Hidden Mommy

Hidden Mommy
Bab 68. Tidak Bisa Tidur



Lee, Renata, Gio dan Shasha langsung masuk ke dalam penginapan ketika gerimis mulai melanda. Padahal malam itu langit cukup cerah, tetapi entah kenapa rintik air itu senang sekali menghujam bumi yang gegap gempita.


"Biar petugas yang bereskan," kata Lee, menjawab kernyitan di dahi Renata. Pria itu seolah tahu apa yang menjadi kekhawatiran wanita yang ada di hadapannya.


Wanita itu pun menganggukkan kepala, lalu mengekor pada Lee yang melangkah ke arah kamar. Dia menggiring kedua anaknya untuk membersihkan diri sebelum beristirahat.


Namun, di ambang pintu mereka terhenti karena Lee berkata. "Besok pagi Daddy akan ajak kalian untuk pergi naik komedi putar, apa kalian setuju?"


Mendengar itu Shasha langsung terlihat kegirangan, berbeda dengan Gio yang memberikan reaksi datar.


"Tentu saja aku sangat setuju. Aku ingin bermain sepuasnya," balas Shasha seraya mengangkat kedua tangan.


"Tuan Kecil, kenapa anda tidak terlihat bersemangat?" tanya Renata, menunjukkan perhatiannya.


"Komedi putar itu terlalu biasa, aku lebih suka yang menantang. Tapi meskipun begitu, aku tetap senang karena adikku juga senang," jawab Gio dengan tersenyum lebar. Membuat dada Renata seketika bergemuruh hebat.


Dia selalu menatap dengan takjub, karena Gio benar-benar sosok kakak yang baik untuk Shasha. Dan dia sangat bersyukur dikaruniai dua anak seperti itu, meskipun keduanya belum tahu bahwa dia adalah ibu mereka.


Renata langsung mengacungkan dua jempol ke arah Gio sebagai pujian. "Tuan Kecil memang hebat."


Sementara Shasha langsung menyerobot untuk memeluk tubuh Gio, bocah cantik itu bergelayut manja. "Benar, Kakakku memang yang terhebat. Aku sangat beruntung memiliki dua pria tampan."


"Haish, jangan berlebihan!" kata Gio sambil melepaskan pelukan Shasha. Pria kecil itu melangkah meninggalkan semua orang, membuat Shasha langsung mencebikkan bibir.


"Baru saja dipuji, dia sudah besar kepala. Cih, dasar kakak menyebalkan!" cibir Shasha karena kesal. Dia seolah ingin menarik kata-katanya yang baru saja terlontar.


"Hei, wanita cantik tidak boleh marah-marah," bujuk Lee sambil mencolek hidung Shasha.


"Tapi Kakak memang menyebalkan!" rengek Shasha, dia menunjuk tubuh Gio yang sudah menghilang karena tertutup dinding.


"Dan kamu—tetap menyayanginya kan?"


Lee mengangkat tubuh Shasha, lalu melirik ke arah Renata yang sedari tadi menyimak obrolan mereka. Lee memberi kode agar Renata segera masuk ke dalam kamar.


"Tentu saja. Walaupun dia seperti itu, aku tetap menyayangi Kak Gio dan tidak mau kalau dia terluka."


"Kalau begitu berhentilah menggerutu, lekas sikat gigi dan cuci kakimu!" titah Lee, dia menurunkan Shasha, agar gadis kecil itu segera masuk ke dalam kamar mandi.


Patuh, Shasha pun mengikuti semua arahan ayahnya. Hingga setelah semuanya beres, keempat orang itu berbaring di kasur masing-masing.


Lee dan Renata berada di ujung di antara Gio dan Shasha. Hingga jarak di antara mereka cukup jauh, namun semua itu tak dapat membuat Lee memperhatikan wanita itu.


Malam kian larut, semua orang sudah memejamkan mata. Namun, entah kenapa Renata tetap tak bisa tidur nyenyak, sama halnya dengan Gio yang sedari tadi bergerak ke sana ke mari.


Karena merasa cemas, akhirnya Renata pun terbangun untuk mengecek keadaan Gio.


"Tuan Kecil, apakah anda baik-baik saja?" bisik Renata sambil mengelus kepala bocah tampan itu. Dan tepat pada saat itu, Gio langsung membuka matanya. Gio mendesaahkan nafas kecil.


"Kenapa? Apakah karena tempatnya tidak nyaman?"


"Bukan, tapi aku kepikiran sesuatu."


Kening Renata langsung melipat.


"Anda kepikiran apa?"


Sebelum menjawab Gio mengajak Renata untuk kembali ke tempat tidurnya. Hingga kini ibu dan anak itu berbaring di kasur yang sama. Entah kapan terakhir Gio bermanja-manja seperti ini dengan Sofia, dia sudah tidak ingat. Yang jelas sekarang, dia ingin Renata kembali dengan ayahnya.


"Aunty pasti penasaran kan kenapa Mommy dan Daddy berpisah?" tanya Gio, yang membuat Renata semakin membulatkan kelopak matanya.


Kenapa dia selalu dibuat terkejut ketika Gio bicara.


"Maksudnya bagaimana?"


"Apakah Aunty Re tahu kalau Mommy bukanlah ibu kami yang sebenarnya?"


Deg!


Waktu seperti berhenti berputar ketika Gio berbicara seperti itu. Jadi, kedua anaknya sudah tahu kalau Sofia bukanlah orang yang melahirkan mereka. Namun, bagaimana bisa itu terjadi?


"Tuan Kecil, tahu dari mana?" tanya Renata, dia berkaca-kaca dan ingin menangis sekarang juga, tetapi sebisa mungkin dia tahan.


"Daddy yang mengatakannya. Daddy bilang Ibu kami belum datang, jadi Mommy Sofia menggantikannya untuk sementara waktu," terang Gio dengan gamblang. Namun, entah kenapa mendengar itu semua batin Renata terasa sangat sakit, hingga tiba-tiba air mata jatuh dari pelupuk matanya.


"Daddy berkata seperti itu? Memangnya Daddy tidak tahu di mana ibu kalian yang sebenarnya?" tanya Renata untuk mengorek informasi.


Gio menggelengkan kepala. "Daddy bilang, Daddy sedang berusaha mencari ibu. Aku dan Shasha hanya disuruh untuk berdoa supaya ibu cepat ketemu. Menurut Aunty, ibu ada di mana?"


Pecah, tangis Renata tak terbendung lagi, dia langsung memeluk tubuh Gio, karena merasa tak sanggup mendengar pertanyaan itu dari mulut putranya.


"Tapi jika ibu tidak ketemu. Lantas apakah aku dan Shasha tidak memiliki ibu lagi?"


Ibu di sini, Nak.


Ingin sekali Renata berkata seperti itu, tetapi rasanya sungguh rumit. Hingga setelah beberapa saat berlalu, Renata melonggarkan pelukannya. Dia menatap Gio dengan uraian air mata. "Untuk sementara waktu, Gio dan Shasha boleh memanggil Aunty dengan sebutan ibu."


"Benarkah?"


Renata langsung menganggukkan kepala.


"Apa itu artinya Aunty ingin menikah dengan Daddy?"


Satu pertanyaan yang akhirnya membuat Renata langsung bungkam.