Hidden Mommy

Hidden Mommy
Bab 51. Aku Tahu Caranya



Di saat Lee sedang berbicara dengan Aneeq. Gio justru mengajak Shasha untuk pergi mencari Fenny. Dan ternyata sang pengasuh sedang berada di dapur, membantu para asisten rumah tangga membereskan sisa makan malam.


"Nanny!" panggil Gio dengan suara pelan, memberi kode agar wanita itu lekas mendekat. Mendengar namanya dipanggil, Fenny pun menoleh, dan mendapati dua anak asuhnya sedang berdiri sambil melambaikan tangan.


"Ada apa, Tuan Kecil?" tanya Fenny, karena sepertinya bocah tampan itu yang menginginkan sesuatu.


"Bolehkah kami meminjam ponselmu, Nanny? Kami ingin menghubungi Mommy," ujar Gio, mengutarakan maksudnya.


Mendengar itu tentu membuat Fenny mengerutkan dahinya. Untuk apa Gio dan Shasha menghubungi Sofia? Apakah dua bocah itu merindukan ibunya?


"Untuk apa Tuan Kecil menghubungi Mommy? Memangnya sudah izin pada Daddy?" tanya Fenny, karena Lee sudah pernah memberitahu dia, agar tidak terlalu memberikan ruang pada Sofia.


Fenny bukannya ingin menuduh yang tidak-tidak, tapi ia lebih ke waspada, takut terjadi sesuatu pada anak majikannya. Karena sekarang dua bocah itu adalah tanggung jawabnya. Jika ada apa-apa, tentu dia yang akan disalahkan.


"Kami sudah bilang sebelum Daddy pergi dengan Grandpa, kata Daddy boleh, ya 'kan, Dek?" jawab Gio, lalu meminta persetujuan Shasha. Dan gadis kecil itu pun langsung mengangguk, agar rencana sang kakak berhasil.


"Ya, Nanny, lagi pula kita hanya ingin menelponnya," timpal Shasha.


Melihat binar polos di mata Gio dan Shasha akhirnya Fenny pun luluh. Dia mengeluarkan benda pipih dari saku bajunya. Lalu memberikannya pada Gio.


"Kalau sudah cepat kasih Nanny lagi yah," ujar Fenny, padahal perasaannya was-was, tapi membiarkan dua bocah itu terus merengek tentu akan menyisakan tanda tanya bagi semua orang.


"Oke, terima kasih, Nanny," ucap Gio dengan senyum sumringah, lalu dengan segera dia mengajak Shasha untuk mencari tempat persembunyian.


Keduanya masuk ke dalam ruang perpustakaan yang ada di mansion di saat semua orang sedang berkumpul dan bermain bersama.


Gio dan Shasha duduk di lantai dan saling berdekatan.


"Kakak yakin kalau Kakak cantik itu ibu kita?" tanya Shasha, merasa tidak percaya dengan tebakan kakaknya.


"Aku sangat yakin, Dek. Malam itu Aunty Re memanggilmu sayang, dan setelah aku tidur di sofa bersamanya, Daddy datang, Daddy menggendong kami ke tempat tidur, tapi setelah itu tiba-tiba Daddy melihat sesuatu di perut Aunty Re, aku mengintipnya karena aku pura-pura memejamkan mata. Daddy menangis dan berbicara kalau Aunty Re adalah ibu kita, dia juga sempat memanggil nama Alice, bukankah itu mencurigakan?" jelas Gio, sama seperti ayahnya, insting bocah tampan itu pun kuat, sehingga beberapa hari ini dia pun turut memikirkan tentang status Renata.


"Haish, kita harus buktikan dulu. Kalau iya, baru kita menyatukan Daddy dan Aunty Re."


"Bagaimana caranya, Kak?"


Mendengar itu Gio langsung menghela nafas sambil memutar bola matanya. Dia menunjuk kening Shasha. "Inilah gunanya kita meminjam hp Nanny!"


Shasha pun manggut-manggut. "Kalau begitu cepatlah. Aku sudah tidak sabar punya ibu seperti Kakak cantik."


Lantas setelah itu, Gio pun segera mengetikan sesuatu. Mencari tahu bagaimana caranya, agar bisa mencocokkan diri antara ibu dan anak. Otak pria kecil itu memang berbeda dengan anak pada umumnya, sehingga dia sudah pandai menulis dan membaca, apalagi menggunakan internet.


Ada banyak artikel yang muncul, dan hampir semuanya memberi saran untuk melakukan tes DNA.


"Dek, aku tahu caranya," seru Gio yang membuat Shasha langsung bersemangat.


"Apa itu, Kak?"


"Kita harus melakukan test DNA."


"Test DNA itu apa?"


Shasha yang tidak paham, tentu mengerutkan dahinya.


"Kita ambil rambut Aunty Re, lalu berikan pada Aunty Gina," jelas Gio pada sang adik, berhubung keluarga mereka ada yang berprofesi sebagai dokter, sudah tentu Gio akan meminta bantuannya.


"Apakah hanya seperti itu untuk mengetahui Kakak cantik ibu kita atau bukan?"


"Itu yang paling mudah. Kita harus menyusun rencana!" ujar Gio, yakin bahwa dia bisa melakukan misi ini. Apalagi sudah tidak ada Sofia yang senantiasa mengatur gerak-geriknya.


***