
Setelah menghabiskan makan siang. Mereka memilih untuk beristirahat terlebih dahulu. Semua orang tidur di kasur masing-masing, kecuali Renata.
Wanita itu sedari tadi hanya bergeming didekat jendela sambil bermain ponsel. Dia sudah lama tidak menghubungi Ralia maupun Arshlan, jadi dia memutuskan untuk mengirim pesan pada salah satu orang itu.
Renata sedikit terkejut ketika Ralia mengatakan bahwa dia berpacaran dengan Arshlan, hingga bola matanya hampir saja lompat keluar.
"Astaga, dia sungguh-sungguh memiliki hubungan dengan Arshlan? Kenapa baru memberitahu aku sekarang?" gumam Renata dengan perasaan yang berbunga. Dia ikut merasa senang, karena dia tahu Arshlan adalah pria yang baik.
[Kamu beruntung mendapatkannya, Dek. Jaga hubungan kalian dengan baik ya. Kakak yakin, Arshlan adalah pria yang cocok untukmu. Dia dewasa dan juga perhatian. Semoga hubungan kalian langgeng.]
Ketik Renata dalam sebuah pesan, dia senantiasa mengulum senyum. Tanpa tahu bahwa sedari tadi seseorang yang ada di ujung sana memperhatikan gerak-geriknya.
Siapa Arshlan? Dan ada hubungan apa dengan Renata? Batin Lee, dia berpura-pura tidur. Karena ingin mengawasi pergerakan Renata, dan entah siapa yang sedang dihubungi oleh wanita itu, dia merasa semua itu ada kaitannya dengan masa lalu Renata.
"Mereka benar-benar serasi, dan aku yakin Arshlan bisa menjaga Ralia dengan baik," gumam Renata lagi, sementara di kota seberang Ralia hanya bisa tersenyum getir.
Karena meskipun Arshlan sangat mencintainya. Kedua orang tua pria itu masih menentang hubungan mereka. Dia bingung dan tak tahu harus bagaimana, apakah bertahan atau justru mengakhiri hubungan yang baru seumur jagung ini.
"Aku takut nasibku sama sepertimu, Kak. Aku takut dibuang," lirih Ralia sambil terduduk lemas di sisi ranjang. Dia sadar betul bagaimana kasta di antara mereka berdua. Namun, benarkah si miskin tidak berhak mencintai si kaya?
"Jika akhirnya aku tidak dapat diterima. Aku akan memilih pergi, aku akan membiarkan dia bersanding dengan seseorang yang memang pantas berada di sampingnya," ucap Ralia dengan perasaan tak terbendung. Dadanya sesak, tetapi mau mengelak seperti apapun dia tidak bisa. Dia dan Arshlan berbeda.
Hingga tak terasa sore mulai menyapa. Matahari kian condong ke arah barat, membuat panas tak terasa begitu menyengat.
"Kak, kita mau ke mana?" tanya Shasha ketika Gio menarik lengannya untuk menyusuri beberapa sudut di penginapan.
"Katamu ingin berenang."
"Tapi kita tidak memakai baju berenang."
"Haish, kamu ini bagaimana? Katanya ingin Ibu dan Daddy kembali bersatu. Sudahlah ikuti saja," kata Gio, dia melirik ke arah Renata yang sedang menyiapkan barbeque untuk nanti malam.
Penginapan itu dilapisi kaca tembus pandang, jadi kegiatan di dalam terlihat keluar begitupun sebaliknya. Sementara itu Lee sedang menelpon seseorang, dia selalu terngiang-ngiang dengan nama Arshlan, sehingga dia mengutus anak buahnya untuk mencari tahu siapa pria itu.
"Aku akan kirim nomor teleponnya, setelah aku pulang dari liburan, pekerjaan kalian harus sudah selesai!" tegas Lee, dia bisa mendapatkan nomor telepon Arshlan, karena diam-diam mengambil ponsel Renata, beruntung ponsel tersebut tidak dikunci sama sekali oleh pemiliknya.
"Kami akan mengusahakannya, Tuan."
"Baik, Tuan."
Baru saja Lee memutus panggilan dengan anak buahnya. Suara teriakan Shasha membuat dia dan Renata sangat terkejut.
"Daddy, Kak Gio tenggelam!"
Tanpa ba bi bu Lee langsung berlari ke arah kolam renang. Begitu pun juga dengan Renata, karena panik kedua orang itu langsung menceburkan diri ke dalam kolam, di mana Gio sedang berusaha untuk naik ke permukaan.
Namun, ketika keduanya hendak menangkap tubuh Gio, bocah tampan itu malah meloloskan diri hingga berujung Lee dan Renata merengkuh tubuh satu sama lain.
Gio berenang ke permukaan dengan senyumnya yang merekah. Sementara dua orang itu dibuat bingung hingga sama-sama melebarkan mata.
"Kak Gio?" panggil Shasha dengan wajah pura-pura terkejut. "Kak Gio, tidak apa-apa?"
Suara riak air langsung mendominasi ketika Lee dan Renata muncul ke permukaan. Tanpa mereka sadari kedua pasang tangan itu masih berada di pinggang satu sama lain.
"Tentu saja aku tidak apa-apa, aku kan bisa berenang. Kamu ini buat orang terkejut saja!" kata Gio memprotes, yang membuat Lee dan Renata melongo.
Mereka sudah khawatir setengah mati, namun ternyata bocah tampan ini bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Bahkan saking khawatirnya Lee lupa kalau Gio sudah pandai berenang sejak bayi.
"Oh astaga, Gio, Shasha. Kalian membuat Daddy takut sekali," ucap pria itu, yang langsung mendapat sambutan helaan nafas Renata.
"Benar, kalian membuat saya takut," timpal Renata dengan raut wajah yang sudah tak tergambar jelas.
"Maafkan aku Kakak Cantik, Daddy. Aku reflek karena terkejut Kak Gio masuk ke dalam kolam," ucap Shasha dengan wajah memelas.
"Sudahlah lupakan saja. Lebih baik, kita lanjut berenang. Lagi pula Aunty Re dan Daddy juga sudah basah," balas Gio sambil melirik ke kedua orang tuanya.
Lee dan Renata pun saling pandang. Menyadari posisi mereka yang cukup intiim, Renata langsung mendorong dada Lee, tapi mereka malah semakin rapat karena Lee menarik pinggang Renata.
"Tuan, apa yang anda lakukan?" tanya Renata dengan suara yang nyaris berbisik.
"Maaf, Re. Aku juga reflek seperti Shasha," balas Lee yang membuat Renata menatap tak percaya.
Haha, suara tawa di kolam renang terdengar keras saat keempatnya bermain air bersama. Bahkan tanpa sadar Renata lupa, bahwa Lee adalah orang yang memisahkan dia dengan si kembar.