Hidden Mommy

Hidden Mommy
Bab 37. Melakukan Tes DNA



Lee tak menghabiskan sarapannya, sebab dia sudah merasa tak sabar untuk melakukan tes DNA antara Renata dan kedua anaknya. Dia tidak ingin menunda lagi, karena dia sangat-sangat yakin bahwa wanita yang duduk bersama Gio dan Shasha adalah ibu mereka yang sebenarnya.


"Sayang, Daddy pergi dulu yah, Daddy ada urusan penting," kata Lee sambil mengelap pinggiran bibirnya menggunakan tisu. Lalu pandangannya beralih pada Renata. "Re, mungkin sebentar lagi Zack sampai. Kalau ada apa-apa hubungi aku yah."


"Baik, Tuan," balas Renata, sementara Gio dan Shasha masih mengunyah.


Lee bangkit dari kursi lalu mengecup pipi kedua anaknya secara bergantian. Namun, lagi-lagi Lee mencuri pandang ke arah Renata, sebisa mungkin dia menahan diri untuk tidak gegabah. Padahal dia ingin sekali memeluk tubuh itu. Karena dia benar-benar rindu.


"Daddy hati-hati yah, semoga urusan Daddy cepat selesai. Karena Shasha mau liburan," ucap Shasha sebelum sang ayah pergi.


"Iya, Sayang. Daddy usahakan minggu ini kita pergi sama-sama," balas Lee seraya mengusap rambut panjang putrinya. Tak peduli pada tatapan Sofia yang senantiasa menajam.


Sebab Lee tidak berpamitan padanya. Padahal di sana ada Renata, setidaknya Lee menjaga nama baik keluarga, sehingga semua orang berpikir bahwa hubungan di antara mereka baik-baik saja.


Dia benar-benar membuatku muak! Batin Sofia, semakin ingin menyingkirkan Renata dari kehidupan Lee dan juga kedua anaknya.


Lantas setelah itu, Lee benar-benar pergi meninggalkan rumah. Dan hal tersebut tentu membuat Sofia merasa bebas untuk melakukan apapun, setelah sarapan selesai dia meminta Fenny untuk membawa kedua anaknya masuk ke dalam kamar.


Sementara dia mengikuti Renata yang masuk ke dalam dapur.


"Dasar tidak tahu malu! Kamu sengaja tidak mau pulang karena ingin menumpang hidup di sini yah?" ketus Sofia tiba-tiba, membuat Renata yang kala itu sedang mencuci piring, jadi menghentikan gerakan tangannya.


"Saya masih sanggup untuk membayar satu sandwich dan satu gelas susu itu, Nyonya. Kalau anda tidak terima, nanti saya bayar!" balas Renata, tak ingin menimpali ucapan Sofia terlalu serius.


Namun, hal tersebut justru membuat Sofia bertambah semakin geram. Dia mengepalkan tangan. "Aku tidak butuh uangmu. Tapi aku ingin kamu tahu diri. Kamu ini hanya seorang sekretaris, harusnya pekerjaanmu hanya di kantor, bukan di sini!"


Renata menghela nafas panjang, harus bagaimana dia membuat Sofia sadar, bahwa yang menginginkan dia berada di sini adalah kedua anaknya.


Renata membalik badan, hingga dia berhadapan langsung dengan Sofia.


"Semalam saya sudah mau pergi, Nyonya. Tapi Tuan Kecil dan Tuan Lee menahan saya di sini. Bahkan mereka tidak mendengarkan perkataan anda. Lalu apakah saya bisa disebut tidak tahu diri?"


Sofia sudah merasa tak tahan mendengar ucapan Renata yang selalu melawannya. Sehingga dia melayangkan tangan ke udara, ingin menampar wanita itu. "Dasar wanita rendahan!"


Hap!


Sebelum tangan Sofia melandas di pipi Renata. Zack lebih dulu mencekal, dia begitu terkejut karena melihat tindakan Sofia yang begitu bar-bar.


