
Regina mencoba membujuk Renata tanpa ingin memojokkan wanita itu. Regina hanya ingin Renata berpikir berulang kali mengenai keputusannya memisahkan si kembar dengan ayahnya.
Dia jelas tahu, bahwa Gio dan Shasha sangat menyayangi Lee. Begitu pun sebaliknya. Jadi, sepertinya akan sulit, jika mereka harus tinggal di rumah yang berbeda.
Sebagai anak, tentu mereka menginginkan keluarga yang utuh. Namun, untuk saat ini Regina menangkap bahwa Lee dan Renata telah memberikan alasan kepada putra-putri mereka, supaya keduanya bisa mengerti.
Setelah makan malam, Zack dan Regina pun pamit. Karena mulai sekarang Fenny akan tinggal dengan Renata, untuk membantu mengurus si kembar dan segala kebutuhannya.
"Kamu tidur di kamarku dulu saja. Karena kamar sebelah belum sempat aku bereskan," ucap Renata ketika dia hendak melangkah menuju kamar.
"Tidak, Nyonya. Saya lebih baik tidur di sofa saja," tolak Fenny, merasa tak enak hati jika harus satu ranjang dengan majikannya. Ya, Lee berpesan agar dia menghormati dan mematuhi perintah Renata, sama halnya dia patuh pada perintah Lee.
"Tidak apa-apa, Nanny. Kasur Ibu masih cukup kok untuk kita berempat," timpal Shasha sambil menengadah, menatap Fenny yang tersenyum kikuk.
Lagi pula Renata tidak akan mungkin membiarkan orang lain tidak nyaman tinggal di apartemennya.
"Iya, jangan terlalu sungkan, dan berhenti memanggilku seperti itu. Aku bukan orang yang harus kamu hormati, Fen," kata Renata.
"Saya hanya mengikuti perintah Tuan, Nyonya. Kalian adalah majikan saya."
Renata terdiam, dia merasa bahwa sekarang bukanlah waktunya untuk berdebat tentang hal yang tidak penting seperti ini. "Kalau begitu segeralah masuk ke kamar. Ini perintah!"
Fenny ingin kembali menolak. Akan tetapi dia malah kebingungan, karena Renata justru melanjutkan langkah.
Gio terkekeh melihat wajah Fenny yang tampak pasrah. Tanpa segan dia menggandeng tangan wanita itu. "Jangan banyak berpikir, Nanny. Nanti kamu cepat tua."
Bocah tampan itu menarik tangan Fenny untuk menyusul ibu dan adiknya. Mereka bersiap-siap untuk tidur, dan setelah semuanya beres, mereka mulai naik ke atas ranjang.
Namun, tidak dengan Fenny. Dia justru melangkah ke arah barang-barang yang tadi dia bawa dari rumah. Lalu mengambil tumpukan buku dongeng.
Dia mendekat ke arah Renata, lalu menyerahkan beberapa buku itu. "Ini dari Tuan Lee. Katanya ini semua dongeng kesukaan Nona Shasha. Saya tidak bisa membacakannya, Nyonya. Karena Nona Shasha hanya ingin Daddy-nya yang melakukan itu. Tapi sekarang Tuan Lee tidak ada. Jadi, Nyonyalah yang harus menggantikannya."
Renata mengambil buku dongeng itu dengan ragu, mulai sekarang dia harus banyak belajar tentang kesukaan kedua anaknya.
Wanita itu hanya menganggukkan kepala, kemudian melihat buku-buku tersebut. Dia tersenyum tipis ketika melihat ada satu buku yang pernah dibacakannya saat itu. Dan dia yakin, Shasha akan segera terbiasa dengan ini semua.
"Nak, kamu ingin dibacakan dongeng yang mana?" tanya Renata sambil melirik Shasha yang sedari tadi mengobrol dan bercanda dengan kakaknya.
