Hidden Mommy

Hidden Mommy
Bab 83. Orang Itu Adalah Aku



Fenny masih tak bisa percaya dengan status hubungan mereka sekarang. Hingga saat mereka sudah sampai di basemen apartemen milik Renata. Fenny terus mematung di tempat duduknya.


Sementara Zack terus mengeluarkan wajah sumringah. Dia menggigit bibir bawahnya, merasa senang dapat menaklukkan wanita yang ada di sampingnya, ya meskipun dengan cara yang sedikit aneh.


Zack menoleh ke arah Fenny, dan wanita itu hanya bisa bergeming. Zack berinisiatif untuk membukakan sabuk pengaman, ya, walaupun dia belum bisa menjadi pacar yang romantis, setidaknya dia pernah melihat adegan ini di salah satu film yang sering ibunya tonton.


Fenny melirik Zack dengan manik yang bergerak perlahan. Ketika pria itu mendekat dan mencoba membatunya, Fenny langsung menahan nafas. Sebab aroma maskulin itu seperti membuat otaknya tak waras.


Hingga saat Zack ingin keluar dari mobil, Fenny tiba-tiba bersuara. "Tuan, apakah anda ingin bermain-main dengan saya?"


Tangan Zack yang sudah menyentuh handle pintu mendadak berhenti bergerak. Dia langsung menghadap ke arah Fenny dengan kening yang mengernyit, tak begitu paham dengan pertanyaan wanita itu.


"Bermain-main apa maksudmu?"


Fenny meneguk ludahnya susah payah, meksipun Zack tampan, kaya, dan termasuk dalam kategori pria idamannya. Akan tetapi Fenny pun sadar diri, bahwa dia dan pria itu berbeda kasta.


Apalagi mereka tidak mengenal terlalu dalam. Rasanya sangat aneh, jika Zack tiba-tiba mengklaim bahwa mereka berpacaran.


"Ya, apakah anda ingin mempermainkan saya? Anda tiba-tiba berkata seperti itu, bahkan tak meminta jawaban saya terlebih dahulu," ucap Fenny sambil menoleh ke samping, dia memberanikan untuk menatap kedua manik mata pria yang ada di sebelahnya.


Zack menarik salah satu sudut bibirnya ke atas. Dia tahu pasti Fenny berpikir bahwa dia sedang bercanda.


Padahal dia ingin serius menjalin hubungan dengan wanita itu, tak peduli Fenny lahir dari kalangan mana dan keluarga seperti apa. Toh, ibu dan ayahnya tidak pernah mempermasalahkan hal seperti itu.


"Kamu sudah menatap mataku lebih dari lima detik, bukankah itu sebuah kemajuan?" balas Zack, membuat Fenny yakin bahwa pria ini tak serius dengan ucapannya, dengan gerakan pasrah Fenny menundukkan pandangannya, namun sebelum itu terjadi Zack kembali meraih dagu Fenny.


"Kamu sendiri yang memintaku untuk bertanggung jawab. Lalu kenapa kamu malah bertanya seperti itu?"


Fenny terdiam sesaat seraya menelisik pahatan wajah Zack dengan jarak yang tidak bisa dikatakan biasa. Kening wanita itu berkerut penuh keraguan, dia tidak ingin terlena, apalagi mengalami sakit hati seperti sahabatnya—Ajeng—wanita yang sama-sama berasal dari kampung, dan merantau ke ibu kota untuk menjadi seorang pengasuh di keluarga kaya.


Ya, Ajeng pernah gagal menikah. Pesta pernikahan wanita itu terpaksa dibatalkan, karena mempelai pria menghamili wanita lain. Yang tak lain dan tak bukan, adalah sepupu Ajeng sendiri.


Dan Fenny tidak mau, kalau sampai Zack pun tiba-tiba memiliki wanita lain selain dirinya, apalagi pria itu adalah idaman para wanita di luar sana.


"Maksud saya bukan seperti itu, Tuan. Anda jangan salah paham!"


Kening Fenny semakin berkerut. Apakah seperti ini jika berurusan dengan seseorang yang memiliki kuasa. Bahkan dia tidak boleh membantah.


"Apa maksud anda, Tuan?"


Tangan Fenny mencengkram ujung baju dengan keringat dingin, padahal AC mobil masih menyala dengan baik.


Zack mencondongkan tubuhnya ke telinga, tangannya yang hangat menyentuh rambut wanita itu membuat Fenny meremang seketika. Fenny menggerakkan kepala, tetapi Zack justru berbisik.


"Katamu orang pertama yang akan mendapatkan ciumaan itu adalah calon suamimu. Itu artinya, orang itu adalah aku ...."


Rontok sudah jantung Fenny, karena dalam sehari dia terus dibuat terkejut dengan kata-kata yang keluar dari mulut Zack. Wanita itu mematung dengan otak yang berpikir ke mana-mana.


Sementara si pelaku kembali tersenyum lebar. Bahkan Zack sudah tidak segan untuk mengecuup pipi Fenny. "Hari ini, kita benar-benar resmi pacaran. Jangan panggil aku, Tuan, tapi panggil aku dengan panggilan kesayangan."


Glek!


Tolong ... tolong aku, aku butuh nafas buatan. Batin Fenny berteriak kencang, karena semua ini tidak ada dalam daftar mimpinya.


Ya, atau mungkin semua ini hanya mimpi Fenny di siang bolong? Oh tentu tidak, sebab saat mereka keluar dari mobil, mereka berpapasan dengan Regina yang baru saja pulang dari rumah sakit.


Wanita itu terhenyak saat melihat Zack menggandeng tangan pengasuh Gio dan Shasha. "Zack, apa maksudmu?" tanya wanita itu sambil memberi kode.


Bukannya lekas menjawab, Zack justru mengulum senyum. "Aku sudah tidak jomblo, Gin. Dia calon istriku ...."


Lantas setelah itu, Zack melangkah lebih dulu, dengan menggenggam erat tangan Fenny. Membuktikan bahwa semua ini adalah nyata.


Genggaman itu sangat terasa.


***


Sedih²nya dipending dulu yaa🤸🤸