakin menggemaskan ketika sedang marah-marah, hingga gerakan cepat, dia mencengkram kecil dagu Fenny.


"Baik, aku akan tanggung jawab atas ciuman itu! Aku akan menghidupimu selamanya. Hari ini kita pacaran!"


Duar!


Suara jantung Fenny kembali meledak.


***


Minta hadiah lagi buat couple satu ini, hihi😜😜😜