"Aku—aku ingin dongeng putri salju. Karena aku ingin mendapatkan seorang pangeran seperti Daddy," jawab Shasha, yang membuat senyum Renata menjadi hambar.
Dia tahu bahwa bocah cantik ini sangat manja dengan ayahnya, sudah tentu kalau dia selalu teringat dengan Lee.
"Oke, tapi janji yah, setelah Ibu bacakan kalian segera tidur," ucap Renata.
Gio dan Shasha mengangguk penuh semangat, membuat Renata dan Fenny saling melempar senyum. Tanpa membuang waktu, Renata segera membacakan buku tersebut, dan kedua anaknya benar-benar tertidur.
Namun, entah kenapa ketika tengah malam Gio dan Shasha terus membolak-balikkan badan. Mereka seperti merasa tidak nyaman, meski sedari tadi mata mereka tertutup.
Akan tetapi usaha Renata belum juga membuahkan hasil, karena hampir satu jam lamanya Gio dan Shasha terus seperti itu. Bahkan kini Fenny pun ikut bangun.
"Sepertinya mereka belum terbiasa, Nyonya. Karena Tuan Lee bilang, Tuan Kecil dan Nona Shasha tidak pernah menginap di rumah orang lain," ujar Fenny mencoba menebak masalah yang tengah mereka hadapi.
Namun hal tersebut membuat Renata meneguk ludah, merasa tak senang jika Fenny berkata seperti itu.
"Maaf, Nyonya, maksud saya—"
"Tidak perlu dijelaskan. Aku paham apa yang kamu katakan. Mereka akan segera terbiasa dengan tempat ini, karena ada aku."
Fenny tak berani menjawab, dan akhirnya dia kembali berbaring sambil memperhatikan Gio dan Shasha yang terus mengeluarkan wajah gelisah.
Hingga tak terasa satu malam terlewati, pagi menyapa meski terasa sangat lama bagi Renata. Wanita itu bangun lebih cepat untuk menyiapkan sarapan, sementara Fenny dan si kembar masih bergelung di bawah selimut.
Fenny bangun dengan tergesa saat sinar matahari mulai membias di antara celah-celah kamar. Dia langsung mencuci muka, dan menyusul Renata ke dapur.
"Nyonya, maafkan saya, saya terlambat bangun," ucap Fenny dengan raut bersalah.
Namun, Renata justru menanggapinya dengan santai. "Tidak apa-apa, lagi pula aku kan sudah bilang, jangan segan denganku."
Fenny tak fokus dengan jawaban Renata, karena bola matanya mengarah pada gelas yang sedang diisi oleh sesuatu.
"Nyonya, itu apa?" tanya Fenny.
"Ini? Susu kedelai, ini bagus untuk anak-anakku."
"Nyonya, Tuan Lee tidak memperbolehkan Nona Shasha dan Tuan Kecil meminum minuman itu."
Kening Renata berkerut. "Kenapa? Apakah dia berpikir bahwa susu yang murah ini tidak layak?"
"Maaf, Nyonya. Tapi mereka alergi dengan susu kedelai."
Deg!
Renata langsung mematung, dia terdiam dengan pikiran yang mulai berkelana. Sebagai seorang ibu, dia merasa tidak tahu apa-apa mengenai apa yang disuka dan tidak disuka kedua anaknya.
"Apakah kamu tahu semua tentang anak-anakku?" tanya Renata pada Fenny.
"Tentu, Nyonya. Tuan Lee membuat daftar terperinci apa saja yang tidak boleh mereka makan, dan semua kebiasaan mereka sehari-hari. Beliau tidak melewatkannya sedikitpun, bahkan sampai hal sekecil mungkin. Contohnya kuncir rambut Nona Shasha, setiap hari Nona Shasha ingin warna kunciran yang berbeda," jawab Fenny apa adanya. Membuat perasaan Renata semakin kacau.
Wanita itu akhirnya terduduk sambil memegangi kepalanya. Dia merasa seperti orang bodoh sekarang.
***