
Seharian itu mereka benar-benar menghabiskan waktu bersama. Hingga tak terasa sore mulai datang. Karena melihat Renata dan kedua anaknya sudah kelelahan, Lee pun segera meminta mereka untuk kembali ke penginapan.
Patuh, semua orang pun menurut apa kata Lee. Mereka kembali menaiki kendaraan yang ditarik oleh kuda dan melewati pantai. Dan ketika hendak pergi ke kamar, Lee menggendong Shasha yang sudah terlihat letih dan lesu, sementara Renata yang menggendong Gio.
"Masih ingin main ayunan?" tawar Lee, meledek Shasha yang menyandarkan kepalanya di punggung sang ayah.
"No, Dad. Kaki Shasha sudah tidak memiliki tenaga," jawab gadis kecil itu dengan suara lemah. Namun, mendengar jawaban itu, Lee dan Renata justru terkekeh.
"Bukankah Shasha bilang ingin bermain sepuasnya?" ledek Lee. Sementara kakinya terus berjalan. Jangan tanya Gio, sekarang dia lebih suka mengamati interaksi ayah, ibu dan adiknya.
"Aku sudah puas, Dad. Langsung ke kamar saja," jawab Shasha.
Suara kekehan Lee dan Renata terdengar semakin keras. Hingga tak terasa mereka sudah berada di depan penginapan. Mereka masuk sama-sama, lalu beristirahat sejenak di sofa.
Setelah beberapa saat, baru mereka membersihkan tubuh masing-masing. Renata selesai lebih dulu, karena dia ingin segera memasak makanan untuk makan malam. Sekilas mereka terlihat seperti keluarga bahagia bukan? Namun, ternyata di dalamnya masih banyak kesalahpahaman.
**
Selesai makan malam.
Keempat orang itu tidur lebih cepat, karena ingin memulihkan tenaga yang sempat hilang. Bahkan Renata sudah tak memikirkan kehadiran Lee, jadi begitu tubuhnya menyentuh tempat tidur, matanya langsung tertutup rapat.
Namun, ketika malam kian larut. Indera pendengaran Renata kembali berfungsi, dia mendengar suara gumaman yang tak begitu jelas, hingga membuat tidurnya terganggu.
"Ibu ... Ibu kapan pulang? Shasha ingin bertemu dengan Ibu."
Shasha terlihat mengigau, karena mata gadis kecil itu terpejam sementara mulutnya terus bicara ke mana-mana.
"Bu ... apakah Ibu tidak sayang padaku dan Kak Gio? Kenapa Ibu terus bersembunyi dari Daddy?"
Tiba-tiba Shasha menangis, membuat Renata langsung memiringkan kepalanya. Dengan dada yang bergemuruh, wanita itu pun bangkit. Dia ingin mendengar lebih jelas apa yang dikatakan oleh anaknya.
"Bu ... ayo pulang, aku, Kak Gio dan Daddy menunggu Ibu. Hiksss ... aku ingin punya Ibu," rengek gadis kecil itu yang membuat hati Renata terasa sangat sakit.
Tubuh wanita itu bergetar dengan mulut yang membisu. Hingga yang bisa ia lakukan hanyalah menangis. Renata tergugu mendengar gumaman Shasha, dia mengulurkan tangan untuk mengelus kepala gadis kecil itu.
"Maafkan Ibu, Nak," lirih Renata dengan air mata yang menderas, sementara suara gumaman Shasha masih terus terdengar.
"Janji ya, kalau Ibu datang, kita akan bermain bersama?"
Renata langsung tertunduk lemas dengan tangis tertahan. Ini bukan takdir yang dia inginkan, namun meskipun begitu dia harus tetap menghadapinya. Sesakit apapun itu.
"Maafkan Ibu yang tidak bisa menemani kalian. Ibu tidak bermaksud seperti itu," gumam Renata dengan suara sumbang. Dia mengusap air matanya menggunakan punggung tangan, rasanya masih tak sanggup untuk melihat wajah Shasha yang terlihat sangat sedih karena menantikan dirinya.
Renata tak sadar, jika sedari tadi pria yang tidur di samping Shasha pun ikut terbangun. Lee terpaku melihat Renata yang terduduk di lantai dan mengakui bahwa Shasha adalah anaknya.
Dada pria itu terasa sesak, hingga dia pun memutuskan untuk bangkit. Dia mematung tak jauh dari tempat Renata. Dengan perasaannya yang campur aduk Lee berkata.
"Sampai kapan kamu akan menyembunyikan ini semua?"
Deg!
Jantung Renata seperti ingin lepas dari sarangnya mendengar suara itu. Ludahnya tercekat, hingga dia tak bisa mengeluarkan suara sedikitpun.
Namun, meskipun begitu Renata memberanikan diri untuk mengangkat kepala. Hingga netranya bersitatap dengan kedua manik mata milik Lee.
Dalam cahaya temaram itu, Renata bisa melihat jelas tubuh tegap Lee tengah menatap ke arahnya.
"Sampai kapan, Alice?"