
Akhir pekan telah tiba.
Sebelumnya Lee sudah mengumumkan pada seluruh asisten rumah tangga dan tim keamanan, bahwa dia dan anak-anaknya akan pergi berlibur.
Namun, ada satu orang yang dibuat terkejut, ketika Lee mengatakan bahwa selama dia pergi, Zack akan tinggal di rumah ini. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Fenny.
Uhuk!
Wanita itu terbatuk-batuk ketika mendengar nama Zack disebut, hingga membuat semua orang mengalihkan pandangan ke arahnya.
"Kamu kenapa, Fen?" tanya kepala pelayan. Membuat Fenny langsung melebarkan kelopak matanya. Dia juga tidak tahu kenapa reaksinya berlebihan seperti ini.
"Pasti Nanny sedih karena kami tinggal berlibur, iya 'kan?" tebak Shasha, mencairkan suasana. Yang justru menjadi sebuah alasan untuk Fenny.
"Ah iya, Nona Shasha, tentu saja Nanny sedih karena harus berpisah dengan kalian berdua. Pulang nanti jangan lupa bawa oleh-oleh ya," timpal Fenny sambil nyengir kuda. Dia juga menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, karena Lee terus menatapnya dengan penuh selidik.
"Kalian tenang saja, aku akan membelikan semua orang oleh-oleh, uang Daddy kan banyak."
Shasha yang polos terus berceloteh, tanpa tahu bahwa semua itu hanya alasan pengasuhnya. Sementara Fenny dibuat terkejut, ketika Zack tiba-tiba masuk dengan membawa koper kecil.
Dia benar-benar pindah? Ya ampun, jadi, setiap hari kami akan bertemu? Apakah jantungku akan selamat kali ini?
Fenny membatin dan langsung menyembunyikan diri di belakang tubuh temannya. Berharap Zack tidak melihat dirinya yang selalu berpenampilan sederhana, tetapi memiliki mimpi setinggi nirwana.
"Kalian berangkat jam berapa?" tanya Zack pada Lee.
"Sebentar lagi, karena kami akan bertemu Renata di Bandara."
"Kalau begitu biar aku antar," ujar Zack, dia melirik ke arah asisten rumah tangga yang berbaris, tetapi tatapannya malah tertuju pada tubuh mungil yang selalu menghindarinya.
Zack sedikit menyipit, hingga tak tahu apa yang ada di kepalanya, tiba-tiba dia memanggil Fenny.
"Nanny Twins!"
Mendengar suara itu, rasanya jantung Fenny langsung bergemuruh hebat. Dia ingin pura-pura tidak mendengarnya, tetapi wanita yang ada di sebelahnya malah menyikut lengannya. Membuat dia mau tak mau mengangkat kepala.
"Ya, Tuan Zack," balas Fenny dengan tergagap.
"Ke—"
"Sekarang! Karena aku harus mengantar Kak Lee dan Twins ke Bandara!" tukas Zack, membuat Fenny langsung menelan kembali kata-katanya.
Akhirnya Fenny pun melangkah ke depan dengan senantiasa menundukkan kepala. Dia meraih koper dari tangan Zack, lalu membawanya ke atas.
Melihat hal tersebut, entah kenapa Zack merasa lucu, hingga dia menyunggingkan senyum kecil yang terlihat jelas di mata Lee.
"Uncle Zack, ayo kita berangkat. Jangan sampai Aunty Re datang duluan!" seru Gio dengan wajah sumringah.
"Benar, kasihan kan kalau Kakak Cantik harus menunggu," timpal Shasha sambil berlari keluar rumah dengan menggendong tasnya yang berwarna magenta.
"Okey, let's go! Akhir pekan ini kalian harus bersenang-senang," seru Zack sambil meraih tubuh Gio, menggendong bocah tampan itu untuk menyusul Shasha.
Lee tidak bisa menyembunyikan bibirnya yang melengkung dengan sempurna. Karena sejatinya, kebahagiaan orang tua adalah ketika melihat anak-anaknya tertawa. Gio dan Shasha adalah anugerah terindah yang dia punya.
"Aku beruntung memiliki mereka dan aku tidak akan pernah menyesal malam itu terjadi," ucap Lee sebelum akhirnya melangkah.
Tanpa mengulur waktu, mereka langsung pergi ke Bandara. Perjalanan terasa lancar sebab belum banyak kendaraan yang memadati jalan raya.
Hingga tak butuh waktu lama, akhirnya mereka tiba. Lee langsung menghubungi Renata, dan ternyata wanita itu juga sudah ada di area Bandara.
"Ya, Tuan, saya sedang berjalan ke sana," kata Renata dalam sambungan telepon, sambil mencari-cari sosok Lee.
Renata tersenyum kecil ketika Gio dan Shasha melambaikan tangan untuk memberi kode. Akan tetapi saat dia mendekat, dia terperangah ketika dia hanya melihat Lee dan kedua anaknya.
Sementara yang ada dalam bayangannya, mereka pergi berlibur dengan banyak orang, termasuk Sofia.
"Lho, yang lain mana?" tanya Renata dengan tergagap.
"Yang lain siapa? Bukankah kita pergi berlibur hanya berempat?" Gio malah balik bertanya, membuat Renata langsung melebarkan kelopak matanya.
"Hanya? Berempat?" ulang Renata, yang langsung mendapat anggukan dari ketiga orang yang ada di hadapannya.
Glek!