
Di sisi lain Renata baru saja keluar dari kelas setelah menyelesaikan mata kuliahnya. Dia langsung pergi ke parkiran, karena ingin segera pulang ke apartemen.
Dia tidak tahu jika gerak-geriknya sedang diawasi oleh seseorang. Seorang wanita yang merasa geram, karena merasa kehadiran Renata telah menghancurkan segala rencananya.
"Kurang ajar! Bahkan Lee membelikan dia mobil semahal itu," gerutu Sofia dengan menggeram kesal. Dia sangat yakin bahwa Lee memiliki perasaan lain pada sekretaris barunya itu. Mobil itu adalah bukti nyata, adanya hubungan khusus di antara mereka berdua.
Sofia sama sekali tidak berpikir bahwa Renata adalah ibu si kembar, karena dia pernah mendapati foto Alicia dalam bentuk wajah yang berbeda.
"Aku akan memberi pelajaran untuknya, karena sudah berani mengusik ketenanganku, apalagi dia sangat berani! Cih, aku ingin lihat apa yang bisa kamu lakukan ketika tidak ada Lee di sisimu!" kata Sofia lagi seraya menjalankan mesin mobil.
Dia berniat untuk mengikuti Renata dari belakang, dan melakukan sesuatu terhadap wanita itu. Sementara Renata yang mulai menyadari kalau dia sedang dibuntuti, segera menambah kecepatan, hingga akhirnya mereka berkejaran di jalan raya.
"Siapa dia?" tanya Renata, karena dia mulai merasa tak tenang. "Apa yang dia inginkan dariku?"
Nafas Renata memburu dengan ketakutan yang mulai memenuhi batinnya. Dia begitu hafal dengan kerasnya kehidupan di ibu kota, jadi dia berpikir bahwa orang yang mengikutinya adalah sekelompok penjahat yang ingin mengambil harta benda miliknya.
"Bagaimana kalau orang itu menginginkan mobil ini? Yang ada aku disuruh ganti rugi! Hah, bukan itu poinnya Renata, yang harus kamu pikirkan adalah nyawamu sendiri!" gumam wanita itu dengan ketar-ketir.
Dia pun mengambil ponsel, berusaha untuk menghubungi siapa saja yang bisa dimintai bantuan. Meskipun nantinya tak ada yang menerima panggilannya, setidaknya dia telah membuat tanda.
Dan entah kenapa jari Renata malah memencet nomor Zack. Karena dia memang sempat menyimpan nomor pria itu.
"Haish, dia malah semakin cepat!" Renata bertambah semakin gusar, sementara panggilan itu belum terhubung.
Hingga tiba-tiba mobil Sofia menghadang mobil Renata, membuat Renata mengerem secara mendadak. Pada saat itu jantung Renata seperti ingin lepas, namun bersyukur ketika dia melihat ke depan, tidak ada apapun yang terjadi.
Dan dia malah melihat wanita yang begitu dia kenal, keluar dari mobil itu.
"Sofia? Untuk apa dia mengejarku sampai sejauh ini, apa dia sudah gila?" kata Renata dengan perasaan kesal. Akhirnya dia pun keluar, dan mengabaikan ponselnya yang terjatuh.
Melihat wajah Renata, Sofia pun langsung mengeratkan gigi depannya. Dada wanita itu bergemuruh, rasanya ingin segera merusak tampang Renata yang berpura-pura lugu.
Kini dua wanita itu saling berhadapan. Renata tidak mengerti kenapa Sofia bisa berada di sini? Bukankah keluarga Lee sedang mengadakan acara makan malam?
"Apa maksud anda melakukan ini semua, Nyonya?" tanya Renata tanpa berbasa-basi, tak peduli meskipun Sofia adalah istri Lee.
Namun, bukannya menjawab Sofia justru mendorong tubuh Renata dengan cepat, lalu melayangkan tamparan.
Plak!
Renata memegangi pipinya yang terasa kebas. Dia benar-benar tak paham apa yang membuat Sofia mengamuk padanya. Namun, karena Renata juga menjunjung harga dirinya, dia pun segera menegakkan badan.
"Tolong bicara yang jelas, karena saya tidak merasa memiliki masalah dengan anda!"
"Masih mau mengeles juga kamu? Aku yakin, kamu menggoda Lee lebih dulu, karena itu kamu mendapatkan mobil ini! Dasar wanita rendahan, tidak tahu malu. Sayang sekali, Gio dan Shasha tertipu dengan wajahmu yang palsu itu!" cerca Sofia, mengeluarkan beberapa makian pada Renata.
Mendengar itu, Renata pun berdecih, Sofia pikir dia siapa, seenaknya mengatai rendahan. Jangan mentang-mentang dia bawahan Lee di kantor, wanita itu bisa seenaknya.
Dengan berani Renata pun melangkah ke arah Sofia, lalu membalas tamparan wanita itu.
Plak!
"Jangan anda pikir saya tidak berani! Kalau anda menampar saya, saya juga akan menampar anda. Jika anda mengatai saya rendahan, maka saya akan membalas dengan sesuatu yang sama. Awalnya saya berpikir bahwa anda adalah wanita berkelas, ternyata pemikiran saya nol besar!"
Mendapati perlakuan dan hinaan seperti itu, tentu membuat Sofia semakin kepanasan. Dia mengepalkan tangannya dan tak segan lagi untuk menyerang Renata, hingga membuat sudut bibir Renata robek dan mengeluarkan darah.
"Tutup mulut kotormu, atau aku akan merobeknya!" cetus Sofia dengan kilatan amarah.
Namun, Renata tak tinggal diam, dia terus menghalau serangan demi serangan Sofia. Hingga tiba-tiba beberapa security memisahkan mereka berdua.
"Hei, stop!!!"
Renata yang memimpin lantas mendorong tubuh Sofia ke aspal, dan membuat wanita itu tersungkur.
"Dia benar-benar sudah berani berurusan denganku!" geram Sofia dengan rahang yang mengeras. Dia hendak berdiri dan kembali memberi pelajaran pada Renata, namun beberapa orang menahannya.
"Nyonya, berhentilah membuat keributan! Kalian berdua ini seperti preman saja. Kalau ada masalah silahkan selesaikan di rumah bukan di jalan!" kata salah seorang dari mereka, membuat Sofia sangat muak. Karena malas akhirnya dia memilih untuk pergi.
"Ingatlah, aku akan membuat perhitungan denganmu!" kata Sofia sebelum masuk ke dalam mobilnya, kedua lutut wanita itu terluka dengan hak sepatu yang patah.
Sementara Renata hanya bisa bergeming. Dia tidak tahu kalau ada seorang pria yang tengah mengkhawatirkannya sekarang. Dia adalah Zack.
"Astaga, sebenarnya apa yang terjadi dengan Renata?"
***