
Zack berjalan dengan tergesa untuk menyusul Fenny dan si kembar. Sebab dia sudah diberi perintah oleh Lee untuk mengantar ketiga orang itu sampai rumah.
Jadi, dia tidak mau lepas tanggung jawab begitu saja. Tak peduli meski wanita bertubuh mini itu terus menghindarinya.
Ketika Fenny sedang melambaikan tangan untuk menyetop taksi, tiba-tiba Zack langsung berteriak.
"Tidak, Pak! Mereka pergi dengan saya." Pria itu berdiri persis di belakang Fenny, membuat jantung wanita itu hampir saja lepas dari sarangnya.
Sementara si supir taksi langsung melengos, sebab dia gagal mendapatkan penumpang gara-gara Zack.
"Kalian ini pergi denganku, jadi pulang juga harus denganku!" ujar Zack, namun kata kalian itu sebenarnya tidak berlaku, sebab Zack hanya ingin memperingati Fenny. Agar wanita itu berhenti memprovokasi si kembar.
"Tidak, Tuan, kami akan mencari kendaraan lain. Sebaiknya jangan halangi kami," jawab Fenny, yang membuat Zack menautkan kedua alisnya.
Sikap Fenny sangat kentara, bahwa dia sedang berusaha untuk menghindari Zack.
"Atas dasar apa kamu selalu menolak tawaranku? Lagi pula, ini tugas dari ayah mereka!"
"Maaf, Tuan, tapi saya hanya tidak suka merepotkan orang lain. Lagi pula jarak dari rumah dan perusahaan itu memakan waktu. Kalau anda mengantar kami lebih dulu, terus sampai di perusahaannya kapan? Ini sudah sore, anda juga harus pulang," balas Fenny dengan sedikit tergagap, dia tidak berani menoleh sedikitpun, sebab jantungnya terus berdetak tidak karuan.
Haish, aneh sekali, kenapa jantungku dag-dig-dug terus? Padahal aku ini sedang berhadapan dengan orang tampan, apa aku sekampungan itu?
Fenny membatin sambil terus memegangi tangan Gio dan Shasha. Tak peduli pada keringat yang membasahi dahinya.
Namun, bukannya menimpali ucapan Fenny, Zack malah berpindah topik.
"Apakah kamu tidak memiliki kosakata lain selain maaf? Kenapa kamu terus berkata seperti itu dan tidak mau melihat wajahku?" cetus Zack, dia benar-benar merasa tersinggung, karena seharian ini Fenny terus menghindarinya.
Mendengar pertanyaan itu, Fenny pun meneguk ludah. Dia memberanikan diri untuk berbalik, tapi tidak dengan mengangkat kepala. "Saya benar-benar minta maaf, Tuan."
"Maaf lagi?" tanya Zack dengan kening yang mengernyit.
"Mak-maksud saya, saya—"
"Uncle, kamu membuat Nanny kami ketakutan. Jangan dipojokkan begitu dong," sambar Gio, merasakan tangan Fenny yang basah dan juga bergetar.
"Lho, aku hanya bertanya," balas Zack.
"Tapi Nanny jadi tergagap, itu artinya dia merasa terancam!" tegas Gio, sesuai dengan analisisnya.
"Iya, tangan Nanny sampai—"
"Ya sudah, tunggulah di sini aku akan mengambil mobil," ujar Zack seraya melirik Fenny yang senantiasa menatap ke bawah.
Pria itu mendesaah kecil, seolah merasa jengah. Tak ingin ambil pusing, Zack melangkah untuk mengambil mobilnya di parkiran. Sementara Gio dan Shasha kompak melongok Fenny dengan memiringkan kepala.
"Nanny, tidak apa-apa?" tanya Gio.
"Ya, apakah Nanny benar-benar ketakutan? Tapi kenapa? Bukankah Uncle Zack itu tampan, kalau aku sudah besar, aku pasti bermimpi untuk menjadi kekasihnya," timpal Shasha dengan gaya centil. Membuat Fenny mencebikkan bibir.
"Bukan begitu, kalian jangan suka asal bicara, Nanny bukannya takut, tapi—ah sudahlah, Nanny juga tidak mengerti kenapa!" balas Fenny, tak paham dengan apa yang dirasakannya.
Ketika mereka sudah berada di dalam mobil. Di sepanjang perjalanan Zack selalu memperhatikan wajahnya di kaca spion. Seolah sedang mencari sesuatu.
"Apakah karena tatapanku? Tapi perasaan biasa saja," batin Zack, sedari tadi dia tidak fokus menyetir. Karena mencari cacat di wajahnya, yang membuat Fenny ketakutan seperti yang disebutkan Gio.
"Atau bibirku? No, bibirku seksi!"
"Atau mungkin karena aku tidak tersenyum? Atau cara bicaraku?"
Dan masih banyak atau-atau yang lain, yang membuat Zack jadi pusing. Dia merasa tak ada yang salah dengan wajahnya, tetapi reaksi Fenny sungguh menggangunya.
"Haish, untuk apa juga aku memikirkannya?" cetus Zack, tak sadar jika ada tiga orang di belakangnya.
"Memangnya Uncle memikirkan apa?" tanya Gio, membuat Zack langsung tersadar.
"Oh Uncle hanya sedang berpikir untuk pulang atau kembali ke perusahaan, karena ini sudah sore, jam kerja karyawan seharusnya sudah selesai," balas Zack bohong. Dia melirik ke arah Fenny, wanita dengan kulit sawo matang itu terus terdiam. Sedari tadi, dia tak mengeluarkan sepatah katapun.
"Tapi wajah Uncle terlihat kesal."
"Astaga, Gio. Wajah Uncle memang seperti ini."
Zack kembali melihat spion, melihat pantulan wajahnya sendiri. Dia memperhatikan dengan seksama, tapi memang seperti itulah wajahnya.
"Bukankah aku juga tampan seperti Kak Lee?" gumam Zack, jadi narsis sendiri.
***
Yang mau lihat visual, langsung ke igehhh ya @nitamelia05 💃💃💃