Hidden Mommy

Hidden Mommy
Bab 92. Berharap Tetap Tinggal



Matahari mulai terbenam, menandakan bahwa malam sebentar lagi akan datang. Dan Renata masih berada di rumah sakit, sebab kedua anaknya tak mau diajak pulang barang sebentar.


"Biar saya saja yang pulang, Nyonya. Nanti saya akan kembali dengan membawa pakaian kalian," kata Fenny memberi tawaran. Karena dia juga masih ada di sana.


Renata tampak berpikir, mungkin memang sebaiknya seperti itu. Sebab dia tidak akan mungkin tega meninggalkan ketiganya, Gio dan Shasha masih terlalu kecil untuk menjaga ayah mereka.


"Kamu bisa bawa mobil?" tanya Renata, dan Fenny langsung menggelengkan kepala. Karena dia memang belum bisa mengemudikan kendaraan roda empat itu.


"Jangankan bawa mobil, memegang setirnya saja saya belum pernah, Nyonya," jawab Fenny dengan jujur. Di kampungnya masih jarang yang menggunakan kendaraan itu, dan hanya orang-orang kaya saja yang memilikinya.


Renata tersenyum tipis, merasa lucu dengan jawaban Fenny. "Baiklah, kalau begitu kamu naik taksi saja. Biar aku yang bayar ongkosnya."


"Tidak perlu!" sela Lee, memotong pembicaraan mereka berdua, hingga Renata dan Fenny sama-sama menoleh ke arahnya. "Zack akan datang, biar dia saja yang menemani Fenny."


Kening Renata berkerut, bukannya mengiyakan ucapan Lee, dia malah mengusulkan ide lain. "Kalau begitu biar aku saja yang pulang. Zack yang di sini. Nanti aku akan datang lagi bersama Fenny."


Lee langsung tergagap, niat hati ingin berduaan dengan Renata, wanita itu malah ingin menghindarinya. Begitu pun juga dengan Fenny, dia sudah sempat merasa senang, karena akan diantarkan oleh sang pacar, tetapi mendengar ucapan Renata, senyum di bibir wanita itu langsung menghilang.


Renata hendak meraih tas miliknya yang tergeletak di sofa. Namun, tiba-tiba Shasha memeluk kakinya, karena gadis kecil itu sudah diberi kode oleh sang ayah.


"Ibu di sini saja, temani kami yah. Biar Nanny pergi dengan Uncle Zack," ucap gadis kecil itu dengan tatapan memohon. Membuat Renata merasa serba salah.


"Iya, Bu. Lagi pula Uncle Zack kan sudah lelah bekerja di perusahaan. Biarkan dia istirahat dulu," timpal Gio. Dua anak ini benar-benar mampu memojokkan Renata, hingga membuat wanita itu tak berkutik.


"Gio, Shasha, mungkin ada sesuatu yang ingin Ibu ambil di apartemen, jadi biarkan Ibu pulang dulu," ucap Lee, berpura-pura membujuk kedua anaknya. Padahal dalam hati dia terus berharap, bahwa Renata akan tetap tinggal.


Shasha menengadah, menatap wajah sang ibu. "Memang iya, Bu?"


Renata kembali kebingungan. Dia melirik ke arah Lee yang tiba-tiba menundukkan kepala, seolah pasrah dengan keputusannya. "Eum, tidak kok. Ibu akan temani kalian."


Mendengar jawaban itu, diam-diam Lee menarik sudut bibirnya. Sementara Gio dan Shasha langsung terlihat kegirangan.


"Kalau begitu, ayo temani kita mandi!" seru Gio, bocah tampan itu berlari ke arah kamar mandi. Sementara Zack baru saja tiba. Dia membuka pintu, dan terlihat kebingungan ketika menatap semua orang.


"Kak?" panggilnya.


"Baiklah, ayo!" ajak Zack sambil mengulurkan tangannya ke arah Fenny. Membuat Renata bertanya-tanya, ada hubungan apa di antara mereka berdua.


Sementara Lee sudah tahu, kalau sang adik sepupu mengencani pengasuh kedua anaknya.


"Ibu, ayo temani kita!" ujar Shasha, menyadarkan lamunan Renata. Lalu menarik tangan wanita itu untuk menyusul sang kakak.


***


Sepanjang perjalanan Zack dan Fenny, pria itu terus menggenggam tangan wanitanya. Membuat jantung Fenny terasa tidak karuan.


"Kak, menyetirlah dengan benar," ucap Fenny, memberanikan diri untuk mengajak sang pacar bicara. Kini panggilan mereka pun sudah berubah.


"Tidak mau. Aku akan terus seperti ini sampai kita tiba di apartemen. Waktuku denganmu tidak banyak, jadi aku tidak ingin terbuang sia-sia," jawab Zack sambil melirik Fenny sekilas.


"Tapi—"


"Tapi apa? Jantungmu terus berdebar? Itu tandanya kamu benar-benar mencintaiku," sela Zack, yang membuat wajah Fenny berubah memerah.


"Kamu sedang menggombal atau bagaimana?"


"Aku bicara apa adanya. Dan kalau boleh aku jujur, kamu semakin cantik ketika sedang tersipu seperti itu."


Ya Tuhan ... sekarang Fenny tidak tahu lagi harus mengungkapkannya bagaimana. Karena Zack benar-benar berbeda dari sebelumnya. Pria datar yang nyaris tak pernah bicara, kini tengah menggodanya.


"Kalau kamu terus memasang wajah seperti itu, jangan salahkan aku, kalau nanti aku bertindak lebih," sambung Zack sambil senyum-senyum tidak jelas.


"Apa maksudmu?" tanya Fenny dengan tatapan menyelidik, tetapi Zack tidak menjawab. Dia terus tersenyum misterius, hingga mereka tiba di apartemen milik Renata.


Kini mereka sudah ada di depan pintu, Fenny memencet password, hingga benda persegi panjang itu terbuka. Namun, ketika dia hendak pamit, Zack langsung mendorong wanita itu dengan ciuumannya.


Dan Fenny hanya bisa terbelalak lebar. Tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.