
Setelah ke rumah sakit, Lee tidak berniat untuk langsung pergi ke perusahaan. Sebab dia ingin menemui ayahnya untuk memberikan penjelasan. Dia sangat yakin bahwa Aneeq pasti sangat penasaran, sehingga meminta dia untuk datang.
"Hati-hati, Lee, salam untuk Daddy-mu," ucap De, yang kala itu mengantar sampai di depan rumah sakit bersama putrinya, Regina.
"Iya, jangan ugal-ugalan. Kalau Kakak sampai kenapa-kenapa, kami juga yang repot," sambar Regina mengajak sang kakak sepupu bercanda.
Lee terkekeh, lalu mengacak rambut Regina hingga berantakan. Sebagai cucu tertua di keluarga Tan, dia menganggap semua sepupunya seperti adik sendiri. "Iya-iya, Cerewet. Jangan suka mengomel, nanti tidak ada pria yang ingin mendekatimu."
Mendengar itu, Regina langsung mendengus kasar dan menatap ke arah ayahnya. "Lihatlah, Daddy, Kak Lee menyumpahiku."
Wanita itu merengek, tetapi yang De lakukan justru merangkul bahu putrinya. "Yang Lee katakan itu benar. Kurang-kurangi sifat galakmu itu, kamu ini sudah berumur, mau sampai kapan kamu menjomblo, hem?"
"Haish!" Regina langsung melepaskan rangkulan De. "Kalian berdua sama saja! Para pria yang tidak mengerti perasaan wanita." Katanya seraya membalikan badan untuk kembali ke ruangannya. Dia melangkah dengan menghentak-hentakan kaki ke lantai, membuat Lee dan De kompak tertawa dan geleng-geleng kepala.
Lee tidak tahu, jika Regina adalah tetangga Renata di apartemen. Dunia ini benar-benar sempit, hingga mau sekeras apapun Renata pergi menjauh dari Lee, selalu ada seseorang yang menghubungkannya dengan pria itu.
"Oh iya, Uncle, terima kasih sudah mau membantuku," ucap Lee, sebelum benar-benar pergi meninggalkan halaman rumah sakit.
"Sama-sama, Lee. Sudah seharusnya Uncle membantumu, kita kan keluarga," balas De sambil menepuk bahu keponakannya.
Lee menganggukkan kepala seraya tersenyum tipis. Lantas setelah itu, Lee kembali mengemudikan mobilnya untuk pergi ke perusahaan sang ayah, yaitu Tan Group, yang merupakan kantor pusat, dan masih dipimpin oleh pria paruh baya itu.
Selama di perjalanan, otak Lee selalu tertuju pada Renata. Dia sangat yakin wanita itu adalah Alicia, tetapi kenapa Alicia sampai merubah wajah dan identitasnya? Apakah ini semua ada sangkut pautnya dengan alasan perginya wanita itu?
"Aku tidak peduli meskipun wajahmu berubah, Alice. Kamu tetaplah kamu, selamanya kamu adalah ibu dari anak-anakku," gumam Lee sambil fokus menyetir. Dia tidak bisa menggunakan kecepatan tinggi, sebab jalanan sudah mulai macet.
Akan tetapi meskipun begitu, akhirnya Lee sampai di gedung Tan Group. Dia segera turun dari mobil dan melangkah masuk. Di sana dia disambut dengan penuh hormat, semua karyawan yang ditemuinya langsung menunduk sopan, karena mereka tahu siapa Lee—putra kedua dari pimpinan perusahaan.
Ketika tiba di ruangan sang ayah, Lee membiasakan diri untuk mengetuk pintu. Takut jika sang ayah memiliki tamu penting.
"Lee, silahkan masuk!" ucap Caka, memberikan akses pada sang keponakan agar masuk ke dalam ruangan Aneeq.
Di dalam sana Aneeq sudah menunggu sambil membereskan beberapa berkas. Sebentar lagi ada peralihan jabatan, dan dia akan memberikannya pada putra sulungnya—Dalziel.
Melihat Lee datang, Aneeq segera menutup berkas yang ada di hadapannya. Kemudian mendekati putranya itu. "Jelaskan sekarang!" Kata Aneeq, seraya mendudukkan tubuhnya di sofa. Karena dia sudah sangat penasaran.
"Aku belum duduk lho, Dad."
"Daddy tidak peduli. Karena kamu hampir saja membuat Daddy jantungan!" cetusnya.
Akhirnya Lee pun duduk di sebelah sang ayah. Sebelum bercerita, dia terlebih dahulu mengulum senyum. Rasa bahagia itu terlihat sekali, memancar dari matanya. "Dia—sekretarisku, Dad."
Mendengar hal itu, Aneeq langsung mendelik. Karena terlalu terkejut. "Hah, bagaimana bisa? Sekretaris yang mana? Yang baru itu? Lho, lho, bukankah waktu itu Mommy pernah bertemu dengannya?"
"Benar, Dad."
"Tapi kenapa bisa dia, Lee?"
"Aku begitu mengenali istriku, karena kita cukup lama tinggal bersama. Suara Renata begitu mirip dengan Alice, dia juga memiliki tahi lalat di tempat yang sama, dan semalam aku tidak sengaja melihat bekas jahitan operasi di perutnya, awalnya aku hanya melihat sedikit, tapi aku yang semakin dibuat penasaran, terus mengoreknya lebih dalam. Dan akhirnya aku menemukan satu bukti lagi, wajah dan identitas mereka mungkin berbeda, tapi anggota tubuh, termasuk tangan Renata memiliki kesamaan dengan Alicia," jelas Lee dengan gamblang, menjelaskan semua kejanggalan-kejanggalan yang dirasakannya.
Namun, Aneeq yang khawatir bahwa semua itu hanyalah halusinasi yang dirasakan oleh putranya. Tak lantas percaya. "Kamu yakin itu semua bukan perasaanmu saja? Daddy takut, karena kamu terus memikirkan Alice, kamu jadi berpikir bahwa sekretarismu itu adalah sosok wanita yang kamu cari."
Lee langsung menggelengkan kepala. Dia yang paling tahu. "Aku yakin dia Alice, Dad. Anak-anak dekat dengannya. Dan aku, aku hanya bisa berhasrat padanya, padahal selama ini aku tidak memiliki minat sedikitpun pada wanita lain, termasuk Sofia! Terlebih aku sudah melakukan tes DNA. Sekarang tinggal menunggu hasilnya." Terang pria itu dengan menggebu.
Membuat Aneeq melihat kesungguhan di mata putranya. Di dalam hati Aneeq ikut merasa bahagia, karena penantian selama 5 tahun, akhirnya akan berakhir. Semoga saja Lee dan kedua cucunya lekas menemukan sebuah kebahagiaan yang sempurna. "Baguslah kalau kamu bertindak cepat. Lalu bagaimana dengan Sofia? Kapan kamu akan mengakhiri semuanya?"
Mendengar itu, Lee langsung mengangkat wajahnya. "Aku akan segera menceraikannya."