
Renata baru saja pulang setelah bertemu dengan sahabatnya, Melisa. Dia meminta bantuan pada wanita itu untuk mendapatkan pekerjaan. Namun, ketika Renata sampai di apartemen. Dia tidak melihat kehadiran Gio dan Shasha. Bahkan Fenny pun tidak ada.
"Gio, Shasha!" panggil Renata dengan berteriak. Dia melirik ke sana ke mari, tetapi apartemennya benar-benar terasa sangat sepi.
Dia melirik ke arah jam dinding yang terpasang, dan dia sangat yakin bahwa kedua anaknya itu sudah pulang sekolah. Akan tetapi kenapa mereka belum sampai juga.
Tiba-tiba perasaan Renata menjadi tak karuan. Dia segera berlari ke arah kamar, lalu membuka pintu dengan gerakan tergesa, tetapi lagi-lagi kosong. Dia tidak mendapati dua sosok buah hatinya.
"Fen, Fenny!" teriak Renata dengan jantung yang mulai berdebar kencang. Dia berlari ke sana ke mari, tetapi tak membuahkan hasil apapun.
"Gio, Shasha, Fenny!" Suara Renata mulai tak bisa dikontrol.
"Astaga, ini sudah lewat satu jam, tapi kalian belum juga pulang," gumam Renata dengan perasaan kalut. Hingga akhirnya dia membuka ponsel untuk menghubungi pengasuh kedua anaknya.
Namun, ternyata Fenny mengirimi dia pesan. Wanita itu memberi kabar pada Renata, bahwa kini mereka bertiga ada di rumah sakit dekat dengan perusahaan Lee. Tanpa menyebutkan apa tujuan mereka.
Jantung Renata nyaris copot setelah membaca pesan itu. Tanpa berpikir panjang, dia segera meninggalkan apartemen untuk menyusul anak-anaknya.
Sambil menyetir Renata terus berusaha untuk menghubungi Fenny, tetapi tidak ada jawaban. "Argh, kenapa Fenny tidak bisa dihubungi? Semoga kalian baik-baik saja."
Renata menancap gas, supaya dia bisa segera sampai di tempat tujuan. Jarak yang tak begitu jauh, membuat Renata menghabiskan waktu hanya 20 menit saja.
Ketika keluar dari mobil, Renata langsung masuk ke rumah sakit dan berlari ke arah meja administrasi. Namun, ketika dia hendak bertanya, dia melihat Fenny dan Zack sekilas.
Dia menajamkan kembali matanya, dan ternyata benar mereka adalah orang yang dia kenal.
"Fenny!" panggil Renata dengan panik. Membuat si empunya nama langsung menoleh, begitu pun dengan Zack.
"Di mana anak-anakku? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Renata cepat, membuat Fenny jadi gelagapan untuk menjawab.
Namun, tiba-tiba Zack menarik tangan Fenny, lalu berhadapan langsung dengan Renata. Dia melihat dengan jelas, bahwa wanita yang ada di depannya cemas setengah mati.
"Ikutlah dengan kami, kamu akan tahu di mana dan sedang apa mereka," kata Zack, menggantikan Fenny untuk menjawab.
"Buka saja," titah Zack, membuat Renata mengangkat tangannya dengan ragu. Dia meraih gagang pintu, lalu memutarnya hingga benda persegi panjang itu mulai terbuka.
Renata mengangkat pandangannya, hingga dia bisa melihat apa yang ada di dalam sana. Sebuah pemandangan yang membuat hatinya teriris, karena kedua anaknya terus menangis di dalam pelukan Lee yang terkulai lemah di atas brankar.
Sedari tadi tak ada seorang pun yang bisa membujuk dua bocah itu. Bahkan Lee sekalipun, pria itu hanya bisa mengelus-elus punggung kedua anaknya, meyakinkan mereka bahwa dia baik-baik saja.
"Ayolah, Daddy hanya butuh istirahat. Apa kalian tidak dengar apa kata Dokter tadi?" ujar Lee dengan suara yang terdengar lemah dan parau.
Dalam hati Lee sangat senang, karena Gio dan Shasha masih mengkhawatirkannya. Akan tetapi dia tidak akan tega, jika melihat keduanya tampak sedih seperti itu.
"Ini semua karena Daddy bekerja terlalu lama. Apakah Daddy tahu, kami rindu pada Daddy, dan berharap Daddy datang. Shasha ingin pulang ke rumah, Shasha ingin tinggal bersama Daddy lagi," rengek Shasha dengan sesenggukan. Dia memeluk Lee erat dan menelusupkan kepalanya di antara ceruk leher pria itu.
Sementara Gio bersandar di dada. Dia yang notabenenya jarang menangis, kini tak bisa menahan air matanya melihat sang ayah sangat lemah.
"Iya, maaf-maaf," kata Lee.
"Berhenti meminta maaf. Shasha bosan mendengarnya! Ayo pulang, ayo bawa Ibu ke rumah kita," teriak gadis cilik itu, membuat orang-orang yang ada di sekitar mereka menahan tawa.
Akan tetapi tidak dengan Renata. Tubuh wanita itu membeku di ambang pintu, sambil terus memandangi ketiga orang yang ada di hadapannya. Baik Lee dan kedua anaknya, tidak sadar jika dia datang.
Dengan perasaan yang tak karuan, Renata membalik badan. Dia melangkah entah ke mana untuk mengeluarkan air matanya. Di toilet, tangis Renata langsung pecah. Dia memukul dadanya yang terasa sesak, karena merasa sangat egois bagi kedua anaknya.
"Apa? Apa yang sudah aku lakukan? Kenapa aku malah menyiksa mereka?"
Dia menumpahkan semua kesedihannya di sana. Melepaskan beban yang menghimpit. Hingga saat Renata merasa cukup tenang, dia pun keluar dengan langkah gontai.
Akan tetapi tiba-tiba ada yang menepuk bahunya, membuat dia terlonjak kaget.
"Mari bicara!"
***