Tak berbeda jauh dengan Sofia, dia terperangah saat melihat Zack yang tiba-tiba berada di belakang tubuhnya.


"Ada apa denganmu, Kak? Apa kamu memiliki masalah dengan Renata?" tanya Zack dengan kening yang mengeryit. Membuat Sofia mendesaahkan nafas, dia segera menarik tangannya tak berniat untuk menjawab.


"Bawa saja wanita ini pergi!" ketus Sofia, lalu tanpa menunggu tanggapan Zack, dia segera pergi meninggalkan kedua orang itu. Dari pada harus ditanya yang tidak-tidak.


Setelah kepergian Sofia, Zack langsung mendekati Renata. Memeriksa keadaan wanita itu. "Kamu tidak apa-apa?"


"Saya tidak apa-apa, Asisten Zack. Sepertinya emosi Nyonya sedang tidak stabil," balas Renata.


"Sepertinya begitu, kalau dia bicara yang tidak-tidak, jangan dibawa serius yah. Dia sedang banyak pikiran akhir-akhir ini," ujar Zack, walau bagaimanapun Sofia masih menjadi bagian dari keluarganya. Dia tidak mau Renata berpikir jelek tentang kakak iparnya.


Melihat Renata yang tertawa, Zack pun ikut mengulum senyum tipis.


"Kalau begitu kita pergi sekarang saja," ajak Zack dan Renata pun mengangguk setuju.


Mereka keluar dari dapur, dan sebelum pergi Renata menyambangi kamar kedua anaknya untuk pamit terlebih dahulu.


***


Di sisi lain. Lee baru saja sampai di rumah sakit keluarganya. Secara tidak sengaja, Regina melihat Lee yang baru saja masuk ke pintu utama.


"Kak Lee," panggil Regina pada sang kakak sepupu. Membuat Lee terpaksa menghentikan langkahnya.


"Gi?"


"Kakak, sedang apa di sini? Siapa yang sakit?" tanya Regina dengan cemas.


"Tidak, Gi. Aku ingin bertemu dengan Uncle De, aku sudah janjian dengannya," ujar Lee apa adanya. Sebab setelah menghubungi Aneeq, dia langsung menghubungi pamannya, yaitu ayah Regina sendiri.


Mendengar itu, Regina langsung manggut-manggut. "Daddy biasanya sudah ada di ruangannya. Mau aku antar?"


"Tidak perlu, aku ke sana sendiri saja. Selamat bekerja yah." Lee mengusak puncak kepala Regina sekilas, lalu segera melanjutkan langkah untuk sampai di ruangan Dokter De.


Tak butuh waktu lama, Lee sudah tiba di ruangan yang dia tuju, begitu mengetuk pintu, dirinya langsung disambut kata. "Masuk!"


Tanpa ba bi bu, Lee langsung membuka benda persegi panjang itu, hingga dia bisa melihat sang paman yang sedang duduk di kursi kebesarannya.


"Ada apa, Lee? Sepertinya ada sesuatu yang serius," tanya De setelah Lee duduk di depannya.


"Aku ingin melakukan tes DNA, Uncle."


Kening De mengeryit, untuk apa Lee melakukan itu?


"Tes DNA? Untuk siapa?"


"Seseorang. Aku butuh bantuan Uncle, secepatnya aku harus tahu hasilnya. Karena ini semua menyangkut masa depanku," jawab Lee dengan sorot mata yang terlihat sungguh-sungguh.


"Baiklah. Kalau begitu mana DNA yang harus aku periksa?"


Lee langsung mengeluarkan rambut yang sudah dia pisahkan di masing-masing plastik klip. Lalu menyerahkannya pada De. "Butuh berapa lama aku menunggu?"


"1-2 hari. Nanti kalau sudah keluar hasilnya, Uncle pasti menghubungi kamu."


Mendengar itu, Lee pun menganggukkan kepala. Semoga saja tebakannya benar. Renata adalah Alicia. Wanita yang selama ini ia cari, dan tak kunjung ia temui.


***