
Malam itu akhirnya Sofia benar-benar pergi dari rumah yang selama ini ia tinggali bersama Lee. Lee tidak mengizinkan kedua anaknya keluar kamar, sebelum Sofia menghilang dari pandangannya.
Wanita itu menggeret koper, sementara di luar sana Lee sudah menyiapkan satu mobil untuknya. Semua itu ia lakukan sebagai ungkapan terima kasih, karena Sofia pernah membantunya untuk mengurus si kembar, meskipun pada akhirnya dia merasa menyesal.
"Lee …."
"Jangan katakan apapun lagi, cepatlah pergi!" kata Lee, memotong ucapan Sofia. Wanita itu membuang pandangannya dengan mata yang berkaca-kaca, dalam hatinya merutuk, semua ini pasti gara-gara Renata, dia yakin seratus persen, kalau Lee mulai dekat dengan sekretaris barunya itu.
"Aku pergi," ucap Sofia dengan menahan isak tangisnya. Dia berjalan gontai untuk masuk ke dalam mobil, dan ternyata di balik kemudi sudah ada Roky. Orang yang selalu mengantarnya ke manapun ia pergi.
"Biar aku yang bawa!" kata Sofia.
"Aku saja. Aku akan ikut denganmu kali ini, Tuan memecatku."
Mendengar itu, Sofia memelototkan matanya. "Memecatmu?"
"Dia tahu apa yang terjadi di antara kita."
Sofia menganga, rasanya dia ingin mengumpat. Karena semua rahasia yang dia tutupi, akhirnya terbongkar semua. Dan pasti ini salah satu alibi, kenapa Lee menceraikannya sebelum wanita itu ditemukan.
"SIALAN!"
***
Lee masuk kembali ke dalam rumah dan pergi ke kamar anaknya. Dia yakin semua yang serba dadakan ini mengejutkan dua bocah itu.
Tok Tok Tok …
Lee mengetuk pintu terlebih dahulu. "Sayang, apa Daddy boleh masuk?"
"Tentu saja, Dad. Pintunya tidak dikunci," balas Gio dengan suara keras. Sementara Shasha terlihat murung, dia merasa bersalah, karena dia menebak bahwa kepergian Sofia adalah ulahnya.
Ceklek!
Pintu terbuka dan menampilkan wajah Lee. Namun, tidak ada penyambutan penuh antusias seperti biasanya, membuat pria itu yakin bahwa Gio dan Shasha sedang bertanya-tanya.
"Sayang, Daddy ingin bicara dengan kalian berdua. Apa boleh?" bujuk Lee seraya berjongkok di depan kedua anaknya yang duduk di sofa.
"Shasha, kenapa?" tanya Lee, dia menangkup kedua pipi gadis cilik itu, dan jatuhlah air mata Shasha.
"Apa benar Mommy pergi gara-gara aku?" tanya Shasha dengan bibir bergetar. Dan tepat pada saat itu, Lee langsung bangkit dan memeluk tubuh putri kecilnya.
"Tidak, Sayang. Ini semua tidak ada hubungannya dengan kalian berdua. Mommy pergi karena keinginannya sendiri . Jadi, Shasha jangan menyalahkan diri sendiri seperti itu," ujar Lee sambil mengusap-usap punggung Shasha.
"Tapi tadi siang Mommy sempat memarahiku," adunya sesenggukan.
"Mommy marah karena hal lain. Lagi pula ada sesuatu yang ingin Daddy bicarakan dengan kalian. Ini jauh lebih serius, apa kalian ingin mendengarnya?"
Gio hanya mengernyitkan keningnya, sementara Shasha masih betah menangis di dalam dada bidang sang ayah.
"Dengarkan Daddy, kali ini Mommy Sofia pergi dan tidak akan kembali lagi."
"Kenapa, Dad?" tanya Gio.
Lee menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya secara perlahan. Dia tidak boleh egois dengan terus menyembunyikan semuanya. Pelan-pelan Gio dan Shasha harus tahu, siapa ibu mereka sebenarnya.
"Karena—karena sebenarnya Mommy Sofia itu—bukan ibu kalian," kata Lee dengan terbata-bata, sementara dua bocah itu mencerna dengan raut kebingungan.
"Apakah kami tidak punya ibu?" tanya Shasha dengan tatapan matanya yang polos, membuat dada Lee berdesir.
"Ada, Sayang. Tapi ibu belum datang," jawab Lee seraya mengusap surai panjang milik putrinya. Dalam lubuk hatinya, Lee merasa sangat sedih mendapati pertanyaan seperti itu. Namun, dia tidak akan pernah menunjukkan kesedihannya di depan Gio dan Shasha.
"Di mana dia, Dad? Apakah kita perlu menjemputnya?" timpal Gio dengan alis yang terangkat. Bocah tampan itu terlihat antusias, seolah kepergian Sofia bukanlah apa-apa baginya.
"Sabar, Sayang. Daddy sedang mengusahakannya. Sebentar lagi kalian pasti akan bertemu dengan ibu. Do'akan Daddy ya, supaya Daddy bisa cepat membawanya ke hadapan kalian," ucap Lee kemudian menarik tubuh Gio pula, hingga kini mereka bertiga saling memeluk satu sama lain.
Lee membuang wajahnya ketika air mata itu jatuh, sumpah demi apapun, rasanya sangat sesak melihat putra-putrinya kebingungan seperti itu.
"Kalau boleh, aku ingin yang seperti Aunty Re, cantik dan juga baik," lirih Gio yang masih mampu didengar oleh Lee. Tepat pada saat itu, jantung Lee seperti ingin meledak.
Dia memang ibumu, ya, Daddy harap begitu.