Hidden Mommy

Hidden Mommy
Bab 48. Mengingatkan Pada Seseorang



Lee sama sekali tidak memiliki rencana untuk tidur. Namun, sentuhan tangan Renata membuatnya merasa sangat nyaman, hingga perlahan-lahan dia menutup mata dan terlelap di bahu wanita itu.


Hal tersebut tentu membuat Renata mulai merasa pegal dan berat sebelah. Dia menoleh ke arah Lee untuk memeriksa keadaan pria itu, dan ternyata terdengar suara nafas halus keluar dari hidung Lee, menandakan bahwa pria itu sedang tertidur.


Bahkan tanpa sadar tangan Lee bergerak untuk memeluk pinggang Renata, membuat wanita itu langsung melebarkan kelopak matanya.


"Asisten Zack, berapa lama lagi kita sampai? Dan bagaimana cara membangunkan Tuan Lee? Aku tidak nyaman sekali seperti ini," ujar Renata dengan wajah memelas, memohon bantuan pada Zack yang sedari tadi fokus menyetir.


"Sebentar lagi, Nona. Jangan khawatir, nanti biar saya yang bangunkan Tuan Lee," balas Zack, meskipun dia tahu ini cukup membuat dia merasa sesak. Namun, dia tidak ingin menghancurkan usaha Lee untuk mendekati Renata.


Dia harus membantu bos sekaligus kakak sepupunya itu, untuk mendapatkan kembali istrinya yang telah lama menghilang.


"Maksud anda, dia akan terus seperti ini? Asisten Zack, jangan gila! Bisa-bisa saya dituduh yang tidak-tidak oleh Nyonya Sofia!" Ketus Renata, karena dia tidak tahu kalau sebenarnya Lee sudah bercerai dengan wanita itu.


"Akhir-akhir ini Tuan Lee kurang istirahat, Nona. Saya takut kalau belum waktunya membangunkan dia, nanti yang ada moodnya jadi berantakan, dan semua itu berimbas pada pekerjaannya. Anda tidak mau lembur 'kan? Bukankah anda harus kuliah malam ini?"


Hah, benar juga apa yang dikatakan Zack. Akan tetapi apa benar sikap Lee seperti ini pada setiap sekretarisnya? Cih, menjijikkan sekali kalau benar.


"Tapi apa dia sering seperti ini?"


"Tidak, karena sebelumnya sekertaris Tuan seorang pria," balas Zack bohong, karena tidak mau Renata mengecap jelek kakak sepupunya.


"Jadi, selama ini kalian tidak berinteraksi dengan wanita?"


"Kurang lebih seperti itu. Tuan hanya berinteraksi dengan orang penting, dan orang-orang yang benar-benar ingin dia ajak bicara."


Mendengar itu, Renata manggut-manggut sementara dia merasakan Lee menggeliat dan semakin mengusak di antara ceruk lehernya. Hingga helaan nafas pria itu membuat dia merinding.


"Tapi, apa Nyonya Sofia tidak marah?" tanya Renata, semakin dia mendapat jawaban, dia malah semakin ingin mengulik kehidupan Lee saat tidak ada dirinya.


Zack ragu untuk menjawab, hingga akhirnya dia memilih untuk mengalihkan perhatian dengan mengerem secara mendadak ketika ada polisi tidur, berakhir dengan Lee yang hampir terhuyung ke depan, jika saja Renata tidak menahannya.


"Tuan!" teriak Renata secara reflek sambil memegang tubuh Lee. Hingga membuat pria itu langsung tersadar seketika. Dia mengangkat kepala, dan pandangannya jatuh pada kedua bola mata milik Renata.


Deg!


Ada dua jantung yang langsung berdebar seirama. Mereka saling tatap dalam diam, tak peduli sekitar. Seolah tengah menyelami hati masing-masing, namun Renata segera sadar, alasannya kembali bukanlah untuk Lee, tapi kedua anak-anaknya.


"Anda tidak apa-apa, Tuan?" tanya Renata seraya melepaskan tangannya dari tubuh Lee.


Namun, bukannya menjawab Lee justru melayangkan tatapan tajam pada Zack. "Keahlian mengemudimu sangat buruk, Zack! Apa kamu ingin membunuh kita semua?"


