
"Mari bicara!" ucap Aneeq seraya menepuk pelan bahu Renata. Dia tidak akan mungkin diam saja setelah melihat semuanya. Terlebih masalah ini menyangkut kedua cucunya.
Gio dan Shasha tidak boleh menderita. Sudah cukup lima tahun mereka kehilangan ibunya, Aneeq tidak ingin dua bocah itu merasakan kembali perpisahan, hanya karena dua ego yang masih sama-sama besar.
Renata menatap pria yang berdiri di sampingnya. Wajah yang tak asing itu membuat dia mampu untuk menebak, bahwa dia adalah ayah Lee, kakek dari kedua anaknya.
Tanpa basa-basi Renata pun menganggukkan kepala. Aneeq menarik tangannya dari bahu Renata, lalu melangkah lebih dulu. Sementara Renata terus mengekor dengan perasaan yang tak menentu, ada takut, cemas, dan kalut sekaligus.
Bahkan sepanjang langkahnya, wanita itu terus berpikir dan menebak-nebak, apa kira-kira yang akan disampaikan oleh Aneeq.
Langkah kaki pria itu berhenti di kursi taman. Dia duduk, lalu menepuk sisi kosong yang ada di sampingnya. Renata merasa bahwa Aneeq adalah sosok yang sama seperti Lee, datar dan tak begitu banyak bicara, tatapannya tajam, tetapi tak begitu menyeramkan.
"Duduklah!" titah Aneeq, dan Renata pun patuh.
Dia duduk di samping Aneeq, tetapi tak tahu harus bersikap seperti apa. Hingga akhirnya dia memilih untuk menundukkan kepala. Menatap rerumputan dengan pikiran yang ke mana-mana.
Ada waktu yang terjeda di antara mereka, karena sampai beberapa saat, tidak ada yang bersuara. Aneeq menarik nafas, lalu membuangnya secara perlahan, dia tampak berpikir, menyiapkan kalimat yang pas untuk dia ucapkan pada Renata.
"Sebelumnya aku ingin memperkenalkan diri. Namaku Aneeq, aku adalah ayah Lee. Aku tidak tahu harus memulainya dari mana, tapi yang jelas aku minta. Aku minta dengan sangat, jangan membawa-bawa kedua cucuku dalam masalah kalian ...," kata Aneeq sambil melirik ke arah Renata yang masih mempertahankan posisinya.
"Aku tahu kamu membenci Lee karena dia hanya menginginkan kamu melahirkan anak-anaknya. Kamu marah, kamu kecewa, dan kamu ingin Lee mendapatkan hal yang sama. Yang tanpa kamu sadari, kamu telah membuat hati Gio dan Shasha terluka. Mereka sudah kehilanganmu selama lima tahun, aku mohon ... jangan buat mereka menderita lagi hanya karena ego kalian."
"Kamu boleh menghukum Lee, tapi jangan cucuku. Kamu boleh melakukan apapun padanya, tapi jangan sampai kedua cucuku ikut terluka. Karena bahagia mereka, adalah bahagia kami. Apa yang membuat mereka sakit, kami bisa merasakan dua kali lipatnya. Karena seluruh keluarga mencintai dan menyayangi mereka tanpa peduli kedua bocah itu lahir dari rahim yang mana."
Renata membeku dan terus memasang telinganya untuk mendengarkan penjelasan Aneeq. Hingga tak terasa air matanya kembali berjatuhan, ternyata banyak sekali orang yang menyayangi kedua anaknya. Namun, kenapa? Kenapa kehadirannya malah membuat Gio dan Shasha menderita?
Suara tangis Renata kian mengeras, tak dapat membayangkan bagaimana situasi saat itu. Dia memang gegabah, karena pergi begitu saja tanpa mau menunggu barang sebentar.
Sekarang dia malah merasa sangat bersalah, ego yang sudah berdiri kokoh, seolah hancur begitu saja.
"Pada intinya, jika tidak ingin kembali dengan anakku, maka jangan larang mereka untuk bertemu. Gio dan Shasha sudah terbiasa tinggal dengan Lee, ikatan batin mereka sangat kuat. Sama halnya denganmu. Jadi mereka tidak bisa memilih salah satu di antara kalian. Aku harap semua yang aku katakan membuat kamu mengerti. Bahwasanya keinginan dua bocah polos itu hanya tinggal bersama kedua orang tuanya, jika bisa ...."
Renata menarik nafasnya dalam, dan detik selanjutnya dia malah menangis keras. Dia sudah tak dapat menahan gumpalan penyesalan yang ada di hatinya.
"Maaf ... maafkan Ibu, Nak," lirih wanita itu sambil menutup wajahnya.
"Jangan terlalu menyalahkan dirimu. Tugasmu sekarang hanyalah memperbaiki semuanya sebelum terlambat," kata Aneeq. Dia ingin masalah anaknya segera selesai, dan mulai menikmati hidup dengan kebahagiaan.
"Apakah Gio dan Shasha sebenarnya tidak nyaman tinggal denganku, Tuan?" tanya Renata, entah kenapa dia jadi merasa seperti itu.
"Bukan. Tapi yang sudah aku bilang, bahwa mereka sudah terbiasa tinggal dengan Lee, jadi mereka tidak bisa dipisahkan begitu saja. Dan berhentilah memanggilku seperti itu, aku adalah kakek dari anak-anakmu. Kamu boleh memanggilku Daddy, meskipun sekarang kamu masih belum bisa memaafkan Lee," jelas Aneeq yang membuat Renata tertegun.
Wanita itu pun berhenti mengeluarkan suara, lalu melirik ke arah Aneeq. Aneeq tersenyum tipis, membuat Renata kian tak enak hati.
"Cobalah ... panggil aku Daddy."
Renata bergeming, tetapi hatinya mulai mengeja panggilan itu.
Dad—dy.