
Lee terus menjelaskan pada Renata bagaimana semua itu bisa terjadi, tak ada yang ditutup-tutupi karena dia ingin semuanya jelas.
Pria itu berharap, Renata bisa memakluminya dan memaafkan segala kesalahan yang telah lalu. Meksipun dia tahu semua itu tidak akan mudah.
Sementara di tempatnya, Renata terus terdiam dan mendengarkan. Dia sama sekali tak bicara, sebab yang keluar dari mulutnya hanyalah isak tangis kecil.
"Aku benar-benar kehilanganmu, Alice. Aku baru merasa menyesal saat kamu tiba-tiba pergi. Hidupku seperti tak tentu arah, karena di mana-mana aku hanya bisa melihat bayanganmu. Aku bicara seperti ini bukan karena ingin menyalahkan tindakanmu. Tapi ... aku mengakui kebodohanku. Ya, aku bodoh. Tanpa melihat dari sudut pandangmu, aku bertindak semauku. Bahkan tanpa sadar aku telah menancapkan duri paling tajam. Aku minta maaf ...."
Lee masih bersimpuh di hadapan Renata. Sedari tadi dia bicara sambil menahan sesak di dadanya. Dia tidak tahu, sudah sebesar apa luka yang dia buat di hati Renata. Yang jelas, ia yakin wanita itu sangat membencinya.
Lee menarik nafas dalam, dia merasakan tenggorokan yang tercekat, karena menelan ludah pun rasanya sangat sulit.
"Dulu, aku memiliki prinsip, bahwa apa yang sudah rusak, tidak akan mungkin bisa diperbaiki lagi. Tapi denganmu ... prinsipku berubah, Alice. Aku ingin memperbaiki semuanya. Aku tidak tahu apakah aku masih pantas bicara seperti ini, tapi aku benar-benar menginginkanmu. Aku ingin kamu kembali ke sisiku, Alice ...."
Pria tampan itu meratap. Dia mencabut semua kata-katanya yang pernah terlontar, bahwa dia tidak membutuhkan seorang wanita. Di hadapan Renata, dia kembali menurunkan harga dirinya.
Sunyi. Sebab kedua orang itu sama-sama bungkam. Hanya ada suara nafas dan juga detik jam yang berdentum. Hingga akhirnya, Renata memutuskan buka suara.
"Kamu tahu seberapa bencinya aku terhadapmu?"
Lee tertegun mendengar pertanyaan itu, dia melirik ke sana ke mari, dan dia tidak bisa menjawabnya.
"Aku sampai merelakan wajahku, wajah lugu yang selalu aku tampakkan di hadapanmu. Aku merubah semuanya, karena aku benci, aku benci menjadi seorang Alicia yang tidak bisa melawan pria jahat seperti kamu!" cetus Renata dengan dada yang bergemuruh.
Jantung Lee seperti ditikam saat mendengar kemarahan Renata. Dan dia sadar betapa jahatnya dia saat itu. Ya, meskipun dia juga tersiksa saat Alicia menghilang. Namun, yang jauh lebih terluka adalah wanita yang ada di hadapannya.
Renata menangis tersedu-sedu sambil memeluk tubuhnya sendiri, mengingat bagaimana perjuangannya pergi dari ibu kota dengan membawa dendam di hatinya.
"Selama lima tahun, aku menahan kerinduan terhadap kedua anakku. Dan selama itu aku menyimpan rasa benci terhadapmu ... sekarang, kamu berkata ingin aku kembali? Tidak, Tuan Lee. Aku akan membawa anak-anakku pergi dari sisimu, agar kamu tahu bagaimana perasaanku dulu. Sanggupkah kamu menghadapinya? Aku berharap kamu merasakan dua kali lipat dari itu!"
Renata masih merasa marah, hingga dia kukuh untuk merealisasikan dendamnya. Sementara Lee hanya bisa membeku, sebab dia tidak bisa menolak ataupun menahan keinginan wanita itu.
"Ya, kamu boleh menghukumku menggunakan itu. Aku akan menerimanya, puaskan dirimu, Alice," balas Lee sambil mengangkat wajahnya, hingga kini mereka saling tatap.
Renata terdiam sesaat, lalu tanpa bicara dia kembali ke kamar. Namun, dia dibuat terkejut ketika melihat kedua anaknya sedang berdiri dan menatapnya.
Bibir Renata kembali bergetar dengan bola mata yang berkaca-kaca. Begitu pun dengan Gio dan Shasha.
"Ibu!" panggil mereka kompak.
Tanpa ba bi bu Renata langsung menghambur memeluk kedua anaknya. Malaikat kecil yang selama ini dia rindukan, dan dia harapkan kehadirannya.
"Iya, Sayang. Ini ibu, ini ibu, Nak," jawab Renata dengan tangis yang kembali pecah.