"Maaf, Tuan. Saya kurang fokus tadi karena melihat polisi tidur secara tiba-tiba."


"Banyak alasan! Besok belajarlah kembali, jangan sampai kamu mencelakai orang lain, apalagi dirimu sendiri!" gerutu Lee, karena jujur saja dia sangat terkejut, sekaligus kesal. Sedang enak-enaknya tidur malah diganggu seperti itu.


"Asisten Zack memang tidak sengaja, Tuan," timpal Renata, tidak ingin Lee memarahi sang asisten.


"Ini bukan soal sengaja atau tidak, tapi dengan begitu, dia bisa membahayakan orang lain yang sudah berhati-hati dalam berkendara. Maka dari itu, jangan sekali-kali mengebut atau melamun ketika membawa mobil, itu berlaku juga untuk kamu," jelas Lee, karena sekarang dia sudah memberikan mobil pada Renata, dia tidak mau kalau sampai wanita itu lalai dalam berkendara.


Di sana mereka langsung disambut dengan ramah. Dan tentunya suasananya sangat ramai, karena banyak sekali karyawan perusahaan yang sedang menikmati makan siang.


Namun, karena sudah memesan meja, mereka langsung diarahkan oleh satu pelayan ke ruangan VVIP.


"Tuan, kalian makan duluan saja. Aku harus mengangkat telepon," kata Zack, membuat Renata mengerutkan keningnya dalam. Kenapa dia malah ditinggal bersama Lee.


"Hem," balas Lee singkat, sementara Renata sudah ketar-ketir dengan perasaannya sendiri. Dia tidak bisa menebak bagaimana suasana antara mereka berdua ketika tidak ada Zack, pasti sangat canggung.


Kini dua sejoli itu duduk dan saling berhadapan. Seperti tengah menikmati makan siang berdua, karena Zack sengaja menyingkir dan memesan meja yang berbeda.


Suasana asing dan tak nyaman mulai melanda saat mereka mulai makan. Renata sedari tadi menggoyangkan kakinya, menunggu Zack yang nyatanya tidak datang juga.


"Eum, Asisten Zack ke mana ya, Tuan, kenapa dia tidak kembali?" tanya Renata dengan tergagap. Membuat Lee berhenti mengunyah, ada rasa cemburu yang mulai berkobar kala Renata selalu mengingat pria lain, padahal ada dirinya.


"Aku tidak tahu."


"Apa perlu saya mencarinya?"


"Dari pada kamu mencarinya, lebih baik kamu berhenti bicara, dan segera makan. Zack itu bukan Gio!" tegas Lee, agar Renata berhenti membicarakan orang lain.


Mendengar itu bibir Renata langsung mengerucut. Lalu dia pun mencoba untuk melanjutkan makan siangnya yang terasa hambar. Sementara Lee hanya bisa menghembuskan nafas sambil melirik ke arah Renata.


Dia mencoba berpikir, agar makan siang ini tidak terlalu canggung.


"Kamu mau strawberry?" tanya pria itu tiba-tiba. Karena dia ingat betul, saat Renata hamil si kembar, wanita itu kerap memintanya untuk membawakan buah berwarna merah itu.


"Ya, Tuan. Anda menawari saya strawberry?"


"Hem."


Tanpa diduga Renata langsung mengangguk antusias. Dia sangat menyukai strawberry. "Saya mau."


Dan Lee bisa melihat binar mata itu, persis sekali dengan milik Shasha ketika meminta sesuatu padanya. Akhirnya Lee memanggil pelayan dan meminta dua kotak strawberry sekaligus.


"Kamu menyukai strawberry?" tanya Lee, membuat mood Renata sedikit lebih baik.


"Iya, Tuan, saya sangat menyukainya. Bahkan makanan apapun, saya suka yang rasa strawberry."


"Hem, kamu mengingatkanku pada seseorang," kata Lee, yang membuat sendok di tangan Renata langsung terlepas begitu saja. Entah reaksi apa yang sedang dia berikan, hingga begitu terkejut saat Lee mengatakan itu.


"Si—siapa?"


"Shasha," balas Lee sambil mengulum senyum.


***


eak eak, sajennya sajennya 😜