Hidden Mommy

Hidden Mommy
Bab 33. Pria Juga Berhak Menangis



"Lalu, apakah boleh aku menyuruh Daddy untuk berkhianat?" tanya Gio dengan bibir yang bergetar. Sementara Renata langsung melebarkan kelopak matanya, dengan jantung yang nyaris terjun dari tempatnya.


Dia tidak percaya jika sang anak akan memiliki pemikiran seperti itu.


"Apa?" Renata berpura-pura tak paham, tetapi dalam hatinya dia ingin sekali memeluk tubuh kecil Gio.


"Daddy dan Mommy selalu bersikap seperti orang asing di rumah ini. Aku berpikir, akan lebih baik jika mereka saling berkhianat agar mereka bisa tersenyum bahagia. Apa aku salah?" ujar Gio tiba-tiba dengan air matanya yang terjatuh.


Akan tetapi bocah tampan itu berusaha untuk tidak mengeluarkan suara. Menunjukkan betapa tegarnya dia menyimpan perasaan sakit akan ketidakharmonisan keluarganya.


Melihat itu, Renata tidak bisa lagi menahan diri, dia segera meraih tubuh putranya. "Tuan Kecil boleh menangis. Tidak akan ada yang melarangnya."


"Tapi aku seorang pria. Kata Grandpa aku tidak boleh cengeng. Karena aku harus melindungi Shasha," jawab Gio dengan terbata. Sesungguhnya ludahnya sudah tercekat di tengah tenggorokan, tapi dia tetap meneguhkan pendiriannya untuk tidak menangis.


Hati Renata kian terenyuh, dia semakin memeluk tubuh Gio, dan membiarkan pria kecil itu mengeluarkan air matanya. "Tidak, pria juga berhak menangis. Gio boleh menangis di pelukan Aunty."


Tidak ada jawaban, karena detik selanjutnya hanya ada suara isak tangis Gio. Untuk pertama kalinya dia terlihat lemah di depan orang lain. Padahal semua orang pun tahu, Tuan Muda Tan adalah pria kecil yang selalu terlihat acuh tak acuh.


Mereka tidak sadar jika sedari tadi ada Lee di balik pintu, pria itu terus berdiri dan mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar kedua anaknya.


Dia senantiasa memperhatikan Renata yang begitu perhatian pada Gio dan Shasha. Bahkan dengan suka rela menidurkan mereka.


Melihat itu, dia jadi enggan untuk merusak suasana. Akan tetapi sekarang dia dibuat terperangah sekaligus lara dengan pembicaraan antara Gio dan Renata. Apa maksud Gio bertanya seperti itu?


Pasti ada sesuatu yang terjadi!


Pada saat itu Lee langsung pergi meninggalkan kamar kedua anaknya. Dia melangkah lebar ke arah ruangan CCTV untuk mengecek keadaan selama dia tidak ada di rumah.


"Aku begitu mengenal anak-anakku, Gio tidak pernah seperti ini!" gumam Lee dengan gigi depan yang mengatup rapat. Kini dia sudah memegang kunci cadangan, karena semua orang sudah beristirahat. Kecuali security yang berjaga di depan.


Ketika tiba di ruangan CCTV, Lee langsung mengecek semuanya. Akan tetapi ada beberapa kamera yang mati dan tim keamanan tidak ada yang melapor kepadanya.


"Ck! Bisa-bisanya mereka lengah?!" cetus Lee dengan mata yang melotot tajam. Dia kembali mengotak-atik benda yang ada di hadapannya. Akan tetapi jawabannya sama, dan hal tersebut tentu membuat dia merasa kesal.


Lantas setelah itu, Lee kembali keluar dan menyambangi kamar Sofia. Tanpa kenal waktu, dia segera mengetuk pintu.


Mendengar pintu kamarnya diketuk, Sofia yang kala itu baru saja tertidur terpaksa kembali membuka mata. Dia turun dari ranjang, dan membuka kunci, tepat pada saat itu Lee langsung menyelonong masuk.


"Jelaskan padaku apa yang terjadi?" tanya Lee tanpa basa basi, sementara Sofia yang sedang menguap, langsung melebarkan kelopak matanya.


"Jelaskan apa, Lee? Kenapa malam-malam kamu tiba-tiba datang, dan bertanya seperti itu?"


"Aku tidak butuh omong kosong! Apa yang kamu lakukan di rumah ini, hah?" Lee langsung menyudutkan Sofia dengan tatapan dan jari telunjuknya. Karena dia bisa menebak, ini semua ulah siapa. "Aku tidak peduli kamu ingin berhubungan dengan siapa, tapi jangan pernah menunjukkan itu semua di depan anak-anakku!"


"Maksudmu?" tanya Sofia meminta penjelasan.


"Bodoh! Jangan pikir aku tidak tahu, kamu sengaja mematikan kamera CCTV, agar aku tidak tahu kelakuan bejatmu? Ingatlah, aku mempertahankan kamu hanya karena aku ingin Gio dan Shasha memiliki keluarga yang utuh, aku tidak mau mereka bersedih karena luka perceraian, jadi jaga sikapmu sampai aku menemukan ibu mereka!" tegas Lee dengan amarah yang sampai ke puncak ubun-ubun.


Selama ini dia berpikir dengan mempertahankan Sofia adalah jalan yang terbaik, sebelum dia menemukan Alicia. Karena dia tahu, perceraian itu tidak mudah diterima oleh anak-anak seusia Gio dan Shasha. Mereka akan selalu berpikir, bahwa keluarga mereka tidak sempurna.


Air mata Sofia jatuh dengan tubuh yang membeku. "Harusnya kamu sadar, Lee. Aku seperti ini juga karena kamu. Kamu terus mengacuhkan aku, sementara aku adalah wanita normal, aku butuh kasih sayang, dan bermanja-manja layaknya wanita lain. Kamu tidak memberikan itu padaku!"


Lee menganggukkan kepala. "Ya, tapi ketahuilah, siapa yang memulainya? Dan aku katakan sekali lagi, aku tidak peduli kamu ingin berhubungan dengan pria mana dan seperti apa. Kamu bebas. Tapi satu yang aku minta, jangan sampai ada seorang pun yang mengetahuinya. Kamu yang menjadikanku serba salah, jadi kamu harus menerima konsekuensinya. Kalau kamu tidak paham juga, besok aku akan langsung menandatangani surat perceraian kita. Kali ini, aku akan memberikan pengertian untuk kedua anakku dan kita selesai."


"Lee, aku minta maaf." Sofia menundukkan kepala dengan menunjukkan rasa penyesalan.


"Kita lihat saja ke depannya. Karena aku tidak akan memiliki toleransi lagi!" kata Lee, kemudian dia pergi meninggalkan Sofia yang tergugu di kamarnya.


Pasti gara-gara wanita itu, Renata sialan! Semenjak dia datang, semuanya bertambah kacau.


***


Jangan lupa dipencet itu ulernyaaa🤣🤣🤣