
Ada yang pupus sebelum berkembang. Ada yang patah, tapi bukan ranting. Itulah yang dirasakan Zack sekarang, dia sangat terkejut dengan kabar yang baru saja didengarnya, tentang identitas Renata yang sebenarnya.
Dia merasa tak percaya, kenapa bisa sosok yang sempat dia kagumi justru milik sepupunya sendiri.
Ternyata Lee menyelidiki sesuatu di belakangnya. Hingga berakhir dia yang tidak tahu apa-apa.
"Jadi, dia Alicia? Tapi kenapa dia merubah wajah dan identitasnya?" tanya Zack, setelah mereka sama-sama bungkam dalam waktu yang cukup lama.
Lee mengangguk kecil. "Aku belum tahu apa yang membuat dia seperti itu. Tapi aku yakin, dia merencanakan sesuatu. Dia tidak semata-mata ingin menjadi sekretarisku, ada tujuan yang ingin dia capai. Dan tujuan itu adalah Gio dan Shasha." Jelas pria itu, dia tahu karena dari gerak-gerik Renata menunjukkan bahwa dia selalu ingin dekat dengan kedua anaknya.
Mendengar itu, Zack menghela nafas panjang. Dia menunduk dalam, karena apa yang terjadi tentu ada campur tangannya.
"Maafkan aku, Kak. Bahkan aku tidak berguna sama sekali," ujar Zack, yang membuat Lee menoleh ke arahnya. Pria itu menepuk bahu adik sepupunya, tak ingin Zack ikut merasa bersalah.
"Lupakan, karena akar masalahnya ada pada diriku. Aku minta padamu, sembunyikan rahasia ini. Aku ingin semua terlihat natural, aku akan mencoba mendekati Renata, dan mengorek apa yang sebenarnya dia inginkan dariku, dengan merubah wajah dan identitasnya," jawab Lee, karena mau menyesal seperti apapun, sudah tidak ada guna.
Yang harus dia lakukan sekarang, hadapi Renata, dan meyakinkan wanita itu, bahwa dia telah berubah. Dia bukan Lee yang dulu, yang bisa memperbudak para wanita, hanya dengan membelinya.
"Aku akan lakukan," timpal Zack, meski dalam hatinya sedikit merasa nyeri. Karena dia sempat berpikir, bahwa dia dan Renata bisa bersama. Akan tetapi ternyata takdir berkata lain, Renata bukan ditakdirkan untuknya.
Lantas setelah itu, Lee pun keluar dari dalam mobil. Dia hendak kembali ke ruangannya. Sementara Zack justru menghubungi seseorang.
"Hentikan pencarian itu, orangnya sudah ketemu!" kata Zack di dalam sambungan telepon. Dan hanya ada kalimat itu, karena setelahnya dia langsung memutus panggilan tersebut.
***
Baru saja Lee membuka pintu ruangannya, dia langsung beradu pandang dengan Renata yang kala itu menoleh ke arahnya. Ada sesuatu yang berdesir, dua kali lebih hebat dari sebelumnya.
Namun, Lee berusaha untuk mengendalikan perasaannya, dia tidak merubah mimik wajahnya sedikitpun, sampai Renata menegurnya.
"Tuan, ada berkas dari Tuan Erland yang harus anda tanda tangani," kata wanita itu.
"Bawakan ke mari berkasnya," jawab Lee yang baru saja duduk di kursi kebesarannya. Dia menggaruk pelipis, ketika Renata mulai melangkah dan berdiri di sisinya.
"Oh iya, aku ingin makan siang di luar, tolong reservasi meja untukku di restoran yang biasa aku makan," ujar Lee.
"Di mana itu, Tuan?"
"Di Casa Fontana."
"Baik, nanti saya akan reservasikan untuk anda. Kira-kira berapa orang, Tuan? Apakah di sana anda akan bertemu klien?"
"Hanya denganmu dan Zack."
Renata langsung melongo. "Maksudnya, hanya kita bertiga?" Tanyanya memastikan, bahkan dia sempat melirik ke arah Zack yang hanya bergeming di tempatnya.
"Iya, ada apa denganmu? Hanya makan siang kenapa terkejut sekali?"
"Kalau begitu kembalilah ke mejamu. Dan pelajari dengan benar jadwalku untuk minggu ini. Aku tidak mau ada kekacauan sebelum pergi dengan anak-anak," ujar Lee memberi titah, yang sebenarnya dia hanya ingin melihat Renata sibuk bekerja. Dan dia bisa melihatnya lebih lama.
"Baik, Tuan."
Renata memberi anggukan kepala sekilas, lalu benar-benar kembali ke mejanya. Hingga tak terasa waktu bergulir dengan cepat, dan waktu makan siang telah tiba.
Ketiga orang itu keluar dari ruangan dan turun ke bawah. Ketika hendak masuk ke dalam mobil, Lee langsung mencegah Renata, karena wanita itu akan duduk di depan, tepatnya di samping Zack.
"Renata!" panggil Lee dengan cepat, membuat Renata langsung mengalihkan pandangannya.
"Ya, Tuan."
"Bisakah kamu duduk di belakang?"
Renata membulatkan matanya.
"Bukankah biasanya saya duduk di samping Asisten Zack?"
"Kepalaku sedikit pusing."
Lalu? Kamu mau memintaku apa?
Kening Renata mengernyit, seolah bertanya apa yang harus saya lakukan? Jangan main tebak-tebakan!
"Aku ingin meminta bantuanmu untuk memijatnya," sambung Lee dengan sedikit ragu. Karena itu semua hanya alibinya, agar bisa berdekatan dengan Renata.
Renata sedikit kikuk, tetapi menolak pun rasanya tidak bisa. Apalagi saat melihat wajah Lee yang memang tampak lesu. Akhirnya mau tidak mau dia pun pasrah, Renata beralih untuk duduk di kursi belakang bersama Lee. Namun, ketika mereka sama-sama masuk, ada sedikit kecanggungan, yang membuat mereka akhirnya terdiam.
"Euuu, katanya Tuan ingin saya pijit?" tanya Renata lebih dulu. Membuat Lee langsung tersadar dari lamunannya. Entah kenapa, suasana di sekitar mereka jadi awkward sekali.
"Ah, iya benar. Kepala pusing akhir-akhir ini." Secara tidak sadar, Lee menjatuhkan kepalanya di bahu Renata, membuat wanita itu langsung menahan nafas. Dengan ragu Renata menggerakan tangan, lalu menyentuh kening Lee dan mulai memijat pelan-pelan.
Sementara di depan sana, Zack hanya mampu memperhatikan dalam diam.
"Tuan, tidak minum obat?" tanya Renata sambil merasakan aroma maskulin dari tubuh Lee, dan rasanya masih tetap sama, Renata masih begitu hafal dengan ini semua.
"Aku tidak suka obat. Karena beberapa sakit yang aku derita, bukan obat maupun dokter penyembuhnya."
"Maksudnya?"
"Lupakan, pijat saja. Aku ingin tidur sebentar."
Akhirnya Renata berhenti bertanya. Dia terus memijat kepala Lee, sambil sesekali memperhatikan wajah pria itu dari samping. Dia tidak tahu, jika apa yang dia lakukan tertangkap jelas oleh kedua mata Zack.
Tatapan itu benar-benar miliknya.