
Bodoh.
Satu kata itu pantas untuk Renata, bisa-bisanya dia berpikir bahwa Lee akan menyebut namanya atau sekedar memberi petunjuk, bahwa pria itu pernah mengingat tentang dirinya.
Ternyata pikiran dia salah kaprah dan sepertinya dia teledor, karena membiarkan otaknya terkontaminasi oleh jebakan pria itu.
Sadarlah, Renata, jangan sampai kamu membiarkan dia tahu apa rencanamu. Jangan memikirkan yang aneh-aneh, dekati Gio dan Shasha, dan lekaslah pergi, bawa mereka, agar pria di depanmu ini tahu, bagaimana tersiksanya dipisahkan dari anak-anaknya!
Tegas Renata pada batinnya sendiri. Dia terus menunduk sambil merutuki kebodohannya, yang hampir saja membuat Lee curiga.
"Ada apa denganmu, Re?" tanya Lee dengan senyum mengejek. Dia senang sekali melihat gelagat Renata yang mulai ketar-ketir.
"Tidak, Tuan, saya baru tahu kalau ternyata Nona Shasha juga menyukai buah yang sama seperti saya," balas Renata dengan tersenyum kikuk.
Sementara Lee semakin melebarkan senyumnya. Dia sengaja menarik-ulur Renata, agar wanita itu lelah sendiri dengan penyamarannya.
Kelak, dia yakin, Renata akan menunjukkan jati dirinya sendiri, karena mudah terpancing dengan semua kebiasaan yang sering mereka lalui bersama.
"Shasha memang menyukai buah itu sejak dia masih ada di dalam perut, aku sering membawakannya," ujar Lee dengan senyum miring. Dan kalimat itu sukses membuat Renata tersedak, dia benar-benar tak mampu mengendalikan dirinya.
Uhuk!
"Pelan-pelan, Re. Aku tidak akan meminta makananmu," kata Lee sambil mengulurkan air putih ke hadapan wanita itu, sementara Renata memegangi dadanya sambil terbatuk-batuk.
Tanpa banyak kata, dia menyambar air putih dari tangan Lee dan menandaskannya begitu saja.
"Maaf, Tuan, makanan ini terlalu pedas, jadi saya tersedak," ujar Renata mencari alasan. Dia melirik ke arah Lee, dan pria itu hanya mengangguk sekilas dengan senyum yang terlihat sangat aneh.
***
Hari ini Renata mulai membawa mobil yang dibelikan oleh Lee. Dia tidak tahu jika kendaraan roda empat itu sudah diisi dengan berbagai macam fasilitas yang memudahkan Lee memantau dirinya dari jauh.
Bahkan pria itu menyematkan plat khusus, sesuai dengan milik keluarganya, yaitu dari marga Tan.
Jadi, orang-orang dari keluarganya akan langsung mengenali siapa pemilik mobil tersebut. Tanpa harus bertanya.
"Langsung ke rumah Mommy saja, Zack," ucap Lee ketika mobil yang dikendarai oleh Zack hendak melandas. Dia berencana pergi ke sana untuk memberitahu ayah dan ibunya kalau DNA Renata benar-benar cocok dengan si kembar.
Selain itu, dua bocah kesayangannya juga ada di rumah kedua orang tuanya. Sebab tadi pagi sebelum ia berangkat kerja, ia lebih dulu mengantarkan Gio dan Shasha.
"Bagaimana dengan Kak Sofia, Kak? Apa kamu sudah membereskannya?" tanya Zack, ketika mereka sudah setengah jalan.
"Sudah, Zack. Aku dan dia sudah bercerai, tadi malam dia pergi dari rumah bersama Roky. Aku melakukan ini semua bukan tanpa alasan."
"Iya, Zack. Tapi aku minta kamu awasi mereka berdua. Aku tidak mau kalau sampai mereka berbuat macam-macam pada Renata, apalagi Gio dan Shasha."
Lee menyuarakan kegundahannya. Dan dengan senang hati Zack menerima tugas itu. Dia akan melakukan apapun untuk keutuhan serta keamanan keluarga bos sekaligus sepupunya.
"Tentu saja, Kak. Aku akan melakukan apapun untukmu."
"Terima kasih, Zack," kata Lee sambil tersenyum, merasa beruntung ada Zack yang selalu siap sedia mendampinginya.
Sementara di sisi lain, Renata baru saja sampai di basemen apartemen. Dia sudah mampu mengendarai mobil karena sempat diajarkan oleh Arshlan.
Dan secara kebetulan, dia bertemu dengan Regina yang kala itu juga baru datang.
"Gin, tumben kamu pulang cepat?" tanya Renata menyapa wanita cantik berjas dokter itu.
Mendengar namanya dipanggil Regina pun langsung menoleh, senyumnya mengembang ketika melihat Renata.
"Oh ya, Re. Aku ada makan malam keluarga, jadi izin pulang cepat."
"Wah sepertinya kamu memiliki keluarga besar?" tebak Renata dan Regina langsung menganggukkan kepala. Namun, tiba-tiba fokus Regina teralihkan pada mobil berwarna biru yang terparkir tak jauh darinya.
Dia jelas mengenali plat nomor yang tertera di sana.
Milik keluargaku, tapi kenapa Renata yang membawanya?
"Re, ini mobil barumu?" tanya Regina penasaran.
"Iya, Gin. Itu pemberian dari bosku, katanya sebagai inventaris," jawab Renata dengan jujur.
Sementara hal tersebut membuat Regina mengernyitkan dahinya. Dia mulai menebak, di mana wanita itu bekerja, dan kenapa mobil itu diberikan kepadanya. "Memangnya kamu kerja di mana?"
"Aku bekerja di anak cabang Tan Group yang ada di dekat sini, aku sekretaris baru di sana."
Mendengar itu, Regina langsung membulatkan kelopak matanya dengan sempurna. Dia jelas tahu itu di mana, dan siapa pemimpinnya.
"Kamu bekerja dengan Kak Lee?" tanyanya memastikan, sama seperti reaksi Regina, pupil mata Renata pun membesar.
"Dari mana kamu tahu?"
Regina langsung terkekeh kecil. "Tentu saja aku tahu, dia Kakak sepupuku, dan Zack adalah adik sepupuku. Kita semua saudara."
Deg.