
Karena mendapat serangan dadakan, hampir saja Fenny hilang keseimbangan. Secara refleks dia melingkarkan tangan di sepanjang leher Zack, dengan kesadaran yang sudah samar-samar. Ya, dia hampir saja pingsan.
Akan tetapi secepat kilat, akal sehat wanita itu kembali saat Zack melepas ciuumannya. Zack menangkup kedua sisi wajah Fenny sambil tersenyum.
Dia suka sekali ketika wajah Fenny memerah dengan binar mata menggoda. "Maaf membuatmu terkejut lagi, aku sudah tidak tahan." Ujar Zack dengan suara yang mendayu. Sedari tadi dia sudah tidak sabar, ingin secepatnya sampai di apartemen, dan menghabiskan waktu berdua dengan sang pacar.
Belum sempat Fenny menjawab, Zack kembali menyatukan kembali bibiir mereka. Bermain bagai si ahli, padahal dia hanya mengikuti dorongan naluri.
Fenny memejamkan matanya kuat-kuat, sambil merasakan sesuatu yang bergerak-gerak di bibiirnya. Kadang melumaat, menghisaap dan yang lainnya.
Ah, ini terlalu tabu bagi wanita kampung seperti dirinya. Jadi, dia tidak berani untuk membalas. Sementara detak jantungnya masih saja bergemuruh hebat, seolah tak ingin kembali normal.
Apalagi saat ia merasakan kakinya yang melayang, karena Zack sudah mengangkat tubuhnya. Pria itu membawa Fenny untuk duduk di sofa, tetapi tidak benar-benar duduk, karena sekarang wanita itu justru berada di pangkuan Zack.
"Buka matamu," titah Zack dengan suara lembut. Sedari tadi perhatikan Fenny seperti manekin hidup, tak membalas dan hanya bisa pasrah pada apa yang dilakukannya.
Pelan, Fenny membuka matanya yang semula tertutup rapat, hingga dia bisa melihat dengan jelas ketampanan Zack dari jarak yang sangat dekat.
"Kenapa tidak membalas?" tanya Zack yang membuat Fenny sulit untuk meneguk ludah. Wajah wanita itu merah padam, karena benar-benar merasa malu.
Hingga akhirnya Fenny memilih untuk menunduk, tetapi secepat kilat Zack menahan dagu wanita itu. "Balas aku, jangan hanya diam saja. Kamu tahu, aku akan sangat menikmatinya."
"Tapi—" Bibir Fenny bergetar. Sementara Zack diam dan menunggu.
"Aku tidak tahu cara membalasnya," jawab Fenny dengan jujur, membuat pria yang sedang memangkunya terkekeh.
"Kalau begitu kita harus sering-sering belajar. Aku akan menjadi gurumu."
Fenny langsung mendelik. Membuat mata bulatnya terlihat semakin lucu. "Guru apa, Kak? Lagi pula kita ini jarang bertemu."
"Guru yang akan mengajarimu cara membalas ciumaan. Dan karena kita jarang bertemu, setiap ada kesempatan, kita akan langsung praktek!" jelas Zack dengan seringai tipis. Fenny tidak menyangka, jika Zack akan berubah semesyum ini.
Wanita itu mendorong dada Zack, karena merasa dikelabui, tetapi dengan gerakan cepat satu tangan Zack memeluk pinggang Fenny, sementara tangan yang lain menarik tengkuk wanita itu.
Dari tatapannya, Zack merasa menang.
Sementara di rumah sakit.
Keempat orang itu sedang menikmati makan malam. Namun, bukan di cafe atau restoran mewah. Di kamar VVIP yang menyediakan satu meja beserta kursi untuk makan, keluarga kecil itu duduk melingkar.
Lee sudah bisa turun dari brankar karena bantuan Renata, tetapi tetap saja ke mana-mana pria itu harus membawa kantung infus.
"Kata Dokter kamu masih harus makan makanan yang tidak terlalu kasar dan juga sayur-sayuran. Jadi, makan yang ini saja," ucap Renata sambil menyodorkan satu mangkuk bubur dan sayur sop yang dicampur daging ayam.
"Iya tidak apa-apa, yang penting kalian makan yang banyak," jawab Lee sambil tersenyum, dengan begini saja, rasanya dia sudah sangat bersyukur. Karena sedikit demi sedikit, Renata mau membuang waktu bersama dengannya.
"Tapi, Bu, sepertinya Daddy masih kesulitan untuk makan," ujar Gio, agar Renata semakin mencurahkan perhatian pada ayahnya.
"Bukankah tangan kanannya tidak apa-apa? Kan jarum infusnya ada di tangan kiri?" balas Renata, menolak secara halus. Namun, putri kecilnya malah berinisiatif untuk mengambil sendok.
"Kalau begitu biar Shasha saja yang menyuapi Daddy. Jadi, Daddy bisa makan tanpa mengeluh sakit," ujar Shasha yang membuat Renata mengerutkan keningnya.
"Sudahlah, Sayang. Daddy tidak apa-apa, lebih baik kamu makan makananmu saja, kita makan sama-sama, okey?" timpal Lee, tetapi Shasha justru menggelengkan kepala.
"Tidak mau, saat aku dan Kak Gio sakit, Daddy selalu merawat kami. Jadi, ini saatnya aku melakukan hal yang sama. Daddy hanya perlu mengunyah," jelas gadis kecil itu, membuat hati siapa saja terenyuh mendengarnya.
Shasha mulai menyendokkan makanan, sementara Renata bergeming, tiba-tiba dia teringat ketika Lee menyuapinya. Saat dia hamil, pria itu selalu memanjakannya, hingga dia merasa seperti istri sungguhan.
Lee tak pernah mengeluh, meskipun dia kerap merasakan mood yang berubah-ubah. Atau bahkan menginginkan sesuatu yang sulit didapatkan. Namun, lagi-lagi Lee selalu mengusahakan apapun untuknya. Sebuah kenangan manis, yang membuat bibir Renata tiba-tiba melengkung tipis.
Renata mengangkat wajahnya, lalu tiba-tiba berkata. "Sini biar Ibu yang suapi Daddy. Shasha makan saja."
Lee langsung tertegun, dia melirik ke arah Renata yang mulai mengambil alih sendok dari tangan putri kecil mereka.
Detik selanjutnya mereka saling tatap, lalu Renata memutusnya lebih dulu, dia menyendokkan makanan, kemudian mengulurkannya ke depan mulut Lee.
Entah apa yang dipikirkan Renata sebelumnya, namun Lee merasa bahwa kehadiran Gio dan Shasha menjadi pengaruh besar bagi hubungan mereka berdua.
"Cepatlah sehat, jangan buat anak-anak terus mengkhawatirkanmu," ucap Renata, dan Lee bisa melihat sunggingan senyum tipis muncul di sudut bibir wanita itu.